Di balik setiap langkah besar pergerakan dan kokohnya sebuah rumah tangga, ada sosok yang berdiri tegak dalam sunyi: seorang ayah. Ia adalah tiang yang menopang tanpa meminta sorak sorai, lentera yang cahayanya sering terabaikan. Namun tanpanya, seluruh ruangan akan gulita. Pada pundaknyalah, janji peradaban dibebankan.
Hari ini, 12 November, saat kita merayakan Hari Ayah Nasional, bukan manisnya ucapan yang patut kita dengar, melainkan suara hati yang mengajak kita, para ayah—khususnya yang berkhidmat dalam Persyarikatan Muhammadiyah—untuk sejenak berkaca. Di tengah kesibukan mengurus Amal Usaha dan padatnya agenda keorganisasian, ada satu cahaya penting di rumah yang mungkin perlahan mulai meredup; yaitu cahaya ilmu dan kasih sayang.
Ketika Ayah Tak Lagi Membaca
Kita tahu, tradisi membaca adalah napas Islam Berkemajuan, sebuah sikap yang menolak taklid dan menyalakan akal budi. Namun, fakta di lapangan menggugat narasi itu. Program for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh OECD, misalnya, kembali menempatkan kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia di posisi yang sangat rendah, di bawah rata-rata negara peserta OECD.
Skor literasi membaca Indonesia hanya di angka 359, yang merupakan skor terendah sejak Indonesia pertama kali berpartisipasi pada tahun 2000. Kemampuan literasi Indonesia sendiri berada di peringkat ke-69 dari 80 negara peserta.
Angka ini adalah cermin yang tak bisa kita bantah. Ini menunjukkan adanya penyakit serius dalam tradisi iqra’ (baca) di tingkat keluarga kita.
Saat kita sebagai ayah menganggap buku hanyalah urusan kantor, rapat Majelis, atau laporan yang cepat usang, kita sejatinya sedang mematikan ruh pembaruan. Dakwah adalah hasil dari perenungan panjang, bukan sekadar rutinitas struktural yang kering.
Anak-anak kita, yang haus akan teladan berpikir, akan kehilangan peta jalan jika lentera ilmu di tangan kita padam. Kita tidak bisa mengajak umat kepada kemajuan jika rumah kita sendiri mandek dalam kebodohan yang tersembunyi.
Oleh karena itu, wahai para ayah, hidupkan kembali meja baca di rumah Anda. Bacalah sejarah para pendahulu Persyarikatan agar tauhid kita semakin kukuh. Bacalah khazanah ilmu yang dapat memantik ghirah pembaruan. Dari ayah yang merawat ilmu, akan tercipta keluarga yang berilmu, yang kelak melahirkan masyarakat yang tercerahkan.
Ketika Ayah Tak Lagi Belajar Menjadi Ayah
Kita sering menganggap peran ayah adalah fitrah yang tak perlu dipelajari, padahal ini adalah profesi paling kompleks. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023 mencatat, hanya sekitar 23% calon ayah yang belajar serius tentang cara mendidik anak sebelum menikah.
Ini adalah jurang yang memisahkan penguasaan kita di luar rumah dengan ketidakmampuan kita di ruang keluarga. Kita mungkin piawai menyusun Tanfidz Pimpinan, kuat berdiskusi tentang strategi Dakwah Kultural, namun kehilangan kata-kata saat anak remaja kita memilih menutup diri dalam kamar.
Bagaimana kita bisa menawarkan solusi bagi masalah umat jika kita tak berdaya menghadapi anak yang kecanduan gawai atau menutup diri dari komunikasi? Kecakapan mengurus Amal Usaha tidak serta merta menjadikan kita ahli dalam memeluk anak yang sedang gelisah.
Menjadi ayah sejati adalah proses belajar tanpa titik henti di tengah badai digital dan perubahan etika yang cepat. Teladan kita adalah Nabi Ibrahim, yang berdialog dengan penuh mawaddah dan rahmah, menciptakan komunikasi spiritual dua arah yang agung dengan putranya (Q.S. As-Saffat: 102). Itulah model ayah yang mengedepankan dialog dan cinta berbasis iman, bukan sekadar perintah otoritatif.
Rumah adalah Madrasah Perjuangan Pertama
Muhammadiyah selalu meyakini bahwa keluarga adalah madrasah pertama dan benteng amal saleh yang paling hakiki. Keberhasilan dalam pergerakan Islam Berkemajuan adalah bayangan cermin dari keberhasilan kita mewujudkan baiti jannati (rumahku surgaku). Aspek ini bukan sekadar program kerja yang dicantumkan dalam lampiran, melainkan posisi eksistensial yang menentukan arah peradaban.
Sungguh ironi yang melukai, ketika mujahid kita begitu sibuk mengurus umat di luar, sementara ruang tengah rumahnya menjadi sunyi, dingin, dan asing bagi anak-anaknya. Meja makan menjadi tempat sepi, meskipun sang ayah baru saja berapi-api berbicara tentang nasib bangsa di kantor Pimpinan.
Padahal, laboratorium cinta yang bernama rumah itu adalah tempat iman pertama kali diuji dan dikuatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dengan tegas: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Q.S. At-Tahrim: 6).
Kita, para ayah, adalah murabbi (pembimbing) sekaligus penggerak struktur Persyarikatan. Jangan biarkan tangan kita begitu tangguh memimpin rapat pleno atau mengelola Amal Usaha, namun terasa kaku saat harus memeluk dan memahami kegelisahan jiwa anak-anak kita. Jangan biarkan mata kita tajam menganalisis data-data organisasi, tetapi buta membaca suasana hati buah cinta kita.
Seorang ayah bukan hanya sosok, melainkan sebuah cahaya spiritual. Jika cahaya itu meredup, maka seluruh langkah peradaban yang kita cita-citakan dalam Muhammadiyah akan berjalan dalam kegelapan.
Mari kita mulai dari yang sederhana: meluangkan waktu membaca Qur’an bersama sebelum tidur. Mari kita berdiskusi visi keluarga seserius kita membahas visi Persyarikatan. Peradaban Islam Berkemajuan tidak dibangun di istana megah, melainkan di rumah-rumah mukmin yang menyalakan ilmu dan kasih sayang.
Selamat Hari Ayah Nasional. Semoga Allah menyalakan kembali lentera ilmu dan kasih di hati setiap ayah pejuang.
Baca juga:
Pilar Utama Peradaban: Menguatkan Peran Ibu sebagai Madrasatul Ula


