Kepergian tokoh besar selalu menyisakan duka, namun juga mewariskan inspirasi. Rosyad Shaleh, salah satu pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang baru saja berpulang, adalah sosok arsitek moral yang jejak pemikirannya tak lekang oleh waktu.
Sebagai bagian dari IMM, lembaga yang dibentuknya pada 14 Maret 1964 di Yogyakarta, saya merasakan betul betapa ideologi yang ia tanamkan masih relevan dan vital, bahkan di tengah dinamika kebangsaan hari ini. Artikel ini adalah upaya merenungkan kembali kontribusi Rosyad Shaleh dan bagaimana warisannya dapat memicu semangat juang kader IMM menghadapi tantangan masa depan.
Rosyad Shaleh dan Jejak Pengabdian pada Bangsa dan Agama
IMM pada mulanya dibentuk dalam situasi Indonesia yang mengalami dialektika pemikiran sangat dinamis. Tidak hanya secara politik nasional, melainkan juga sampai ke kampus-kampus yang menjadi basis perdebatan ideologi.
Dalam suasana inilah IMM lahir, bukan semata-mata sebagai organisasi kemahasiswaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengkaderan dan penanaman nilai-nilai keislaman yang tidak saja berbasis pada keagamaan, melainkan lebih dari itu untuk melakukan konsolidasi atas isu-isu kemanusiaan.
Adalah Rosyad Shaleh, salah satu tokoh sentral dalam berdirinya IMM, yang memainkan peran penting dalam mengonsolidasikan gagasan dan jejaring itu. Sebagai pendiri IMM, Rosyad Shaleh tidak hanya dikenang karena kontribusinya pada ranah struktural organisasi, tetapi juga sebagai model teladan dalam mengawal gerakan intelektual dan praksis sosial keumatan.
Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyebut Rosyad Shaleh sebagai “arsitek moral gerakan mahasiswa Muhammadiyah” yang membangun IMM dengan semangat keberanian dan keikhlasan. Nashir juga menyebut Rosyad sebagai figur yang tidak mencari panggung, tetapi justru membangun panggung bagi orang lain agar tampil membela kepentingan umat dan bangsa.
Tokoh-tokoh senior IMM lainnya juga mengenang Rosyad sebagai figur yang hidup bersahaja, namun penuh pemikiran. Ia jarang tampil di depan publik, tetapi pikirannya melampaui zamannya.
Sebuah kutipan, menurut saya, menarik untuk kita jadikan landasan berorganisasi, ber-IMM, ber-Muhammadiyah, ber-Islam, dan juga dalam aktivitas kebangsaan: “Bekerjalah untuk mencari ridha Allah.” Pesan itu pernah ia sampaikan kepada rekannya di Departemen Agama.
IMM: Berfondasi Keagamaan dengan Misi Kebangsaan
Sejak kelahirannya, IMM telah menempatkan dirinya sebagai gerakan mahasiswa Islam yang peduli dan merespon cepat persoalan bangsa. IMM memiliki basis moral dan intelektual kokoh untuk turut serta dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan, mulai dari ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, hingga politik yang kerap kehilangan arah etik. Tagline-nya yang terkenal, “Cendekiawan Berpribadi”, merujuk pada anak muda yang tidak disibukkan dengan persoalan personal, melainkan keumatan dan kebangsaan.
Dalam konteks kebangsaan saat ini, tantangan bagi IMM tidak ringan. Politik kekinian yang semakin terpolarisasi, di saat yang sama masyarakat kesulitan mendapat asupan informasi ‘bergizi’, sehingga masyarakat kita butuh ruang gagasan untuk berbagi. Dengan demikian, IMM diharapkan hadir sebagai ruang konsolidasi intelektual yang jernih, berani menyuarakan suara akal sehat, serta menjadi jembatan dialog antar kelompok berbeda pandangan. IMM tidak mengambil posisi berjarak, dan juga tidak memihak pada kekuasaan atau capaian pragmatis semata.
Ke depan, IMM harus mampu menghidupkan kembali tradisi nalar publik berbasis etika Islam yang kontekstual dan solutif, berprinsip dengan menawarkan pemecahan masalah. IMM di kampus, misalnya, bisa menjadi mitra kritis dalam mendorong inklusivitas dan akses pendidikan tinggi.
IMM juga dapat menggagas gerakan kader hijau yang responsif terhadap krisis iklim. Terkait isu demokrasi dan HAM, IMM perlu memperkuat literasi politik kader agar tidak terjebak dalam politik identitas yang kontraproduktif.
Tak kalah penting, IMM harus terus mengarusutamakan keadilan sosial sebagai bagian dari jihad kebangsaan. Isu kemiskinan, ketimpangan gender, marginalisasi kelompok rentan, hingga isu-isu kekinian lingkungan harus menjadi bagian perjuangan IMM di tengah masyarakat.
Advokasi tidak lagi sebatas pengerahan massa, melainkan harus melibatkan kerja keras dan kerja cerdas yang lebih mendalam. Pemanfaatan kemajuan sains dan teknologi seyogianya menjadikan gerakan ini ‘scientific based’.
Apa yang telah dimulai dan diinspirasi oleh pikiran, ucapan, serta laku Rosyad Shaleh, akan terus mendorong IMM menjadi lebih progresif dan berdampak nyata. Dengan semangat keikhlasan yang ia wariskan, diharapkan kader-kader IMM tak hanya namanya harum, tetapi juga mewujudkan kontribusi nyata dan berkesinambungan di tengah masyarakat.
Ini adalah warisan Rosyad Shaleh: sebuah panggilan abadi untuk terus berjuang demi umat dan bangsa. Abadi Perjuangan!