Panembahan Senopati, Raja Mataram Islam di Yogyakarta, menyusun kalender campuran antara Islam dan lokal Jawa untuk mengikis mitos bulan Suro yang berbau mistis. Ia mengubah nama Ramadan menjadi Poso dan Muharam menjadi Suro.
Langkah strategis ini menunjukkan bahwa dakwah Islamiah di tanah Jawa berlangsung secara damai dan tidak frontal. Pendekatan kebudayaan tersebut tetap menghormati khazanah lokal sembari menyisipkan nuansa islami secara perlahan.
Meskipun demikian, masyarakat Jawa saat itu masih memelihara kepercayaan tentang Nyai Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul. Namun, pihak kerajaan tetap membangun Masjid Agung secara istiqamah untuk menegakkan salat wajib berjamaah lima waktu. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat menerima ajaran Islam secara bertahap tanpa gejolak sosial. Alhasil, identitas Islam kini melekat kuat dalam kultur Jawa.
Sejarah Bulan Suro dan Kiprah Panembahan Senopati
Panembahan Senopati memerintah Kesultanan Mataram antara tahun 1586 sampai 1601. Selain bertindak sebagai raja, ia juga mengemban peran sebagai ulama, mubaligh, panglima perang, dan hakim keagamaan. Oleh karena itu, ia menyandang gelar Senopati ing Alogo Sayyidin Panetep Panoto Gomo Kalifatullah Tanah Jowo. Para tokoh agama, ulama, kiai, dan ustaz meneruskan estafet sejarah bulan suro dan dakwah ini hingga sekarang.
Para pendakwah menggunakan berbagai model pendekatan untuk mewujudkan pengamalan Islam yang semakin kaffah. Target utamanya adalah perubahan pada level pribadi maupun sosial, bukan gerakan arabisasi.
Seiring berjalannya waktu, para mubalig semakin mendalami ajaran Islam yang autentik melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal inilah yang memicu munculnya ulasan kritis terhadap mitos bulan Suro yang berkembang di masyarakat.
Asal-usul Istilah dan Larangan Bulan Suro
Salah satu tema dakwah penting adalah meluruskan keyakinan atau tradisi yang berseberangan dengan akidah Islam. Para ulama mulai menyoal mitos Nyai Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul yang semula sangat ditakuti. Tradisi ritual penghormatan ini biasanya memuncak pada momen malam satu suro yang bertepatan dengan bulan Muharam.
Secara leksikal, kata suro dalam bahasa Sanskerta berarti berani atau pahlawan. Sementara itu, teori lain menyebutkan bahwa kata suro berasal dari bahasa Arab ‘Asyura’, yang merujuk pada tanggal 10 Muharam. Masyarakat kuno mengaitkan tanggal ini dengan berbagai peristiwa keramat, seperti berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Beberapa umat Islam bahkan masih memercayai mitos kuno bahwa peristiwa besar para nabi terjadi pada momentum ini.
Ketika Umar bin Khattab menetapkan bulan Muharam sebagai awal kalender Islam, Panembahan Senopati juga menjadikannya awal kalender Jawa-Islam. Namun, makna praktis bulan ini lambat laun bergeser menjadi bulan yang sial, angker, dan menakutkan. Akibatnya, muncul berbagai larangan bulan Suro seperti pantangan menikah (mantu), pindah rumah, atau menggelar hajatan besar.
Menepis Mitos Pernikahan Manusia dan Jin
Masyarakat telanjur memercayai mitos kuno yang menyebut Panembahan Senopati menikah dengan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, pesta pernikahan antara manusia dan bangsa jin tersebut berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam. Mitos ini menyebutkan bahwa kedua belah pihak berkumpul dan menikmati aneka hiburan bersama.
Dampak dari kepercayaan mistis ini melahirkan opini massa yang keliru. Masyarakat takut menggelar hajatan karena khawatir bangsa jin mengira itu adalah perayaan lanjutan sang raja. Mereka takut pasukan Laut Selatan di bawah komando Lampor akan berkeliaran dan mengganggu ketenteraman manusia. Ketakutan inilah yang memperkuat berbagai larangan bulan Suro di tengah masyarakat Jawa hingga hari ini.
Kini, umat Islam mulai menyadari bahwa figur Ratu Selatan hanyalah mitos yang tidak sejalan dengan akidah tauhid. Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajarkan umat untuk bersandar penuh hanya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita sebaiknya meninggalkan mitos bulan Suro yang bernuansa mistis secara bijak dengan tetap menghormati perbedaan di negeri Pancasila ini.
Masyarakat kini mulai mengubah esensi malam satu Suro yang identik dengan bulan Muharam menjadi momentum ibadah. Tradisi lama mengalami transformasi spiritual yang indah. Ritual tirakat kini berganti menjadi thariqah, wirid berubah menjadi zikir, dan praktik syirik bergeser menuju tauhid yang murni.