Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Keadilan dan Keteladanan: Jalan Keluar dari Kesenjangan Sosial

Dr. H. AM. Jumai, SE., MM

Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang (PDM), Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB)

Keadilan dan Keteladanan: Jalan Keluar dari Kesenjangan Sosial
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., Alumni Pondok Pesantren Daarul Abroor, penulis opini peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an surat Al-Quraisy ayat 3-4 bahwa dua anugerah terbesar bagi manusia adalah pangan untuk mengatasi lapar dan rasa aman untuk menghapus ketakutan. Kedua kebutuhan dasar ini adalah fondasi bagi sebuah peradaban yang kokoh. Tanpa keduanya, sebuah bangsa akan rentan, masyarakat bisa terpecah belah, dan keadilan sosial akan sulit terwujud.

Namun, hari ini kita menyaksikan realitas yang ironis. Di satu sisi, masih banyak masyarakat yang berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di sisi lain, media sosial dipenuhi dengan gaya hidup mewah yang dipertontonkan oleh sebagian kecil elite, tak jarang di antaranya adalah pejabat publik. Kontras yang tajam ini menciptakan luka sosial yang mendalam.

Kesenjangan yang Mencederai Keadilan

Data resmi menunjukkan bahwa jutaan warga Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, gaya hidup boros terus dipamerkan, bahkan oleh mereka yang gajinya dibayar dari keringat rakyat. Dalam ilmu sosiologi, jurang pemisah ini sangat berbahaya karena dapat memicu kecemburuan sosial, meningkatkan angka kriminalitas, bahkan mengancam stabilitas negara.

Islam telah jauh hari memberikan rambu-rambu untuk mengatasi masalah ini. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Zakat, infak, sedekah, dan wakaf adalah instrumen sosial-ekonomi yang dirancang untuk meredam kesenjangan dan memastikan distribusi kekayaan berjalan lebih adil.

Lebih dari itu, Islam menekankan bahwa kepemimpinan adalah amanah. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang pemimpin adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, pejabat yang menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri atau memamerkan kemewahan dari dana publik, sejatinya telah mengkhianati amanah rakyat dan nilai-nilai agama.

Solusi Jalan Tengah: Pemberdayaan dan Keteladanan

Lantas, bagaimana jalan keluar dari masalah ini? Solusinya tidak hanya sebatas bantuan karitatif, tetapi membutuhkan pembangunan sistem ekonomi yang berkeadilan.

Pertama, pemberdayaan ekonomi umat. Pemerintah perlu memprioritaskan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), koperasi, serta akses modal yang adil. UMKM terbukti menjadi tulang punggung perekonomian, namun sering kali dibiarkan berjuang sendiri tanpa perlindungan dan dukungan yang memadai.

Kedua, optimalisasi zakat dan wakaf produktif. Dana umat ini harus dikelola dengan bijak. Jangan hanya berhenti pada konsumsi sesaat, tetapi diarahkan untuk membangun sektor pendidikan, kesehatan, dan menciptakan lapangan kerja baru.

Ketiga, penguatan jaminan sosial yang tepat sasaran. Pastikan bantuan sosial dan subsidi benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, bukan bocor di tengah jalan.

Yang paling krusial, keteladanan pemimpin. Pemimpin yang bijak adalah mereka yang hidup sederhana, transparan dalam mengelola keuangan negara, dan berani memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Hanya dengan kepemimpinan yang berintegritas dan amanah, masyarakat akan merasakan rasa aman dan kembali percaya pada negara.

Pada akhirnya, kelaparan dan ketakutan adalah masalah fundamental yang tidak boleh diabaikan. Jika dibiarkan, kesenjangan akan memicu ledakan sosial. Islam telah memberikan petunjuk, ilmu pengetahuan pun telah menyediakan analisis. Kini, yang kita butuhkan adalah keberanian politik dan integritas moral dari semua pihak.

Sudah saatnya kita kembali pada nilai-nilai dasar: keadilan, kesederhanaan, dan solidaritas. Sebab, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang memiliki segelintir orang super kaya, melainkan bangsa yang seluruh warganya hidup sejahtera dan merasa aman.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: