Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Jangan Terjebak Mitos Bulan Safar, Ini Amalan yang Harus Dilakukan

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Jangan Terjebak Mitos Bulan Safar, Ini Amalan yang Harus Dilakukan
Ilustrasi: Menepis mitos dan kesialan. Seorang muslim berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur'an dan cahaya ilmu untuk berjalan menuju kebenaran, meninggalkan bayangan gelap takhayul yang kerap disematkan pada bulan Safar. (Visual: AI Generated/Editorial)

Saat ini kita telah memasuki bulan Safar yang penuh berkah. Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah bulan Muharam. Sayangnya, masyarakat kita masih sering mempercayai berbagai mitos bulan Safar di kehidupan sehari-hari. Sebagian orang menganggap bulan ini selalu membawa kesialan atau penderitaan sebagaimana dalam mitos bulan suro.

Banyak umat yang lantas menunda pernikahan, menghindari perjalanan jauh, atau menolak membuka usaha baru karena takut terkena bala. Lalu, bagaimana pandangan Islam mengenai hukum bulan Safar ini sebenarnya?

Allah Ta’ala berfirman untuk meluruskan pemahaman ini:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah. (QS. At-Taubah: 36)

Ayat mulia ini menegaskan bahwa bulan Safar menurut Islam memiliki kedudukan mulia yang sama seperti bulan lainnya. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa bulan Safar menyimpan kesialan khusus.

Pandangan Islam tentang Mitos Bulan Safar

Keyakinan keliru mengenai mitos bulan Safar pada dasarnya bersumber dari tradisi kuno masyarakat Arab jahiliyah. Masyarakat jahiliyah pada masa lalu amat percaya bahwa bulan Safar pasti membawa malapetaka. Mereka juga sering menganggap suara burung tertentu atau datangnya hari tertentu mendatangkan musibah.

Nabi Muhammad ﷺ datang membawa cahaya Islam untuk menghapus semua takhayul tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda dengan sangat tegas:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial, tidak ada hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. (HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)

Hadis sahih ini secara langsung membantah keras anggapan miring tentang kesialan bulan ini. Umat Muslim wajib menghindari segala bentuk keyakinan semacam ini karena dampaknya amat fatal. Mempercayai mitos tersebut bisa merusak fondasi kemurnian tauhid seorang Muslim.

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. (QS. Yunus: 107)

Lebih jauh, Islam menyebut perasaan sial karena sesuatu (tathayyur) sebagai bentuk kesyirikan. Rasulullah ﷺ mengingatkan hal ini melalui sabdanya:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Menganggap sial adalah syirik, menganggap sial adalah syirik. (HR. Abu Dawud No. 3910)

Oleh karena itu, setiap musibah yang menimpa seseorang murni terjadi atas takdir Allah semata, bukan akibat mitos bulan Safar. Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. (QS. At-Taghabun: 11)

Amalan Bulan Safar

Lantas, langkah terbaik apa yang harus umat Muslim ambil? Kita harus menyikapi bulan ini dengan berfokus pada penguatan tauhid. Sebagai seorang hamba, amat wajib meyakini dalam hati bahwa hanya Allah SWT yang Maha Mengatur segalanya di semesta ini.

Di samping itu, sikap bertawakal sepenuhnya kepada ketetapan Allah SWT juga harus selalu ditanamkan. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. (QS. Ali Imran: 159)

Selain menjaga tawakal, kita juga perlu menjauhi berbagai ragam khurafat maupun takhayul. Kita jangan pernah melakukan ritual tolak bala yang nyata-nyata menyimpang dari syariat. Sebaliknya, kita justru perlu meningkatkan amalan bulan Safar yang selaras dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ.

Islam memang tidak menetapkan satu ibadah khusus pada bulan ini. Namun, kita tetap bisa mengisi hari-hari dengan menunaikan shalat berjamaah di masjid, rajin membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan gemar bersedekah. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. (QS. Az-Zalzalah: 7)

Sebagai seorang Mukmin sejati, kita harus terus membiasakan sikap optimis setiap harinya. Rasulullah ﷺ amat menyukai sikap optimis tersebut. Beliau bersabda:

وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ

Aku menyukai optimisme yang baik. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kuatkan Iman dan Tauhid

Sebagai penutup artikel penuh kebaikan ini, marilah kita melangkah menjalani bulan Safar dengan balutan iman yang kokoh. Jangan pernah membiarkan mitos bulan Safar menakut-nakuti atau mengendalikan hidup kita. Takutlah dengan penuh rasa tunduk hanya kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. (QS. At-Talaq: 3)

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَتَوْحِيدًا خَالِصًا، وَتَوَكُّلًا عَلَيْكَ حَقَّ التَّوَكُّلِ، وَأَنْ تَحْفَظَنَا مِنَ الشِّرْكِ وَالْبِدَعِ وَالْخُرَافَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami iman yang benar, tauhid yang murni, tawakal yang sempurna kepada-Mu, dan lindungilah kami dari syirik, bid’ah, dan segala bentuk khurafat.

Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: