Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Qunut Nazilah: Sejarah dan Asal Usulnya (Bagian 1 dari 2)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Qunut Nazilah: Sejarah dan Asal Usulnya (Bagian 1 dari 2)

Duka mendalam pernah menyelimuti hati Rasulullah SAW hingga membuat beliau tak berdaya. Musibah besar menimpa para sahabat pilihannya, sebuah tragedi yang memicu beliau melakukan Qunut Nazilah selama sebulan penuh dalam setiap shalat fardu (maktubah).

Doa itu dipanjatkan bukan tanpa sebab. Rasulullah terpukul hebat oleh pembantaian keji terhadap 10 sahabat di Ar-Raji dan 70 sahabat penghafal Al-Qur’an (hufaz) di Bi’r Ma’unah. Bagaimana kisah memilukan ini bermula?

Tragedi Ar-Raji dan Bi’r Ma’unah

Peristiwa ini terjadi pada bulan Safar tahun 4 Hijriah. Saat itu, perwakilan Bani ‘Udhul dan Al-Qarrah datang menemui Nabi. Mereka meminta agar Nabi mengajarkan agama Islam kepada kaumnya. Tentu saja, Nabi menyambut permintaan ini dengan sangat gembira. Beliau kemudian mengutus 10 sahabat di bawah pimpinan Asim bin Sabit al-‘Aqlah.

Namun, malang tak dapat ditolak. Perjalanan baru sampai di dekat mata air Bani Hudzail, di daerah Raji’, rombongan ini disergap dan dibantai. Hanya dua orang yang selamat, yaitu Khubaib dan Zaid. Kisah tragis ini kemudian populer disebut dengan Sariyatur Raji.

Pada bulan yang sama dengan pengiriman pasukan Sariyatur Raji, Rasulullah SAW juga mengirim para sahabat pilihan beliau ke Najd. Rombongan ini berjumlah 70 orang di bawah pimpinan Muhammad bin ‘Uqab.

Mereka dikenal sebagai para sahabat yang ahli membaca Al-Qur’an (ahlul qurra’), rajin salat tahajud, serta suka bekerja keras. Hasil kerja keras mereka biasa diinfakkan untuk para sahabat Rasulullah yang tinggal di Suffah (serambi Masjid Nabawi).

Nahas, saat perjalanan baru sampai di Bi’r Ma’unah, mereka dibantai habis-habisan. Mayat mereka dimasukkan ke dalam sumur dan dibakar. Hanya Amr bin Umayyah yang lolos dari maut. Dialah yang kemudian melaporkan peristiwa memilukan itu kepada Nabi.

Doa Qunut dan Laknat

Secara manusiawi, hati Nabi sangat terpukul. Beliau merasa tidak berdaya karena peristiwa tersebut sudah berlalu. Beliau hanya bisa berdoa, yang belakangan dikenal sebagai doa Qunut Nazilah. Demikian hadis tentang Qunut Nazilah:

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ

(Rasulullah saw melakukan kunut selama satu bulan berturut-turut pada shalat Zuhur, Asar, Magrib, Isyak, dan Subuh pada setiap rakaat terakhir saat beliau membaca: sami‘Allāhu liman ḥamidah dari rakaat terakhir – HR Abu Dawud: 1231, Ahmad: 2610, Ibnu Khuzaimah: 618).

Kandungan doa dalam Qunut Nazilah tersebut berisi laknat terhadap kaum kafir:

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِنَ الْفَجْرِ يَقُولُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَناً وَفُلاَناً وَفُلاَناً.

بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

(Dia mendengar Rasulullah saw apabila telah bangkit dari rukuk rakaat terakhir shalat Subuh, beliau berdoa: Ya Allah laknatlah si fulan, si fulan dan si fulan, yaitu setelah beliau mengucapkan sami’Allāhu liman ḥamidah, Rabbanā wa lakal-ḥamdu – HR Bukhari: 3762, 4193).

