Amanah, sebuah kata yang sering kita dengar, sejatinya merupakan dambaan setiap umat manusia. Dengan memegang teguh amanah, sebuah tatanan masyarakat dapat mencapai keamanan, ketenteraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Namun, di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kita sering menyaksikan kesenjangan antara idealisme (das sein) dan realitas (das solen). Amanah, yang seharusnya menjadi landasan bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab, baik itu pemimpin, pejabat, hingga individu dalam urusan sehari-hari, kini terasa semakin langka.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, amanah kerap kali berhadapan dengan praktik-praktik seperti korupsi, penggelapan, penggelembungan dana, pemotongan anggaran, dan penyalahgunaan wewenang. Ketika suatu negara tercoreng oleh praktik-praktik koruptif, pada titik itulah integritas dan amanah menjadi sebuah nilai yang sangat sulit ditemukan.
Ketika Amanah Menjadi Langka
Kelangkaan sifat amanah dapat memicu berbagai gejolak dan ketidakstabilan di mana-mana. Ibarat api dalam sekam, bibit-bibit masalah ini terus membara di bawah permukaan, siap meledak kapan saja. Gejolak ini, meskipun mungkin coba ditekan, akan tetap berkobar dan melahap apa saja yang dilewatinya.
Kerusakan fasilitas umum, konflik sosial, hingga tindakan kekerasan dapat menjadi dampak nyata dari ketiadaan amanah. Pada titik ini, tatanan masyarakat dapat menuju kekacauan serius.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita, bahkan dalam kalangan ulama pun ada yang kehilangan amanah. Beliau bersabda:
حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَيْنِ رَأَيْتُ أَحَدَهُمَا وَأَنَا أَنْتَظِرُ الْآخَرَ حَدَّثَنَا أَنَّ الْأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِي جَذْرِ قُلُوبِ الرِّجَالِ ثُمَّ عَلِمُوا مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ عَلِمُوا مِنْ السُّنَّةِ وَحَدَّثَنَا عَنْ رَفْعِهَا قَالَ يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الْأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ أَثَرِ الْوَكْتِ ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ فَيَبْقَى أَثَرُهَا مِثْلَ الْمَجْلِ كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنَفِطَ فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًا وَلَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُونَ فَلَا يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ فَيُقَالُ إِنَّ فِي بَنِي فُلَانٍ رَجُلًا أَمِينًا وَيُقَالُ لِلرَّجُلِ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا أَظْرَفَهُ وَمَا أَجْلَدَهُ وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ وَلَقَدْ أَتَى عَلَيَّ زَمَانٌ وَمَا أُبَالِي أَيَّكُمْ بَايَعْتُ لَئِنْ كَانَ مُسْلِمًا رَدَّهُ عَلَيَّ الْإِسْلَامُ وَإِنْ كَانَ نَصْرَانِيًّا رَدَّهُ عَلَيَّ سَاعِيهِ فَأَمَّا الْيَوْمَ فَمَا كُنْتُ أُبَايِعُ إِلَّا فُلَانًا وَفُلَانًا
Artinya: Rasulullah ﷺ menceritakan kepada kami dua kejadian. Satunya betul-betul telah kulihat, dan satunya masih kutunggu-tunggu. Beliau menceritakan kepada kami, “Di awal mula amanah diturunkan dalam relung hati para hamba, kemudian mereka tahu Al-Qur’an dan tahu Sunnah.” Beliau menceritakan kepada kami tentang diangkatnya amanah. Beliau bersabda, “Seseorang tidur nyenyak dan amanah dicabut dari hatinya sehingga bekasnya bagaikan bekas perjalanan. Dia tidur nyenyak, amanah dicabut kembali dan bekasnya bagaikan kutu di tangan, seperti bara api yang digelindingkan di kakimu sehingga nampak memar (beram-beram) dan kau lihat nampak memar (beram-beram) padahal sebenarnya tidak mengapa. Kontan manusia berbondong-bondong berbaiat, dan nyaris tak seorang pun menunaikan amanah. Selanjutnya ada berita: ‘Di Bani Fulan bin Fulan ada laki-laki terpercaya’. Dikatakan kepada laki-laki tadi; ‘Alangkah bijaknya dia, alangkah cerdasnya dia, alangkah pemberaninya dia,’ padahal sama sekali tak ada setitik iman pun dalam hatinya. Telah berlalu suatu masa bagiku yang aku tidak peduli siapa di antara kalian yang berbaiat, sebab jikalau ia muslim, kemuslimannya menuntunnya kepadaku, dan jikalau ia nashrani, pemungut pajaknya akan menuntunnya kepadaku, adapun hari ini, aku tidak membai’at selain si ‘fulan’ dan fulan.” (HR. Bukhari: 6016).
Hadis ini menggambarkan kondisi di mana seseorang, termasuk ulama, bisa saja tampak karismatik dan berilmu di mata manusia, namun sejatinya kosong dari iman karena telah kehilangan amanah. Frasa “doyan tidur” dalam hadis ini adalah kiasan untuk sikap lalai, abai, dan tidak peduli terhadap tanggung jawab amanah yang diemban, bukan berarti tidur secara harfiah.
Ulama tipe demikian ini biasanya penjilat kekuasaan, orientasinya amplop, menciptakan berbagai ritual dengan bungkus amalan keutamaan. Ia kerap kali membangun opini yang kedengarannya indah, sinergitas antara ‘ulama’ wal umara’, namun sebenarnya hanya menutupi kecurangan penguasa demi kenyamanan mereka sendiri. Penguasa sangat nyaman mengenai keberadaan ulama’ ini karena tidak ‘mengganggu’ sepak terjang keculasan mereka.
Secara ideologis, ulama yang menjadi oportunis dan mendukung kemungkaran penguasa akan membawa dampak buruk yang sangat fatal. Di dunia, mereka menjauh dari jalan umat Rasulullah ﷺ, sebagaimana sabda beliau:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا Artinya: “Barangsiapa yang bersumpah dengan amanah, maka bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Dawud, 2831).
Dan di akhirat, nasib mereka sangatlah celaka. Sebagaimana sabda Rasulullah:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ Artinya: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tak bakalan mendapat bau surga.’” (HR. Bukhari: 6617).
Menjaga Amanah
Melihat realitas di mana pemimpin yang culas dan ulama yang tidak amanah masih marak di tengah masyarakat, seringkali membuat kita merasa bahwa ulama sejati yang memegang teguh amanah dapat dihitung dengan jari. Ironisnya, ulama-ulama yang jujur dan berani menegakkan kebenaran ini justru kerap terpinggirkan, bahkan seringkali dicap sebagai intoleran, radikal, atau teroris. Padahal, sesungguhnya ini adalah upaya mengalihkan perhatian dari kesalahan yang dilakukan oleh pihak yang menuduh.
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang mencerahkan dan modern, memiliki peran yang sangat vital dalam mengembalikan marwah amanah. Sejak didirikan, Muhammadiyah telah berkomitmen untuk senantiasa menyerukan kebenaran, melawan kebatilan, dan membimbing umat menuju jalan yang lurus.
Bagi setiap kader Muhammadiyah, memegang teguh amanah adalah sebuah keniscayaan. Ini bukan hanya kewajiban personal, tetapi juga menjadi landasan bagi keberlangsungan dakwah dan kemajuan bangsa.
Mari kita bersama-sama merefleksikan diri, apakah kita telah menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya? Baik dalam peran kita sebagai individu, anggota keluarga, profesional, maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Dengan kembali memegang teguh amanah, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan diridhai Allah.