Shalat Lail, baik itu disebut Shalat Tahajjud, Qiyamul Lail, Shalat Witir, maupun Shalat Tarawih saat bulan Ramadhan, adalah salah satu ibadah paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Waktu pelaksanaannya terbentang luas, yakni setelah shalat Isya hingga terbit Fajar.
Namun, seringkali muncul pertanyaan mengenai tata cara pelaksanaannya: Berapa jumlah rakaatnya? Bagaimana formasinya? Bacaan apa saja yang dituntunkan?
Berikut adalah panduan lengkap Shalat Lail yang disarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025, berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
Jumlah Rakaat Shalat Lail
Berdasarkan hadits riwayat ‘Aisyah ra, jumlah rakaat Shalat Lail yang dikerjakan Rasulullah SAW adalah sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
ﺑِﻮَاﺣِﺪَةٍ اﻟْﻔَﺠْﺮِ إِﺣْﺪَى ﻋَﺸﺮَةَ رَﻛْﻌَﺔً ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﺑَﻴْﻦَ ﻛﻞِّ رَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ وَﻳُﻮﺗِﺮُ ﻳَﻔْﺮُغَ ﻣِﻦْ ﺻَﻼَةِ اﻟْﻌِﺸَﺎءِ وَﻫﻲِ اﻟَّﺘﻲِ ﻳَﺪْﻋُﻮ اﻟﻨَّﺎسُ اﻟْﻌَﺘَﻤَﺔَ إِﻟﻰَ ﻛﺎَنَ رَﺳُﻮلُ اﷲِ ﺻَﻠﻰَّ اﷲُ ﻋَﻠَﻴْهِ وَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺼَﻠﻲِّ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ أَنْ
“Bahwa Rasulullah saw. shalat pada waktu antara selesai shalat Isya yaitu yang orang menyebut “atamah, sampai fajar sebanyak sebelas raka’at dan bersalam setiap dua raka’at dan witir dengan satu raka’at.”
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Lail
Pelaksanaan Shalat Lail memiliki beberapa tahapan yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, dimulai dari shalat pembuka (iftitah).
- Shalat Iftitah (Shalat Pembuka)
Sebelum melaksanakan shalat lail (tahajjud/tarawih), dituntunkan untuk mengerjakan Shalat Iftitah sebanyak dua raka’at singkat.
Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Hurairah ra:
اﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺘَﺘِﺢْ ﺻَﻼَﺗَﻪُ ﺑِﺮَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺧَﻔِﻴﻔَﺘَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ اﻟﻨَّﺒﻲِّ ﺻَﻠﻰَّ اﷲُ ﻋَﻠَﻴْهِ وَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎلَ إِذَا ﻗَﺎمَ أَﺣَﺪُﻛُﻢْ
“Bahwa Rasulullah saw bersabda:”Jika seorang diantaramu shalat di waktu malam, maka hendaklah ia membuka/memulai dengan shalat dua raka’at singkat”.
Juga hadits riwayat ‘Aisyah ra:
ﻟﻴِ ﻳُﺼَﻠﻲِّ اﻓْﺘَﺘَﺢَ ﺻَﻼَﺗَﻪُ ﺑِﺮَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺧَﻔِﻴﻔَﺘَﻴْﻦِ ﻛﺎَنَ رَﺳُﻮلُ اﷲِ ﺻَﻠﻰَّ اﷲُ ﻋَﻠَﻴْهِ وَﺳَﻠَّﻢَ إِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِﻦْ اﻠَّﻴْﻞِ
“Bahwa Rasulullah saw jika telah bangun di waktu malam untuk shalat, ia memulai shalatnya dengan dua raka’at pendek-pendek.”
Bacaan Shalat Iftitah:
- Raka’at Pertama: Setelah takbiratul ihram, membaca:
ﺳُﺒْﺤَﺎنَ اﷲِ ذِى اْﻤَﻠﻜُﻮْتِ وَاْﻟﺠَﺒﺮَُوْتِ وَاْﻜِﺒﺮِْﻳَﺎءِ وَاْﻟﻌَﻈَﻤَﺔِ
Subhaanallaahi dzil malakuuti wal jabaruut, wal kibriyaa’i wal ‘adzamah
“Maha suci Allah yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kebesaran dan keagungan”.
