Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Panduan Lengkap: Variasi Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir yang Jarang Diketahui

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Panduan Lengkap: Variasi Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir yang Jarang Diketahui
Suasana khusyuk jamaah di masjid saat mendirikan shalat malam di bulan suci. Umat Islam dapat mengamalkan tata cara shalat tarawih dengan beragam variasi jumlah rakaat shalat tarawih beserta shalat witir, memberikan kelonggaran dan kemudahan bagi umat.

Banyak umat Islam menyangka jumlah rakaat shalat tarawih hanya ada satu atau dua model saja. Kenyataannya, Rasulullah SAW memberikan banyak kelonggaran. Kita bisa menyesuaikan tata cara shalat tarawih maupun pelaksanaan shalat witir dengan kondisi masing-masing

Secara umum, masyarakat lebih mengenal dua versi utama. Versi Muhammadiyah melaksanakan 11 rakaat dengan formasi empat, empat, dan tiga. Sementara itu, warga NU biasa mengerjakan 23 rakaat. Praktik ini terdiri atas dua puluh rakaat tarawih, dua rakaat bagian witir, dan satu rakaat witir penutup.

Meskipun demikian, sunnah Rasulullah SAW sebenarnya memiliki lebih banyak versi. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari riwayat sahih terkait shalat malam ini. Berikut adalah ragam jumlah rakaat shalat tarawih beserta witirnya yang patut kita ketahui.

Formasi Sebelas dan Tiga Belas Rakaat

Pertama, Nabi SAW pernah mempraktikkan formasi empat rakaat, empat rakaat, dan tiga rakaat.

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْئَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْئَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

Artinya: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat tiga raka’at” (HR Bukhari: 1079, 3304, Muslim: 1219).

Kedua, beliau juga sering mengerjakan dua kali empat rakaat. Selanjutnya, beliau menutupnya dengan lima rakaat sekaligus.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا

Artinya: “Dari ‘Ā’isyah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah Rasulullah saw salat malam tiga belas rakaat, beliau berwitir dengan lima rakaat dan beliau sama sekali tidak duduk (di antara rakaat-rakaat itu) kecuali pada rakaat terakhir” (HR Muslim: 1217).

Ketiga, Rasulullah SAW juga mencontohkan dua rakaatan sebanyak lima kali. Sesudah itu, beliau melanjutkannya dengan tiga rakaat penutup.

لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Artiya: “Sungguh aku perhatikan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, ternyata beliau memulai dengan shalat dua rakaat yang ringan. Kemudian beliau shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian beliau shalat witir sehingga semua menjadi 13 raka’at.” (HR. Muslim: 1248, Abu Dawud: 1159).

Kelonggaran Formasi dan Rakaat Witir

Keempat, ketika usia beliau makin senja, formasi ibadah beliau pun menyesuaikan kondisi fisik. Beliau mengerjakan tujuh rakaat, lalu menambah dua rakaat sambil duduk.

يَا بُنَيَّ فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَ مَا سَلَّمَ فَتِلْكَ تِسْعُ رَكَعَاتٍ

Artinya: “Wahai anakku, setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencapai umur senja dan mulai gemuk, beliau mengerjakan witir tujuh rakaat, lalu shalat dua rakaat sambil duduk setelah salam, sehingga semuanya menjadi sembilan rakaat” (HR. an-Nasai 1583, Nasai 1699, dll).

Kelima, Islam senantiasa memberikan kebebasan dalam memilih jumlah shalat witir. Umat Islam boleh menunaikan tujuh, lima, tiga, atau satu rakaat saja.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِخَمْسٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِوَاحِدَةٍ

Artinya: “Shalat witir itu benar. Siapa pun yang hendak shalat witir, maka ia boleh mengerjakannya tujuh rakaat. Apabila ingin lima rakaat, hal itu juga diperbolehkan. Begitu pula jika ia memilih tiga rakaat, dan bagi yang menghendaki, ia boleh mengerjakannya cukup satu rakaat” (Nasai 1651, 1692, 1693).

Keenam, kita juga bisa mengerjakan dua rakaat berulang yang ditutup dengan satu rakaat witir.

مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ ، تُوتِرُ لَكَ مَا قَدْ صَلَّيْتَ

Artinya: “Salat malam itu dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika engkau khawatir datang shubuh, berwitirlah dengan satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir” (HR. Bukhari: 452, 453, Muslim: 1239).

Ketujuh, ada pula riwayat pelaksanaan dua rakaatan sebanyak lima kali. Kemudian, amalan tersebut diakhiri dengan satu rakaat.

كَانَ الن ّ َبِي ّ ُ صَل ّ َى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل ّ َمَ يُصَل ّ ِي مَا بَيْنَ أَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشَرَةِ رَكْعَةً يُسَل ّ ِمُ فِي كُل ّ ِ اثْنَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ

Artinya: “Selepas waktu isya hingga fajar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam salat sebanyak sebelas raka’at. Pada setiap dua raka’at beliau salam dan witir satu raka’at” (HR Ibnu Majah: 1348).

Sikap Bijak Menyikapi Perbedaan

Dengan demikian, terbukti bahwa jumlah rakaat shalat tarawih sangatlah beragam. Siapapun pasti keliru jika mendakwahkan satu model shalat malam saja. Terlebih lagi jika mereka melontarkan tuduhan bid’ah atau sesat kepada saudara yang berbeda.

Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati saat berdakwah. Jangan sampai kita berdakwah hanya demi membela golongan tertentu. Dalam ibadah mahdah, mari kita senantiasa merujuk pada tuntunan mulia Rasulullah SAW demi menjaga ukhuwah.

Baca juga:

Cari Lokasi Tarawih Muhammadiyah Semarang? Cek Daftar Lengkapnya di Sini

Stop Keliru! Ternyata Shalat Tarawih 4 Rakaat Gak Perlu Pakai Tahiyat Awal

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: