Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

May Day dan Islam

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

May Day dan Islam
Budayawan dan penulis Gunoto Saparie memberikan catatan reflektif terkait pencapaian kafilah Jawa Tengah yang berhasil meraih peringkat kedua pada ajang MTQ Nasional XXXI di Semarang. (Foto: Dok. Istimewa)

Ada sesuatu yang selalu terdengar nyaring tiap tanggal 1 Mei: suara langkah. Suara langkah ribuan orang di jalan raya. Membawa spanduk dan tuntutan, mereka menyuarakan harapan yang kadang sesederhana sepotong roti di meja makan. Kita Kita menyebutnya Hari Buruh Internasional. Atau May Day.

Sebuah hari yang lahir dari sejarah panjang tentang manusia yang menolak dijadikan mesin. Sebuah hari yang lahir dari pekik para pekerja di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886—ketika mereka menuntut satu hal yang kini terdengar biasa: delapan jam kerja sehari.

Delapan jam.

Hari ini, angka itu seperti angka matematika. Dingin. Rasional. Final. Tetapi pada abad ke-19, angka itu adalah darah. Ia lahir dari demonstrasi, bentrokan, peluru, dan kematian. Dari Haymarket Affair yang menjadikan buruh bukan sekadar tenaga, melainkan tubuh yang bisa luka dan suara yang bisa dibungkam.

Sejarah sering bergerak dari luka. Dan tiap luka, diam-diam, menyisakan doa.

Di Indonesia, May Day telah menjadi bagian dari kalender resmi negara. Ia ditetapkan sebagai libur nasional lewat Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013. Negara, setidaknya di atas kertas, mengakui bahwa ada satu hari untuk mendengar suara orang-orang yang bekerja. Tahun 2026, aksi-aksi buruh kembali dijadwalkan di sekitar Monas: dengan tuntutan upah layak, perlindungan kerja, jaminan kesehatan, dan kepastian masa depan.

Tetapi, pertanyaan yang lebih tua dari sekadar tuntutan ekonomi adalah ini: apa arti kerja dalam pandangan Islam? Islam, agaknya, memandang kerja bukan sekadar transaksi. Kerja adalah ibadah.

Dalam Al-Qur’an, kita menemukan ayat yang terasa sederhana tetapi mengguncang: “Wa qul i’malû fasayarallâhu ‘amalakum…”—“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS At-Taubah: 105).

Ayat ini bukan slogan motivasi di dinding kantor. Ia adalah pengakuan metafisik bahwa kerja manusia disaksikan. Oleh Tuhan.

Di sini, kerja tak lagi sekadar relasi antara buruh dan majikan. Ia menjadi relasi tiga arah: manusia, sesama manusia, dan Allah. Maka, upah bukan sekadar nominal; ia juga amanah. Jam kerja bukan sekadar kontrak; ia juga keadilan.

Nabi Muhammad saw. bahkan mengingatkan dengan bahasa yang sangat konkret: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.” Sebuah kalimat yang terasa sangat modern.

Di tengah zaman ketika gaji bisa telat berbulan-bulan, pesangon bisa dinegosiasikan seperti barang bekas, dan tenaga outsourcing bisa dipakai tanpa kepastian nasib, hadis itu seperti cambuk moral.

Sebelum keringatnya kering. Bukan sebelum audit selesai. Bukan sebelum laporan tahunan keluar. Bukan sebelum pemegang saham tersenyum.

Islam menempatkan martabat pekerja di tempat yang tinggi. Dalam tradisi fikih, kezaliman terhadap pekerja termasuk bagian dari ẓulm—ketidakadilan yang diharamkan. Bahkan dalam hadis qudsi, Allah berfirman bahwa salah satu golongan yang akan dimusuhi-Nya pada Hari Kiamat adalah orang yang mempekerjakan pekerja, lalu tidak membayar upahnya.

Begitu keras. Karena yang dicuri bukan hanya uang. Yang dicuri adalah waktu hidup seseorang. Yang dicuri adalah susu anaknya. Yang dicuri adalah beras di dapurnya.

Maka, May Day menurut Islam, tidak berhenti sebagai ritual demonstrasi. Ia adalah momen muhasabah. Sebuah kesempatan untuk bertanya: sudahkah kita adil?

Sudahkah negara adil kepada pekerja? Sudahkah pengusaha adil kepada buruh? Sudahkah buruh adil kepada pekerjaannya?

Islam tidak memusuhi pengusaha. Tidak juga memuliakan kemiskinan. Islam menghargai perdagangan; Nabi sendiri seorang pedagang. Tetapi, Islam memagari kekayaan dengan etika. Dalam Islam, keuntungan sah, asal tidak lahir dari eksploitasi.

Ada perbedaan antara laba dan rakus. Ada perbedaan antara efisiensi dan penindasan. Ada perbedaan antara manajemen dan pemerasan.

Dalam masyarakat modern, buruh sering kalah bukan karena malas, melainkan karena struktur. Ada sistem upah murah, kontrak yang rapuh, jaminan sosial yang bolong, dan pasar tenaga kerja yang dingin. Buruh berhadapan dengan algoritma, pasar global, dan kebijakan yang sering tak punya wajah.

Islam datang membawa wajah. Wajah keadilan.

Konsep al-‘adl dalam Islam bukan sekadar “setara”, melainkan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Upah yang layak adalah keadilan. Lingkungan kerja yang aman adalah keadilan. Jam kerja manusiawi adalah keadilan. Kesempatan beribadah di sela kerja adalah keadilan.

Dan di negeri seperti Indonesia, yang dibangun oleh gotong royong, Hari Buruh semestinya tak hanya diisi dengan orasi dan pengeras suara. Tahun 2026, pemerintah mendorong dialog, gotong royong, dan penyampaian aspirasi yang tertib. Ini baik. Sebab kadang bangsa ini terlalu sering berteriak tanpa mendengar.

Dialog adalah bagian dari hikmah. Tetapi, dialog tanpa perubahan hanyalah sopan santun yang melelahkan.

Karena itu, May Day menurut Islam harus melahirkan kebijakan. Bukan hanya panggung. Bukan hanya baliho. Bukan hanya pidato.

Di dalam Islam, pemimpin adalah ra’in—penggembala. Ia bertanggung jawab atas yang digembalakannya. Negara tak boleh menjadi penonton ketika buruh diperas. Negara harus hadir sebagai penimbang yang adil: melindungi pekerja tanpa membunuh usaha; menjaga investasi tanpa mengorbankan manusia.

Sebab buruh bukan angka statistik. Ia pulang sore hari dengan wajah lelah. Ia duduk di lantai rumah kontrakan. Ia membuka bungkus nasi. Ia mencium anaknya. Ia salat Magrib dengan tubuh yang pegal. Dan esok ia harus bekerja lagi.

Mungkin, di situlah inti kerja dalam Islam: ikhtiar yang tak putus. Kerja adalah jihad kecil sehari-hari. Menafkahi keluarga adalah ibadah. Mencari yang halal adalah kemuliaan. Dan memperjuangkan keadilan adalah bagian dari amar makruf.

Maka, pada setiap 1 Mei, ketika jalan-jalan dipenuhi suara tuntutan, kita sebenarnya sedang mendengar sesuatu yang lebih purba: suara manusia yang ingin dihargai. Bukan dimuliakan berlebihan. Hanya dihargai. Dengan upah yang cukup. Dengan kerja yang manusiawi. Dengan perlindungan yang nyata. Dengan masa depan yang tidak gelap.

Barangkali, di antara spanduk-spanduk itu, ada doa yang tak tertulis. Doa seorang ayah agar anaknya tetap sekolah. Doa seorang ibu agar dapurnya tetap mengepul. Doa seorang pekerja agar tubuhnya tak roboh sebelum tua.

May Day adalah sejarah. May Day adalah politik. May Day adalah ekonomi.

Tetapi May Day menurut Islam juga adalah akhlak. Tentang keadilan yang harus ditegakkan. Tentang amanah yang harus dijaga. Tentang manusia yang tak boleh diperlakukan sekadar alat produksi.

Sebab setiap kerja adalah doa yang menjelma gerak. Dan setiap keringat, bila jatuh di jalan yang halal, mungkin lebih suci daripada pidato panjang di atas panggung.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: