Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 6 menit baca

Menyelamatkan Motivasi Belajar Anak: Strategi Atasi Brainrot dan Kecanduan Dopamin Digital

Dr. Aang Kunaepi, M.Ag

Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo

Menyelamatkan Motivasi Belajar Anak: Strategi Atasi Brainrot dan Kecanduan Dopamin Digital
Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., menyoroti pentingnya peran orang tua dalam memulihkan motivasi belajar anak dan mengatasi anomali brainrot akibat kecanduan dopamin digital. (Foto: Istimewa)

Era digital telah mengubah cara anak memperoleh informasi, berkomunikasi, bermain, dan belajar. Dalam hitungan detik, anak dapat mengakses ribuan video, gim, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan.

Teknologi memang memberikan manfaat besar bagi pendidikan. Namun, penggunaan yang tidak terkendali juga dapat memengaruhi perhatian, kebiasaan, dan motivasi belajar anak.

Salah satu istilah populer yang muncul untuk menggambarkan kondisi tersebut adalah brainrot. Istilah informal ini merujuk pada keterikatan berlebihan terhadap konten digital (seperti tren anomali brainrot) yang dangkal dan repetitif.

Anak terus mengonsumsi konten tersebut sehingga mereka sulit melepaskan perhatian dari dunia digital. Memahami cara mengatasi brainrot pada anak kini menjadi kebutuhan mendesak bagi para orang tua.

Bahaya Anomali Brainrot

Istilah brainrot bukan diagnosis medis. Namun, orang tua patut memperhatikan fenomena di balik istilah tersebut untuk mencegah kecanduan gadget yang lebih serius.

Anak yang terbiasa memperoleh stimulasi cepat dari video pendek, gim, notifikasi, dan media sosial sering mengalami kesulitan berkonsentrasi. Mereka biasanya kesulitan ketika harus menghadapi aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama.

Aktivitas seperti membaca buku, mengerjakan matematika, menghafal Al-Qur’an, atau memahami materi pelajaran membutuhkan proses yang relatif lambat. Sementara itu, dunia digital menawarkan pergantian stimulus yang sangat cepat.

Perbedaan tersebut dapat membuat aktivitas belajar terasa kurang menarik jika kita bandingkan dengan hiburan digital. Persoalannya bukan sekadar banyaknya waktu yang anak habiskan di depan layar.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana pola penggunaan teknologi membentuk kebiasaan perhatian anak. Konten digital yang memberikan penghargaan secara cepat dapat mendorong anak terus mencari stimulus berikutnya.

Pakar sering mengaitkan kondisi ini dengan sebutan “kecanduan dopamin”. Secara ilmiah, kita perlu menggunakan istilah tersebut secara hati-hati.

Dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam sistem penghargaan, motivasi, pembelajaran, dan berbagai fungsi otak. Dopamin bukan sekadar “zat kesenangan” yang membuat seseorang kecanduan.

Karena itu, kita lebih tepat memahami masalahnya sebagai pola perilaku dan penguatan kebiasaan, bukan sekadar “kelebihan dopamin”.

Kembalikan Motivasi Anak

Strategi pertama sebagai cara mengatasi brainrot pada anak dan menyelamatkan motivasi belajar anak adalah mengembalikan kemampuan anak menikmati proses yang tidak instan. Belajar memang tidak selalu menghasilkan kepuasan seketika.

Orang tua perlu membiasakan anak memahami bahwa keberhasilan selalu membutuhkan proses, latihan, kesalahan, dan pengulangan. Orang tua juga tidak harus selalu memberikan hadiah material kepada anak.

Pujian terhadap usaha, konsistensi, keberanian mencoba, dan kemajuan kecil justru dapat membantu membangun motivasi intrinsik. Motivasi dari dalam diri ini sangat penting untuk mencegah kecanduan gadget.

Dalam perspektif Islam, proses tersebut berkaitan erat dengan nilai sabr dan itqan. Allah SWT berfirman, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah ia usahakan” (QS. An-Najm: 39).

Ayat ini menegaskan pentingnya sebuah usaha. Anak perlu memahami bahwa manusia tidak memperoleh ilmu melalui jalan pintas, melainkan lewat proses membaca, bertanya, berlatih, berpikir, dan memperbaiki kesalahan.

Terapkan Batasan Digital

Strategi kedua dalam cara mengatasi brainrot pada anak adalah menerapkan digital boundaries, bukan sekadar memberi larangan. Orang tua dapat menetapkan aturan yang jelas mengenai kapan anak boleh menggunakan gawai.

Orang tua juga harus mengatur kapan anak wajib menyimpan perangkat tersebut. Misalnya, anak tidak boleh menggunakan gawai ketika makan, belajar, beribadah, dan menjelang tidur.

Aturan tersebut sebaiknya berlaku secara konsisten dan, jika memungkinkan, menyasar seluruh anggota keluarga. Anak akan lebih mudah menerima batasan apabila mereka melihat orang tuanya juga menjalankan aturan yang sama.

Strategi ketiga adalah menciptakan lingkungan belajar dengan gangguan minimal. Anak yang belajar sambil membuka media sosial, menerima notifikasi, atau berpindah-pindah aplikasi akan menghadapi banyak distraksi.

Karena itu, ketika waktu belajar dimulai, orang tua dapat menempatkan gawai di luar jangkauan atau mengaktifkan mode fokus. Belajar dalam durasi pendek tetapi konsisten juga dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan motivasi belajar anak.

Setelah kemampuan perhatian anak meningkat, orang tua dapat menambah durasi belajar secara bertahap.

Fokus Dunia Nyata

Strategi keempat adalah mengganti sebagian hiburan digital dengan aktivitas yang memberikan pengalaman nyata guna memecah siklus kecanduan gadget. Olahraga, membaca buku, bermain bersama teman, atau berkebun memberikan pengalaman yang sangat berbeda dari sekadar menatap layar secara pasif.

Membantu orang tua, menggambar, bermain musik, mengikuti kegiatan organisasi, dan aktivitas keagamaan juga sangat bermanfaat. Anak membutuhkan kesempatan untuk mengalami dunia secara langsung.

Pengalaman dunia nyata tersebut membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, kreativitas, motorik, pemecahan masalah, dan regulasi emosi.

Strategi kelima adalah mengubah posisi anak dari konsumen teknologi menjadi pencipta. Kita memang tidak harus memandang semua penggunaan gawai secara negatif.

Orang tua dapat mengarahkan anak menggunakan teknologi untuk membuat video edukasi, menulis tulisan kreatif, atau menggambar digital. Anak juga bisa belajar bahasa, melakukan riset sederhana, membuat presentasi, atau menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.

Perbedaannya terletak pada posisi anak. Kita harus mengawasi apakah anak hanya menerima stimulus tanpa henti atau mereka menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya.

Bangun Ritme Keluarga

Strategi keenam adalah membangun ritme keluarga yang sehat. Anak membutuhkan struktur kehidupan yang bisa keluarga prediksi secara konsisten.

Mereka butuh jadwal pasti untuk waktu bangun, belajar, bermain, beribadah, makan, berinteraksi dengan keluarga, dan tidur. Ritme yang teratur membantu anak memahami bahwa gawai bukanlah pusat kehidupan.

Dalam konteks keluarga Muslim, salat lima waktu dapat menjadi jangkar yang secara alami membagi aktivitas harian. Waktu salat dapat menjadi momentum emas untuk menghentikan aktivitas digital dan mengembalikan perhatian kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Allah lebih mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Kita dapat memaknai kekuatan dalam konteks ini secara luas, termasuk kemampuan membangun disiplin dan mengendalikan diri.

Orang tua perlu membantu anak membangun kekuatan tersebut melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka lakukan secara konsisten.

Strategi ketujuh adalah memperbaiki hubungan emosional antara orang tua dan anak. Anak yang merasa dekat dengan orang tua akan lebih mudah keluarga ajak berdialog mengenai batasan teknologi.

Sebaliknya, jika komunikasi orang tua hanya berisi perintah dan larangan, gawai justru akan menjadi tempat anak mencari pelarian. Karena itu, orang tua perlu bertanya hal-hal yang memancing empati anak.

Orang tua bisa bertanya, “Apa yang kamu sukai dari gim itu?”, “Mengapa video tersebut menarik?”, atau “Bagaimana perasaanmu setelah bermain?” Pertanyaan semacam ini akan membuka ruang refleksi tanpa langsung menghakimi anak.

Kendalikan Penggunaan Gadget

Dengan demikian, menyelamatkan motivasi belajar anak bukan berarti kita memusuhi teknologi. Persoalannya adalah bagaimana kita mengembalikan teknologi kepada fungsinya sebagai alat, bukan sebagai pengendali kehidupan.

Anak perlu belajar bahwa mereka tidak wajib mengonsumsi semua hal yang menarik di internet. Anak juga harus paham bahwa mereka tidak harus membuka semua notifikasi dan tidak wajib memperoleh semua kesenangan secara seketika.

Brainrot mungkin menjadi istilah populer untuk menggambarkan kekhawatiran masyarakat terhadap budaya digital yang berlebihan. Namun, cara mengatasi brainrot pada anak yang sesungguhnya membutuhkan solusi yang jauh lebih mendalam daripada sekadar mengurangi waktu menatap layar (screen time).

Anak membutuhkan disiplin agar terlepas dari kecanduan gadget, hubungan keluarga yang hangat, aktivitas nyata, dan pengalaman spiritual. Mereka juga butuh lingkungan belajar yang kondusif dan kesempatan merasakan kepuasan dari sebuah proses yang panjang.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan digital bukan untuk menciptakan anak yang takut terhadap teknologi, melainkan anak yang mampu mengendalikan penggunaannya.

Motivasi belajar anak akan kembali tumbuh ketika anak berhasil menemukan makna dalam belajar, menikmati proses, dan menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu hadir dalam hitungan detik. Di tengah budaya serba cepat, kemampuan untuk fokus, bersabar, berusaha, dan menyelesaikan sesuatu hingga tuntas justru menjadi modal paling penting bagi masa depan anak.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: