Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Keutamaan Al-Qur’an: Menjadikannya Sebagai Ideologi dan Pedoman Hidup (Bagian 1)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Keutamaan Al-Qur’an: Menjadikannya Sebagai Ideologi dan Pedoman Hidup (Bagian 1)
Wujud nyata pemahaman keutamaan Al-Qur'an dalam menginspirasi dan menggerakkan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan dan pendidikan. (Ilustrasi: AI)

Membaca kitab suci dengan tartil dan suara merdu merupakan amalan yang sangat mulia. Namun, kita juga wajib menggali keutamaan Al-Qur’an dengan menjadikannya sebagai pedoman hidup dan ideologi nyata sehari-hari.

Kitab suci ini memandu langkah kaum mukminin secara utuh untuk meraih keselamatan. Oleh karena itu, umat Islam harus menyelaraskan seluruh perbuatannya dengan firman Allah tersebut.

Sebagai bagian perdana dari sekuel tulisan yang membahas mendalam tentang keutamaan Al-Qur’an, artikel ini memfokuskan kajian pada esensi penerapan kitab suci di dunia nyata. Kita akan membedah bagaimana nilai-nilai luhur Islam ini wajib bertransformasi menjadi fondasi pergerakan dan ideologi kehidupan umat setiap hari.

Menjaga Istiqamah dalam Ajaran Islam

Kitab suci memegang peranan penting sebagai fondasi utama bagi umat dalam membangun keyakinan dan budaya sosial. Sejalan dengan hal itu, kita perlu memadukannya dengan hadis Nabi yang sahih sebagai rujukan perilaku. Mengenai pentingnya konsistensi beragama demi meraih syafaat dan keutamaan Al-Qur’an, Rasulullah memberikan pesan tegas:

قَال يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا فَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيد

“Dia berkata, “Wahai ahli Alquran, bersikap istiqamahlah kalian, dengan demikian kalian telah menjadi pemenang yang jauh, sebaliknya jika kalian oleng kanan dan kiri, kalian telah sesat sesesat-sesatnya” (HR. Bukhari, 6739).

Konsisten dalam beragama berarti kita gemar membaca dan memahami pesan mendalam kitab suci tersebut. Lebih lanjut, kita wajib menggali inspirasi penting dari setiap ayat untuk menjawab tantangan zaman. Kita juga memikul tanggung jawab besar untuk melaksanakan ajaran itu secara nyata di lapangan.

Pada akhirnya, komitmen ini bermakna ketaatan penuh kita kepada Allah dan utusan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal: ayat 20 dan 46: athī’ûllâha waathī’û rasûl (taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada utusannya).

Transformasi Nilai Menjadi Gerakan Nyata

Penerapan ajaran suci tampak sangat jelas saat kita mengkaji Surah Al-Ikhlas dalam bermasyarakat. Setelah meresapi maknanya, seorang Muslim pasti bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Muslim sejati menolak tradisi mencari keberkahan dari kuburan atau orang yang sudah tiada.

Selain itu, mereka menjauhi segala macam jimat yang erat kaitannya dengan sihir dan tipu daya setan. Sikap tauhid yang kuat ini kemudian melahirkan semangat saling menolong antar sesama manusia (QS Al-Maidah: 2).

Contoh keteladanan lainnya terpancar dari pengamalan Surah Al-Ma’un di tengah masyarakat. Umat mendalami surah ini dan mewujudkannya dengan gemar menyantuni anak yatim serta fakir miskin.

Praktik sosial ini mampu memotivasi orang lain untuk ikut bergerak memberikan bantuan serupa. Kepedulian tersebut melahirkan gerakan nyata, seperti penggalangan dana kemanusiaan untuk Palestina atau korban bencana alam.

Organisasi Muhammadiyah telah sukses mentransformasikan pesan pedoman hidup ini menjadi amal usaha modern. Gerakan tersebut mendirikan ribuan lembaga pendidikan unggulan dan panti asuhan tanpa lelah. Pengelolaan lembaga kemanusiaan ini harus terus berjalan lurus sesuai rel ajaran agama.

Jika seseorang menyelewengkannya demi keuntungan pribadi, ia telah melakukan pelanggaran berat. Terkait ancaman perbuatan buruk tersebut, Nabi Muhammad bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أرَاكٍ

“Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan neraka untuknya, dan mengharamkan surga atasnya.” Seorang bertanya, “Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sepele?” Beliau menjawab: “Meskipun hanya ranting kayu siwak.” (HR Muslim: 197, Nasai: 5324, Ahmad: 21210).

Sebagai penutup, persyarikatan kita dikenal sebagai organisasi modern berkat komitmen kuat pada nilai agama. Mari jadikan ajaran Al-Qur’an sebagai ideologi kehidupan secara terus-menerus. Kita wajib mengamalkannya sepenuh hati agar selamat di dunia dan akhirat kelak.

Baca juga:

Keutamaan Al-Qur’an: Syafaat Penolong Sejati dan Ladang Pahala di Hari Kiamat (Bagian 2)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: