Ada sebuah kalimat pendek dari kearifan leluhur Jawa yang sekilas membingungkan, namun menyimpan makna seluas samudra tentang keseimbangan hidup. Bukan sekadar nasihat, ia adalah kompas moral di tengah pusaran ekstremitas yang kini kian menggila.
Pernahkah Anda mendengar ungkapan, “Ngono yo ngono ning ojo ngono,” dan benar-benar meresapi kedalaman maknanya?
Terdengar remeh, namun frasa ini adalah kompas moral, cetak biru untuk sebuah hidup yang seimbang. Ia bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah seruan untuk menemukan titik emas, golden mean, agar kita tak terjebak dalam pusaran ekstremitas yang bisa berujung petaka.
Bukankah ini sejalan sebangun dengan riwayat Rasulullah SAW yang masyhur: “Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu suatu saat ia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah orang yang tidak kau sukai, ya, sekedarnya saja, siapa tahu suatu saat ia akan menjadi kekasihmu.”
Sebuah pelajaran agung tentang menjaga keseimbangan hati, menghindari sikap berlebihan yang bisa menghancurkan. Bukan hanya dalam relasi personal, tapi juga dalam riak-riak konflik sosial yang kini kian memanas.
Inilah hakikat mencari jalan tengah, yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai “wasat” atau moderasi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143).
Kita adalah “khairu ummah” (umat terbaik) bukan karena kekuatan militer atau kekayaan materi. Bukan pula karena gemerlapnya simbol-simbol keagamaan. Melainkan karena kita diperintahkan untuk berada di jalan tengah, jalan moderat yang adil dan seimbang.
Nabi SAW juga bersabda, “Khairul umuriha awsatuhu,” sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah. Ini adalah kompas moral kita di tengah kutub-kutub ekstremisme yang kian merajalela, baik dalam beragama maupun berpolitik.
Ketika “Ngono” Berlebihan
Maka, tidak ada yang berlebihan dalam hidup ini yang akan membawa kebaikan hakiki. Tidak berlebihan dalam senang, hingga lupa diri dalam kemewahan dan kesombongan. Tidak berlebihan dalam benci, sehingga menutup mata dari kebaikan lawan dan memicu konflik tak berkesudahan.
Tidak berlebihan dalam makan, sehingga merusak kesehatan dan menimbulkan penyakit. Tidak berlebihan dalam bekerja, hingga melupakan hak-hak tubuh, keluarga, dan Tuhan.
Tentu, ini bukan berarti bekerja setengah-setengah atau bermalas-malasan. Melainkan, melakukan yang terbaik, mencapai puncak potensi, tapi dengan kesadaran akan batas dan konsekuensi, serta prioritas hidup.
Dalam balutan yang sama, adagium Jawa “ojo gumunan, ojo kagetan”—jangan mudah kagum, jangan mudah kaget—menjelma relevan di era informasi yang membanjir ini. Kita sering dibuat “gumun” oleh tren sesaat atau “kagetan” oleh berita yang belum terverifikasi, yang kerap memicu kepanikan massal. Orang yang mudah kagum atau mudah kaget seringkali karena memandang sesuatu secara berlebihan, tanpa kacamata kritis atau perspektif yang utuh.
Hidup ini adalah roda yang berputar, selalu berganti peran. Kadang kita di atas, kadang di bawah. Kadang dalam kemudahan, kadang dalam kesulitan. Jika tak punya “kelegowoan” (lapang dada) atau sikap moderat, akan sulit bersikap seimbang di tengah perubahan. Kita akan mudah larut dalam euforia kesenangan atau terjerembab dalam keputusasaan saat ditimpa musibah.
Mempelajari filosofi “Ngono yo ngono ning ojo ngono” ini mendorong kita untuk lebih bijaksana, tidak berlebihan dalam reaksi, tidak pula berlebihan dalam tindakan. Ini bukan berarti pasif atau tidak punya prinsip. Justru sebaliknya, ia adalah ajakan untuk bertindak dengan penuh perhitungan, dengan kesadaran yang mendalam, dan dengan pemahaman akan batasannya.
Lihatlah bagaimana konflik di media sosial seringkali membesar hanya karena “ngono yo ngono”-nya yang berlebihan, yang berujung pada perpecahan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari itu.
Demi Dunia yang Seimbang
“Ngono yo ngono ning ojo ngono”: bertindak boleh, punya keinginan boleh, tapi jangan berlebihan. Jangan pula ekstrem dalam pandangan atau keyakinan. Ini sesuai dengan ajaran Islam yang mengarahkan kita menjadi umat yang “wasat”, yang tengah-tengah, tidak ekstrem kanan dalam ketaatan yang berujung pada bid’ah dan takfir, tidak ekstrem kiri dalam pemikiran yang berujung pada liberalisme tanpa batas moral.
Kita mengambil jalan terbaik dari semua pilihan, agar hidup nyaman, enak, dan tidak menimbulkan masalah, tidak melahirkan kerusakan. Inilah bagian dari semangat “Memayu Hayuning Bawono”—memperindah dunia dengan keseimbangan, dan menjadikan diri kita pribadi yang matang serta bertanggung jawab.
Bagaimana, apakah kita sudah cukup berhati-hati agar “ngono yo ngono”-nya tidak sampai melampaui batas?
*Konten ini juga bisa ditonton di channel youtube @attaqwa_ngaliyan di link berikut: https://www.youtube.com/watch?si=2rT5gEuC3Ty7lGDn&v=T8OjoDXJdMA&feature=youtu.be