Siapakah sesungguhnya yang berhak menyandang gelar “ulama”? Secara umum, gelar tersebut acap kali dilekatkan secara eksklusif kepada kiai, pemimpin pondok pesantren, atau penceramah yang identik dengan jubah, sarung, dan kopiah putih. Namun, telaah mendalam menunjukkan definisi yang jauh lebih luas. Secara literal (Kamus Munjid), kata al-‘ulamâ’ berarti terpelajar, sarjana, ilmuwan, atau saintis.
Definisi Alquran juga menguatkan hal ini. Ulama yang sejati bukanlah sekadar orang terpelajar Bani Israil yang menolak kebenaran wahyu (QS asy-Syu’ara’:197), melainkan orang ilmuwan yang takut kepada Allah (QS Fatir: 28).
Lantas, bagaimana hakikat seorang yang terpelajar atau ilmuwan ini dapat ditelusuri? Jawabannya terletak pada lima ayat Alquran yang pertama kali diturunkan, yang dimulai dengan perintah agung: Iqra’ (Bacalah).
Bagi orang beriman, perintah ini harus direspons positif, yaitu kesediaan membaca. Kegiatan membaca ini bukan sekadar aktivitas profan, melainkan pelaksanaan ibadah. Oleh karena itu, membaca harus dilandasi iman atas Nama Allah (Bismi Rabbik – atas nama Tuhanmu).
Dari kegiatan membaca, seseorang pasti memperoleh pengetahuan, sekecil apa pun itu. Pengetahuan yang paling rendah adalah tahu bahwa dirinya belum memperoleh hasil tahu dari yang dibaca.
Secara eksplisit, perintah membaca itu tidak menyebutkan apa yang harus dibaca. Justru, hal yang memastikan sesuatu yang dibaca adalah penggalan terakhir dari ayat pertama ini, yaitu mâ khalaqa, artinya apa saja yang telah Allah ciptakan.
Jadi, pengertian membaca tidak terbatas pada huruf, suku kata, kalimat, paragraf, bab, dan buku tertulis. Ia meluas hingga mencakup setiap fenomena di alam semesta. Dari kegiatan membaca yang terus-menerus ini, pasti akan diperoleh pengetahuan.
Hasil tahu tersebut diungkapkan dengan kata. Contohnya, munculnya kata ‘na’lah’, yang terjemahnya dalam bahasa Jawa menjadi teklek (alas kaki dari kayu atau bakiya’). Bahkan, bisa saja dua kata memiliki satu pengertian, misalnya teklek bagus.
Untuk menghasilkan kata na’lah itu, manusia melalui serangkaian kegiatan kerja otak dan anggota badan yang secara akademik disebut konseptualisasi. Konseptualisasi adalah kegiatan yang menghasilkan konsep.
Konsep na’lah sendiri dikembangkan oleh manusia yang ingin berjalan dan melindungi telapak kaki dari panas atau licin tanah. Ia membuat alas kaki dari kayu. Ketika diuji coba untuk berjalan, ternyata terdengar suara na’ dan lah secara berulang.
Bunyi untuk kaki kanan terdengar na’ dan kaki kiri berbunyi lah. Saat berjalan, kata na’ lah, na’ lah pun berulang. Akhirnya, ia menemukan konsep baru dari hasil aksi dan pendengaran atas sesuatu yang dibuat, yaitu konsep na’lah.
Bagi telinga Jawa, bunyi na’ terdengar tek dan bunyi lah terdengar lek, maka jadilah konsep baru, yaitu teklek. Melalui kegiatan konseptualisasi yang terus-menerus, kini alas kaki berkembang menjadi begitu banyak jenis dan tingkatan kualitas, mulai dari sandal, sepatu, hingga kaos kaki.
Melalui metode konseptualisasi itulah Allah mengajar Adam, yang merupakan simbolisasi dari manusia. Hasil konseptualisasi yang berupa konsep tidak terbatas jumlahnya (‘allama Ădama al-asmâ’).
Kesetaraan Ilmu: Ulama Ayat Agama dan Ulama Ayat Alam
Kata asmâ’ merupakan jamak dari isim, yang berarti kata benda. Oleh karena itu, Allah mengajar manusia secara langsung untuk melakukan konseptualisasi atas setiap fenomena di alam semesta.
Jika pembaca melakukan konseptualisasi sebanyak-banyaknya (asmâ’akullaha), maka ia akan banyak memiliki pengetahuan tentang sesuatu (nama benda) tak terhingga.
Jika konseptor kemudian menghubung-hubungkan antarkonsep secara mendasar, maka muncullah teori, yaitu hubungan dasar dari dua atau lebih sesuatu atau konsep (Bertrand Russel, l979: 439).
Contoh teori generasi Islami: Jika ada hubungan dasar setelah nikah antara muslim dan muslimah, maka akan melahirkan keturunannya.
Jika seorang teoriwan mampu menyusun teori serumpun—memiliki kesamaan objek, metode, ruang lingkup, dan tujuan—sebanyak-banyaknya, dalam keteraturan logis, maka ia melahirkan satu cabang ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, kerja seorang ilmuwan, saintis, atau ulama berada di ranah otak, yaitu melakukan konseptualisasi, teorisasi, saintifikasi, dan teknologisasi. Hal ini berbeda dari tukang yang cara kerjanya berbasis pada anggota badan.
Ukuran keberhasilan tukang diukur dari apakah ia profesional atau tidak profesional, kompeten atau tidak kompeten. Sementara ukuran keberhasilan ilmuwan terletak pada kualitas konsep, teori, dan ilmu yang dihasilkannya.
Ternyata Ilmuwan dan Sarjana Juga Termasuk Ulama
Jika objek yang dibaca oleh ilmuwan berupa ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi, yang secara praktis disebut ayat-ayat Quraniyah, maka hasil bacaannya adalah konsep, teori, dan ilmu keagamaan.
Wujud ilmu ini antara lain: ilmu fikih, ilmu tauhid, tafsir Alquran, dan ilmu hadis. Ulama pengembang masing-masing ilmunya bisa disebut fuqahâ’ (ahli fikih), ‘ulamâ’ kalâm (ahli ilmu tauhid), muḩaddiṡîn (ahli ilmu hadis), mufassirîn (ulama ahli tafsir), hingga an-nuḩât (ahli ilmu nahwu – tatabahasa Arab).
Sebaliknya, jika objek yang dibaca oleh ilmuwan berupa ayat-ayat kauniyat (fenomena di alam semesta), maka hasil bacaannya adalah konsep, teori, dan ilmu kealaman.
Wujudnya adalah ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu teknik, dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Para pengembangnya disebut sarjana, yang bertingkat mulai strata 1 (sarjana), strata 2 (magister), dan strata 3 (doktor).
Walhasil, ilmuwan yang mempelajari fenomena alam itu setara dengan ilmuwan yang mempelajari Alquran dan as-Sunnah. Keduanya sama-sama mempelajari ciptaan Allah (mâ khalaq).
Oleh karena itu, mereka sama-sama disebut: sarjana, orang terpelajar, ilmuwan, saintis, atau ulama.
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa ulama bukan hanya mereka yang disebut kiai, memiliki pondok pesantren, atau yang memberikan ceramah pengajian. Melainkan, para sarjana juga adalah ulama dalam bidang keilmuannya masing-masing.
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
(Bersambung)
Baca juga:
Menyoal Ulama Pewaris Para Nabi: Siapa Pewaris Nabi Sesungguhnya? (Bagian 1 dari 6)
Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Waspada! Ini 3 Tipe Ulama Culas Penjual Agama (Bagian 3 dari 6)