Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Pendidikan Anak dalam Islam: Pengasuhan Masa Kehamilan dan Aqiqah (Bagian 3)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Pendidikan Anak dalam Islam: Pengasuhan Masa Kehamilan dan Aqiqah (Bagian 3)
Memanjatkan doa perlindungan dan kebaikan sejak janin berada dalam kandungan merupakan langkah pertama dan paling fundamental dalam pendidikan anak dalam Islam guna memohon keturunan yang saleh.

Pada bagian kedua sebelumnya, kita telah menelaah tanggung jawab krusial pemimpin keluarga dalam mencetak generasi saleh dan menjaga rumah tangga dari ancaman api neraka. Pembahasan tersebut juga menggarisbawahi pentingnya merutinkan doa agar keturunan tidak menjadi musuh yang membawa fitnah. Melanjutkan urgensi tersebut, sekuel ketiga ini akan membedah fase paling awal dalam pendidikan anak dalam Islam, yakni pengasuhan sejak masa kehamilan, tuntunan menyambut kelahiran, hingga pelaksanaaan syariat aqiqah dan pemberian nama.

Ketika anak masih berada dalam rahim, ibu dan ayah harus memanjatkan banyak doa. Praktik ini merupakan fondasi awal pendidikan anak dalam Islam demi memohon kebaikan keturunan. Allah SWT memberikan tuntunan doa melalui Al-Qur’an:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa – (QS Ali ‘Imran: 38).

Doa tersebut wajib orang tua iringi dengan permohonan perlindungan dari gangguan setan. Lafal Al-Qur’an mengajarkan:

وَاِنِّيۡ اُعِيۡذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيۡطٰنِ الرَّجِيۡمِ

Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-cucunya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk – (QS Ali Imran: 36).

Menyikapi Tradisi Kehamilan Secara Islami

Al-Qur’an maupun sunah memang tidak menyinggung ritual empat bulanan, mitoni (tujuh bulanan), ataupun brokohan. Meski demikian, umat Islam tidak perlu serta-merta melabelinya sebagai khurafat atau bidah. Masyarakat cukup mendudukkan ritual tersebut sebagai tradisi lokal semata. Caranya dengan menghilangkan seluruh dimensi sakralitas dan mengubahnya menjadi acara tasyakuran atas kesehatan janin dan ibu yang mengandung.

Pendidikan anak dalam Islam mengajarkan kita untuk memperbanyak doa kebaikan selama masa kehamilan. Berikut doa yang sebaiknya keluarga panjatkan:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugerahilah kami keturunan yang termasuk orang-orang yang saleh – (QS as-Shaffat/38: 100).

Para ulama juga memberikan tuntunan doa khusus untuk memohon keberkahan anak:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ

Ya Allah berilah barokah untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepada Mu dan karuniakanlah hamba rejeki berupa bakti mereka.

Saat menggelar tasyakuran mitoni, orang tua bisa membaca untaian doa ulama berikut:

اللهُمَّ طَوِّلْ عُمُرَهُ وَصَحِّحْ جَسَدَهُ وَحَسِّنْ خُلُقَهُ وَأَفْصِحْ لِسَانَهُ وَأَحْسِنْ صَوْتَهُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْاٰنِ

Ya Allah, panjangkan umurnya, sehatkan jasadnya, baguskan akhlaknya, fasihkan lisannya, merdukan suaranya untuk membaca Al-Qur’an.

Setelah sang bayi menghirup udara dunia, orang tua langsung menyambutnya dengan doa perlindungan:

أُعِيْذُهُ بِالوَاحِدِ الصَّمَدِ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى حَسَدٍ

Ya Allah Yang Maha Esa, tempat semua orang meminta, aku mohon perlindungan-Mu untuk anakku dari segala kejahatan orang.

Hakikat Pelaksanaan Syariat Aqiqah

Memasuki hari ketujuh dari kelahiran, orang tua melaksanakan syariat aqiqah. Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya ibadah ini bagi masa depan sang bayi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama (HR Abu Daud: 2455, Nasai: 4149, Darimi: 1887, Ahmad: 19225, 19274, 19327, 19330, 19382).

Pelaksanaan aqiqah melibatkan penyembelihan hewan kambing. Syariat menetapkan proporsi satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor untuk anak laki-laki:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya) untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan (HR Turmizi: 1433, 1436, Abu Dawud: 2451, 2459, Darimi: 1884).

Ritual aqiqah menyimpan hikmah linguistik yang sangat mendalam. Secara kebahasaan, kata aqiqah seakar dengan ‘uqûq (durhaka) dan ‘aqīq (batu permata). Anak yang tidak diaqiqahi berisiko tumbuh menjadi sosok yang durhaka. Sebaliknya, anak yang diaqiqahi memiliki peluang besar menjadi permata hati bagi kedua orang tuanya.

Adab Pemberian Nama Pembawa Berkah

Prosesi aqiqah selalu berbarengan dengan momen pemberian nama. Pendidikan anak dalam Islam sangat memperhatikan identitas yang melekat pada seorang anak. Rasulullah SAW mengingatkan:

إنكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَبِأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسَمَائِكُمْ

Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka buatlah nama yang baik bagi kalian (HR Abu Daud: 4297, Darimi: 2578, Ahmad: 20704).

Di antara jutaan kosa kata, syariat memberikan panduan nama-nama yang sangat dicintai oleh Allah:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَ وَجَلَّ: عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sesungguhnya nama kalian yang paling disukai Allah ‘Azza waJalla adalah Abdullah dan Abdur-Rahman (HR Muslim: 3975, Ahmad: 4544, 16945).

Hadis memberikan urutan prioritas nama yang baik. Deretan terbaik mencakup Abdullah, Abdurrahman, Abdurrahim, dan gabungan Abdul dengan Asmaul Husna. Pilihan mulia lainnya meliputi nama nabi, nama rasul, hingga nama para malaikat.

Orang tua juga boleh menggunakan nama lokal bernuansa positif, seperti Suharto yang berarti harta yang baik (bukan dari hasil korupsi). Nama perempuan bisa mendapat penyesuaian ta marbuthah agar lebih indah diucapkan, seperti Humaidah menjadi Humaida.

Pantangan terbesarnya, syariat melarang mutlak pemberian nama makhluk terkutuk (setan), nama berkonotasi buruk, atau nama yang menyamai kemutlakan Allah SWT seperti Malikul Amlak.

Baca juga:

Pendidikan Anak dalam Islam: Penanaman Tauhid dan Syariat Salat (Bagian 1)

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Membentuk Generasi Saleh (Bagian 2)

Pendidikan Anak dalam Islam: Panduan ASI Eksklusif dan Cegah Stunting (Bagian 4)

Pendidikan Anak dalam Islam: Fikih Pengasuhan Masa Nifas (Bagian 5)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: