Masyarakat sering mengira Muhammadiyah dan Salafi sebagai dua kelompok yang sepenuhnya identik. Asumsi ini muncul karena keduanya sangat gencar menolak praktik ibadah yang tidak ada tuntunannya. Namun kenyataannya, kita menemukan berbagai perbedaan Muhammadiyah dan Salafi dalam praktik ibadah sehari-hari.
Keduanya memang secara konsisten menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama. Meskipun demikian, mereka kerap berbeda dalam merumuskan dan menerapkan hukum fikih terapan.
Oleh karena itu, kita perlu mengenali titik perbedaan ini secara bijak. Pemahaman yang utuh pasti akan menjaga ikatan persaudaraan umat tetap erat. Selanjutnya, artikel ini akan membedah perbedaan praktik keseharian tersebut untuk menambah wawasan keislaman kita.
Ragam Praktik Fikih Keseharian
Catatan sejarah dan kajian ulama memotret dengan jelas titik perbedaan Muhammadiyah dan Salafi di era sekarang. Kita bisa melihat perbedaan tersebut dengan mudah dalam penentuan waktu ibadah. Muhammadiyah secara disiplin menetapkan awal bulan kamariah menggunakan metode hisab. Sementara itu, Salafi lebih memilih mengikuti ketetapan penanggalan dari kalender Arab.
Selanjutnya, urusan penampilan fisik dan cara berbusana juga menampilkan cara pandang yang saling berbeda. Muhammadiyah memandang hukum isbal atau memanjangkan pakaian di bawah mata kaki sangat bergantung pada niat penggunanya. Sebaliknya, pandangan Salafi mengharamkan isbal secara mutlak dan mewajibkan jamaahnya mengenakan celana cingkrang.
Aturan mengenai jenggot juga menjadi titik pembeda yang nyata. Muhammadiyah membolehkan umat merapikan jenggot agar selalu terlihat bersih. Di sisi lain, Salafi melarang keras praktik mencukur atau merapikan jenggot tersebut.
Detail Tata Cara Ibadah Shalat
Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi juga menyentuh detail pelaksanaan shalat jamaah dan shalat tarawih. Terkait aturan kerapian shaf, Muhammadiyah meminta jamaah merapatkan barisan tanpa harus menempelkan jari-jari kaki. Salafi justru mengharuskan jamaah saling menempelkan jari kaki secara rapat sempurna.
Selain itu, saat jamaah bangkit dari sujud, Muhammadiyah menilai posisi tangan tidak perlu mengepal ke lantai. Salafi sangat mewajibkan umat mengepalkan tangan layaknya seorang pembuat adonan roti.
Khusus untuk ibadah malam bulan Ramadhan, Muhammadiyah membolehkan pelaksanaan shalat tarawih dengan formasi 4 rakaat maupun 2 rakaat salam. Adapun kalangan Salafi hanya membolehkan formasi 2 rakaat salam.
Pendekatan Muamalah dan Tradisi Masyarakat
Umat Islam juga kerap menyoroti perbedaan keduanya dalam merespons urusan muamalah masyarakat. Muhammadiyah membolehkan umat menunaikan kewajiban zakat fitrah menggunakan uang tunai. Di sisi berlawanan, kalangan Salafi mengharamkan praktik pembayaran menggunakan uang tersebut.
Bahkan, Muhammadiyah mengakui adanya kewajiban menunaikan zakat profesi bagi pekerja modern. Salafi secara tegas menyatakan bahwa zakat profesi tidak memiliki dasar hukum sama sekali.
Dalam menyikapi seni dan tradisi, Muhammadiyah membolehkan umat mendengarkan musik serta menyelenggarakan acara halal bihalal. Namun, Salafi mengharamkan musik dan tradisi halal bihalal secara mutlak tanpa ruang kompromi.
Begitu pula dalam merespons dinamika bernegara, Muhammadiyah membolehkan aksi demonstrasi untuk menyuarakan kebenaran. Salafi melarang keras segala bentuk aksi demonstrasi terhadap penguasa pemerintahan.
Kesimpulannya, semua variasi praktik sehari-hari ini murni merupakan masalah cabang agama belaka. Umat Islam tidak pantas memperdebatkan perbedaan Muhammadiyah dan Salafi hingga merusak nilai silaturahmi. Keduanya tetap bersaudara di bawah naungan kalimat tauhid yang sama.
Kita sebaiknya memandang khilafiyah ini sebagai bukti kekayaan tradisi ijtihad dalam keilmuan Islam. Toleransi dan kedewasaan beragama tentu akan menjadikan umat Islam terhindar dari perpecahan.
Pada akhirnya, sikap saling menghargai adanya perbedaan Muhammadiyah dan Salafi ini akan membawa peradaban Islam bergerak jauh lebih maju.
Baca juga:
Mengenal Persamaan dan Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi Secara Obyektif