Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 5 menit baca

Mengapa Mengingat Kematian Jadi Puncak Kecerdasan Mukmin? Ini Alasannya

Dr. Aang Kunaepi, M.Ag

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo

Mengapa Mengingat Kematian Jadi Puncak Kecerdasan Mukmin? Ini Alasannya
Ilustrasi aktivitas berzikir dan membaca Al-Qur'an sebagai wujud mengingat kematian (dzikrul maut) guna mempersiapkan bekal akhirat.

Kehidupan modern saat ini terus memacu kita untuk mengejar kesuksesan duniawi secara instan. Akibatnya, kita sering mengabaikan satu kecerdasan yang sangat fundamental bagi seorang hamba. Kecerdasan tersebut adalah kemampuan mengingat kematian atau dzikrul maut. Padahal, mengingat kematian terbukti menjadi puncak kecerdasan mukmin yang sesungguhnya.

Praktik ini sama sekali tidak menyuruh kita untuk meninggalkan urusan duniawi lalu bersikap pesimis. Sebaliknya, mengingat kematian justru mendidik hati kita secara mendalam. Kita tidak akan mudah menjadi budak harta, takhta, maupun popularitas semu belaka.

Kepastian tentang akhir kehidupan ini sangat jelas tertulis dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.” (QS. Ali Imran [3]: 185, kutipan awal ayat).

Ayat tersebut menegaskan bahwa dunia sekadar tempat menyinggah untuk menanam amal kebaikan. Jabatan setinggi apa pun maupun kekayaan melimpah tidak bisa menunda datangnya batas usia kita. Selanjutnya, Allah Swt. juga menambahkan pesan ini melalui firman-Nya:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Ayat ini secara tajam menyoroti kualitas amal kita, bukan sekadar melihat kuantitasnya. Tentu saja, kualitas amal selalu meliputi niat lurus, cara mencari rezeki yang halal, serta kemanfaatan nyata bagi sesama.

Hakikat Kecerdasan Sejati

Rasulullah saw. selalu mengajarkan standar kecerdasan yang melampaui rentetan pencapaian akademik. Beliau bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ, فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِي ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلَّا وَسَّعَهُ عَلَيْهِ, وَلَا ذَكَرَهُ فِي سَعَةٍ إِلَّا ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.” (HR Ibnu Hibban, al-Nasai).

Pesan nabi ini memandu kita untuk selalu menata ulang prioritas hidup. Kita tentu bebas menikmati hasil kerja keras setiap hari. Namun, kita jangan sampai melanggar hak orang lain demi meraih ambisi pribadi. Selain itu, Nabi saw. juga menegaskan ciri orang cerdas melalui hadis berikut:

الْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2459).

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik. (HR Ibnu Majah, no. 4.259).

Rangkaian hadis tersebut mengunci makna kecerdasan hakiki secara sempurna. Orang cerdas selalu mengevaluasi cara ia mendapat rezeki setiap hari. Lebih dari itu, ia juga selalu memikirkan cara mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan pengadilan Allah Swt.

Membangun Akhlak Mulia di Era Digital

Praktik mengingat kematian sangat relevan untuk membangun akhlak mulia masyarakat masa kini. Metode spiritual ini bekerja secara efektif melalui tiga cara utama. Pertama, kebiasaan ini menumbuhkan kerendahan hati dengan meredam sifat sombong maupun iri dengki.

Kedua, kesadaran ini memperkuat kemampuan kita dalam mengendalikan emosi diri. Sebagai contoh, orang yang meyakini hari akhir pasti berhati-hati sebelum mengetik komentar buruk atau menyebar berita palsu. Perilaku ini sangat ampuh untuk mencegah maraknya perundungan siber maupun fitnah di dunia maya.

Ketiga, dzikrul maut terbukti mampu memicu kepedulian sosial yang jauh lebih luas. Kesadaran akan singkatnya umur mendorong kita untuk lebih banyak bersedekah, mendidik generasi muda, dan membantu kaum lemah. Sebagai hasilnya, langkah ini langsung menjadi investasi amal dan bekal akhirat yang pahalanya mengalir abadi.

Oleh karena itu, mengingat kematian sukses merangkai kecerdasan pikiran menuju puncak kebijaksanaan moral. Kehebatan gawai masa kini wajib kita imbangi dengan tajamnya kepekaan nurani. Kesimpulannya, mukmin yang cerdas selalu menyelaraskan kerja keras duniawi dengan persiapan bekal akhirat secara optimal.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: