Dalam diskursus keagamaan, ulama kerap dianggap sebagai pewaris para nabi, pembawa cahaya bagi umat. Namun, tidak semua yang menyandang gelar mulia itu menempati posisi hakikinya. Pembahasan ini secara khusus mengupas kategori ulama culas, atau yang populer disebut sebagai ulama sû’. Mereka adalah ulama yang gagal mengemban amanah keilmuan dan keagamaan.
Dalam kesempatan ini, mari kita telaah tiga macam ulama culas yang keberadaannya patut diwaspadai dari generasi ke generasi.
1. Fasih Berbicara, Nihil dalam Aksi
Jenis ulama culas yang pertama adalah mereka yang fasih ngomong nihil aksi. Fenomena ini sejatinya telah disinggung dalam Al-Qur’an, di mana Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tak kalian lakukan? (QS Shaff: 2).
Ayat ini awalnya merujuk pada sekelompok sahabat yang memotivasi kebajikan. Tetapi ketika tiba waktunya untuk bersama-sama berjihad fî sabîlillâh, mereka justru bersikap munafik, mengelak dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.
Padahal, mereka yang bergabung di medan juang diibaratkan sebagai bangunan yang tersusun kokoh (bunyânun marṣûṣ), suatu gambaran yang baik di hadapan Allah. Soal menang atau kalah, selamat atau syahid, semua itu adalah urusan Allah. Pasukan tempur hanya berusaha sebaik mungkin, dilandasi iman dan tawakal kepada-Nya.
Mentalitas munafik semacam ini terus ada di kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Misalnya, seorang mubalig yang fasih mengajak orang berbuat baik, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Ironisnya, ia bisa saja melarang kemungkaran (nahi mungkar), tetapi senang menerima amplop tebal (riswah atau sogokan), sehingga membuatnya diam dan tidak berani menegur kemungkaran yang terjadi.
Namun, beberapa ahli tafsir (mufassirun) berpendapat bahwa menganjurkan amalan yang bersifat sunnah, sementara ia sendiri tidak melaksanakannya, adalah hal yang tidak mengapa. Hal ini bisa terjadi pada mubalig kondang yang memiliki jadwal padat. Contohnya, seorang penceramah selesai di Jawa Barat pukul 12 malam, paginya pukul 10 harus sudah berceramah di Jawa Timur, dan malamnya lagi sudah harus terbang mengisi pengajian di Kalimantan.
Dalam kondisi perjalanan yang sangat padat itu, ia mungkin tidak sempat salat tahajud karena harus beristirahat di kendaraan. Yang ia bisa lakukan hanyalah berzikir selama ia bisa menahan diri untuk tidak tidur. Yang terpenting, ia tidak meninggalkan kewajiban pokok seperti salat maktubah, puasa Ramadan jika ia kuat, zakat jika sudah terkena kewajiban, dan haji karena istitha’ah.
Posisi ini sesuai dengan hadis Nabi:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya (HR Muslim: 3509, dan lafal semakna lainnya).
2. Ulama Bal’amisme
Jenis ulama culas kedua ini dapat kita sebut sebagai Ulama Bal’amisme. Istilah ini merujuk pada mentalitas seorang ulama yang menjual ilmu agama dan kebenaran demi kepentingan duniawi atau sogokan, mengambil inspirasi dari kisah kuno Bal’am bin Ba’ura.
Mentalitas ini sejatinya dijelaskan dalam Surat al-A’raf ayat 175-177, yang menyebutkan mentalitas orang yang mengetahui ayat Tuhan—yang berarti ulama —tetapi menolak untuk menerimanya dan nyaman dalam kesesatan tersebut. Allah berfirman:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ﴿١٧٥﴾ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾ سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
Artinya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Ayat selanjutnya berbunyi, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).”
Perumpamaan tersebut menutup dengan, “Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim.”
Kisah yang diyakini melatarbelakangi ayat ini adalah tentang seorang ulama di zaman Nabi Musa, yaitu Bal’am bin Ba’ura. Dia terkenal memiliki doa yang makbul. Bal’am disogok dengan amplop tebal oleh musuh Nabi Musa agar ia mau berdoa untuk kegagalan pasukan Nabi Musa dalam mempertahankan agama Allah. Doanya ternyata dikabulkan, dan pasukan Nabi Musa pun gagal.
Allah mengumpamakan ulama culas ini seperti binatang yang menjulurkan lidah. Artinya, dia berbicara untuk kepentingan siapa pun yang memberinya fasilitas, meskipun ucapannya itu bertentangan dengan ruh syariat.
Fenomena Bal’anisme ini ternyata terus ada di tengah masyarakat. Ulama semacam ini tidak memberikan pencerahan kepada umat, melainkan hanya mengutamakan saku pribadi, bahkan hingga nyaman berkolusi dengan para koruptor.
3. Ulama Labil
Tipe ulama culas yang ketiga adalah ulama labil. Mereka adalah orang-orang yang memerintahkan kebaikan tetapi tidak melakukannya, dan melarang kemungkaran tetapi justru ia yang melakukannya.
Contoh profil ini tampak pada orang yang senantiasa menganjurkan tauhid dan mengajarkan surat Al-Ikhlas lengkap dengan tafsirnya, tetapi ia sendiri justru banyak bergantung kepada selain Allah. Ketergantungan ini terwujud dalam penggunaan jimat, wifiq, haikal, cekelan, rajah, senjoto piandel, dan aneka rapalan/mantra yang semuanya tergolong sebagai magical power atau kekuatan magis.
Azab bagi mereka di akhirat sungguh mengerikan, seperti sabda Nabi:
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِفَيَقُولُونَ يَافُلَانُ مَالَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ فَيَقُوْلُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَلاَ آتِيْهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ
Artinya: Seorang laki-laki didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, sehingga isi perutnya terurai, lalu ia berputar-putar seperti keledai berputar-putar mengitari alat giling (tepung).
Para penghuni neraka mengerumuninya seraya bertanya, “Wahai Fulan! Ada apa denganmu? Bukankah engkau dahulu menyuruh orang melakukan perbuatan ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar?” Ia menjawab, “Benar. Aku dahulu biasa menyuruh orang melakukan perbuatan ma’ruf tapi aku tidak melakukannya. Aku mencegah kemunkaran, tetapi justru aku melakukannya.” (HR Bukhari: 3027, Muslim: 5305, dan lafal semakna lainnya).
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
(Bersambung)
Baca juga:
Menyoal Ulama Pewaris Para Nabi: Siapa Pewaris Nabi Sesungguhnya? (Bagian 1 dari 6)
Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ilmuwan dan Sarjana Juga Termasuk ‘Ulama’? (Bagian 2 dari 6)
Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ulama Bisa Memberi Syafaat pada Hari Kiamat? (Bagian 4 dari 6)