(Berdasarkan hadits riwayat Hudzaifah bin al Yaman).
- Raka’at Kedua: Cukup membaca surat Al-Fatihah saja
- Shalat Inti (Tarawih / Tahajjud)
Setelah selesai Shalat Iftitah, dilanjutkan mengerjakan Shalat Tarawih (atau Tahajjud/Lail) sebanyak sebelas raka’at. Ada beberapa formasi yang bisa dilakukan:
Formasi Pertama: 4 raka’at, 4 raka’at, lalu 3 raka’at witir.
Ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Salamah bin ‘Abdurrahman yang bertanya kepada ‘Aisyah ra:
…ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻣَﺎ ﻛﺎَنَ رَﺳُﻮلُ اﷲِ ﺻَﻠﻰَّ اﷲُ ﻋَﻠَﻴْهِ وَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺰِﺪُ ﻓﻲِ رَﻣَﻀَﺎنَ وَﻻَ ﻓﻲِ ﻏَﻴﺮِْهِ ﻋﻠﻰَ إِﺣْﺪَى ﻋَﺸﺮَةَ رَﻛْﻌَﺔً ﻳُﺼَﻠﻲِّ أَرْﺑَﻌًﺎ ﻓَﻼَ ﺗَﺴْﺄَلْ ﻋَﻦْ ﺣُﺴْﻨِﻬِﻦَّ وَﻃُﻮﻟِﻬِﻦَّ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠﻲِّ أَرْﺑَﻌًﺎ ﻓَﻼَ ﺗَﺴْﺄَلْ ﻋَﻦْ ﺣُﺴْﻨِﻬِﻦَّ وَﻃُﻮﻟِﻬِﻦَّ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠﻲِّ ﺛَﻼَﺛًﺎ…
“Aisyah menjelaskan;”Pada bulan ramadhan maupun pada bulan lainnya Rasulullah tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas raka’at. Beliau kerjakan empat raka’at, jangan engkau tanyakan eloknya dan lamanya. Kemudian beliau kerjakan lagi empat raka’at. Jangan engkau tanyakan lamanya. Lalu beliau kerjakan tiga raka’at”.
Formasi Kedua: 2 raka’at (x4), lalu 3 raka’at witir. (Total 11 raka’at)
Formasi Ketiga: 2 raka’at (x5), lalu 1 raka’at witir. (Total 11 raka’at)
Formasi ini didasarkan pada hadits riwayat Ibnu ‘Umar ra:
…َﻘَﺎلَ رَﺳُﻮلُ اﷲِ ﺻَﻠﻰَّ اﷲُ ﻋَﻠَﻴْهِ وَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﻼَةُ اﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺜْﻨﻰَ ﻣَﺜْﻨﻰَ ﻓَﺈِذَا ﺧَﺸﻲِ أَﺣَﺪُﻛُﻢْ اﺼُّﺒْﺢَ ﺻَﻠﻰَّ رَﻛْﻌَﺔً وَاﺣِﺪَةً ﺗُﻮﺗِﺮُ ﻟﻪُ ﻣَﺎ ﻗَﺪْ ﺻَﻠﻰَّ
“Rasulullah menjawab:”Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Jika engkau terkejar shubuh, hendaklah engkau kerjakan witir satu raka’at saja (untuk mengganjilkan shalat-shalat yang telah dikerjakan)”.”
(Catatan: Hadits riwayat Zaed bin Khalid al Juhani menjelaskan total 13 raka’at, yang dipahami sebagai 2 raka’at Shalat Iftitah + 11 raka’at Shalat Lail).
- Doa Setelah Salam (Witir)
Setelah selesai shalat dan salam (khususnya setelah witir), dituntunkan membaca:
ﺳُﺒْﺤَﺎنَ اْﻤَﻠِﻚِ اﻟْﻘُﺪُّوسِ
Subhaanal malikil qudduus
“Maha Suci Allah Yang Merajai dan Yang maha Suci”.
Dibaca sebanyak tiga kali, dimana pada bacaan yang ketiga suara dinyaringkan dan dipanjangkan. Kemudian diteruskan dengan:
رَبُّ اْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ وَاﺮُّوْحِ
Rabbil malaaikati warruuh
“Yang Menguasai Malaikat dan Jibril”.
