Seringkali kita terjebak pada rutinitas ibadah tanpa benar-benar meresapi maknanya. Padahal, Islam bukan sekadar gerakan shalat atau menahan lapar saat puasa. Ada dimensi yang lebih dalam yang menyempurnakan iman kita, yaitu Ihsan.
Banyak yang bertanya, bagaimana sebenarnya ukuran seseorang disebut Muslim yang sah? Lalu, bagaimana cara mencapai ketenangan batin (tasawuf) tanpa harus ikut aliran tertentu yang kadang membingungkan? Muhammadiyah memberikan pandangan yang jernih dan berkemajuan mengenai hal ini.
Berikut panduan mengenai Rukun Islam dan hakekat Ihsan yang disarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025.
Rukun Islam: Bukti Nyata Keimanan
Rukun Islam yang lima—mengucapkan syahadat, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji—bukanlah sekadar daftar tugas. Kelimanya adalah bukti zhahir (tampak nyata) bahwa seseorang menganut Islam. Mengapa ini penting? Karena keyakinan di dalam hati tidak ada yang tahu selain Allah, maka amalan lahiriah inilah indikasinya.
Lantas, bagaimana jika seseorang meninggalkannya? Di sinilah letak perbedaan krusialnya:
• Meninggalkan karena Ingkar: Jika seseorang sadar kewajibannya tapi mengingkarinya (menolak kebenaran perintah tersebut), maka ia dianggap keluar dari Islam (kafir). Konsekuensinya berat: jenazahnya tidak diurus secara Islam, hak waris terputus, hingga pernikahan yang harus dipisahkan.
• Meninggalkan karena Lalai: Jika tidak dilaksanakan karena malas atau faktor lain, namun hatinya masih meyakini kewajiban tersebut, ia tetap dianggap Muslim yang sah. Statusnya adalah pelaku maksiat atau dosa besar. Hak-haknya sebagai Muslim (seperti pengurusan jenazah dan warisan) masih tetap berlaku.
Ihsan: Tasawuf-nya Warga Muhammadiyah
Jika Rukun Islam adalah ‘raga’, maka Ihsan adalah ‘nyawa’-nya. Ihsan adalah sikap mental di mana seorang hamba merasa selalu diawasi oleh Allah SWT dalam setiap detik kehidupannya.
Perasaan “selalu diawasi” inilah CCTV paling canggih yang membuat seseorang selalu mawas diri, hati-hati, dan termotivasi melakukan hal positif meski tidak ada manusia lain yang melihat.
Dalam pandangan Muhammadiyah, inilah bentuk tasawuf yang sebenarnya. Risalah Islam Berkemajuan menyebutnya sebagai tasawuf yang akhlaqi (moral), ihsani (etos), dan ijtima’i (sosial).
Artinya, untuk bertasawuf, Anda tidak harus mengikatkan diri pada tarekat tertentu atau menyepi jauh dari keramaian. Tasawuf ala Muhammadiyah justru diwujudkan dalam kesalehan sehari-hari: kedermawanan sosial, hidup sederhana, dan menebar manfaat di tengah masyarakat.
Islam adalah perpaduan utuh antara keyakinan, ritual fisik, dan kedalaman spiritual. Rukun Islam menjadi fondasi identitas kita sebagai Muslim, sementara Ihsan adalah kualitas yang membuat identitas itu bernilai.
Muhammadiyah menekankan bahwa tasawuf yang sejati adalah praktik akhlak mulia. Sebagaimana dikatakan al-Kannani, tasawuf adalah akhlak. Semakin bertambah nilai akhlak Anda—baik kepada Allah, diri sendiri, sesama manusia, maupun alam semesta—maka semakin tinggi pula nilai tasawuf Anda di hadapan Allah SWT.
Baca juga : Dari Zabur hingga Al-Qur’an: Memahami Makna dan Fondasi Iman kepada Kitab Allah