(Berdasarkan hadits riwayat Ubay bin Ka’ab dan ‘Abdurrahman bin Abza)
Keutamaan Shalat Lail
Mengerjakan Shalat Lail memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
- Akan ditempatkan pada tempat yang terpuji (QS. Al-Isra: 79).
- Dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang berbakti dan senantiasa rendah hati.
- Dimasukkan kepada golongan orang-orang yang bertaqwa.
- Ditinggikan kedudukannya dan diistimewakan dari orang-orang yang tidak melakukannya.
- Menjadi hamba yang dekat dengan Allah.
Sebagaimana sabda Nabi SAW riwayat ‘Amrun bin ‘Abasah:
…أَﻗْﺮَبُ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮنُ اﺮَّبُّ ﻣِﻦْ اﻟْﻌَﺒْﺪِ ﻓﻲِ ﺟَﻮْفِ اﻠَّﻴْﻞِ اﻵْﺧِﺮِ
“Bahwasanya ia mendengar nabi saw. bersabda:”Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah di tengah malam terakhir”.”
Pilihan Doa Saat Shalat Lail
Saat bersujud atau setelah selesai mengerjakan Shalat Lail, kita dapat membaca berbagai doa yang dituntunkan. Berikut adalah dua di antaranya:
Doa Pertama (Riwayat ‘Aisyah ra):
اﻠﻬُﻢَّ إِﻧﻲِّ أَﻋُﻮذُ ﺑِﺮِﺿَﺎكَ ﻣِﻦْ ﺳَﺨَﻄِﻚَ وَأَﻋُﻮذُ ﺑِﻤُﻌَﺎﻓَﺎﺗِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋُﻘُﻮﺑَﺘِﻚَ وَأَﻋُﻮذُ ﺑِﻚَ ﻣِﻨْﻚَ ﻻَ أُﺣْﺼﻲِ ﺛَﻨَﺎءً ﻋَﻠَﻴْكَ أَﻧْﺖَ ﻛَﻤَﺎ أَﺛْﻨَﻴْﺖَ ﻋﻠﻰَ ﻧَﻔْﺴِﻚَ
Allahumma innii a’uudzu biridhaaka min sakhatik, wa a’uudzu bimu’aafaatik min ‘uquubatik, wa a’uudzubika minka laa uhshii tsanaa’an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik.
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak dapat lagi menghitung pujian yang ditujukan kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu sendiri.”
Doa Kedua (Riwayat Ibnu ‘Abbas ra):
اﻠﻬُﻢَّ اﺟْﻌَﻞْ ﻓﻲِ ﻗَﻠْﺒﻲِ ﻧُﻮرًا وَﻓِﻲ ﺑَﺼﺮَي ﻧُﻮرًا وَﻓِﻲ ﺳَﻤْﻌﻲِ ﻧُﻮرًا وَﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨﻲِ ﻧُﻮرًا وَﻋَﻦْ ﻳَﺴَﺎرِي ﻧُﻮرًا وَﻓَﻮْﻗِﻲ ﻧُﻮرًا وَﺗﺤْﺘﻲِ ﻧُﻮرًا وَأَﻣَﺎﻣﻲِ ﻧُﻮرًا وَﺧَﻠْﻔﻲِ ﻧُﻮرًا وَاﺟْﻌَﻞْ ﻟﻲِ ﻧُﻮرًا
Allahummaj’al fii qalbii nuuran, wa fii basharii nuuran, wa fii sam’ii nuuran, wa ‘an yamiinii nuuran, wa ‘an yasaarii nuuran, wa fauqii nuuran, wa tahtii nuuran, wa amaamii nuuran, wa khalfii nuuran, waj’al lii nuuran.
“Ya Allah, berikanlah di dalam hatiku cahaya, di dalam penglihatanku cahaya, di dalam pendengaranku cahaya. Cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan berikanlah cahaya padaku.”
Semoga panduan ini memberikan pencerahan dan memantapkan kita dalam menghidupkan malam-malam dengan ibadah yang sesuai tuntunan.
Baca juga : Jangan Buru-buru Pulang, Ini Keutamaan 2 Raka’at Shalat Ba’diyah Maghrib