Nama-nama “fulan” yang dilaknat secara spesifik dalam doa tersebut antara lain: Lihyan, Ri’lan, Zakwan, dan ‘Ushayyah (HR Muslim: 1082).

Selanjutnya, beliau memohon keselamatan di alam baka untuk para syuhada dengan menyebut nama mereka:

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَدْعُو فِى الْقُنُوتِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِى رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ سِنِينَ كَسِنِى يُوسُفَ

(Nabi saw berdoa di dalam kunut: Ya Allah selamatkanlah Salamah bin Hisyam, al-Walid bin al-Walid dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Ya Allah selamatkanlah orang-orang yang lemah dari mukmin. Ya Allah keraskanlah hukuman-Mu atas Mudar, dan timpakanlah kepada mereka tahun-tahun paceklik sebagaimana terjadi pada masa Yusuf – HR Bukhari: 762, 951, 2715, 3134, 4232, 5914, dan 6427).

Teguran Keras dari Allah

Ternyata, Allah tidak berkenan melihat Rasulullah berkabung berlarut-larut. Teguran keras pun beliau terima:

فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَىْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

(Kemudian Allah menurunkan ayat, itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima taubat mereka atau mengazabnya karena sesungguhnya mereka orang-orang yang zalim – HR Bukhari: 3762, 4193, 4194, dan masih banyak riwayat semakna).

Teguran ini termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 128.

Jika dibahasakan secara lugas, teguran itu berbunyi: “Mad, yang kamu ratapi atau kamu laknat itu bukan urusanmu, apakah mereka itu tobat atau disiksa!”

Di balik teguran itu, seolah terkandung pesan tegas: Hadapi kenyataan. Yang terlewat, biarlah lewat.

Peristiwa itu tidak bisa diputar kembali. Jangan sampai lengah seperti dulu. Waspadalah!

Perangi mereka, sehingga kelicikan dan tipu daya mereka tidak terulang lagi.

Atas teguran itu, Rasulullah tidak pernah lagi berdoa qunut berkabung atau melaknat dalam shalat-shalatnya.

Beliau juga tidak lagi melakukan doa qunut dalam shalat Subuh secara terus-menerus, meskipun sebagian besar kaum muslimin saat ini rajin melakukannya dengan berbagai dasar dalil.

Pasca-tragedi Ar-Raji dan Bi’r Ma’unah, Rasulullah bersama sahabat menyusun kekuatan militer.

Mereka menerapkan taktik dan strategi jitu untuk ukuran saat itu dalam menghadapi setiap gangguan, hambatan, ancaman, dan rintangan dari kaum kafir dan sekutunya.

Rasulullah berhasil secara gemilang. Beliau wafat dalam puncak kekuasaan politik.

Seluruh Jazirah Arab telah menjadi satu kesatuan bangsa yang berdaulat di bawah pemerintahannya.

Refleksi Sejarah

Tragedi Ar-Raji dan Bi’r Ma’unah memiliki kemiripan dengan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1965, sembilan jenderal Angkatan Darat diculik oleh PKI. Eksekutornya adalah pasukan Cakrabirawa. Selanjutnya, korban dibunuh dan dimasukkan ke sumur Lubang Buaya.

Di Andong, Boyolali, seorang santri bernama Pak Taslim juga diculik PKI. Ia kemudian dibunuh dan dimasukkan ke sumur lengkap dengan sepeda miliknya.

Sangat mungkin, penculikan PKI terhadap sembilan jenderal Angkatan Darat diskenario oleh D.N. Aidit. Mengingat, sebelum menjadi PKI, dia adalah santri terpelajar. Kemungkinan ia mengetahui taktik dan strategi bagaimana kaum antipati Islam menipu Nabi dan mengeksekusi korbannya dalam tragedi Ar-Raji dan Bi’r Ma’unah. Selanjutnya, D.N. Aidit menjadikannya sebagai inspirasi modus penculikan dan eksekusi sekaligus.

Wallâhu a’lamu biṣawâb.

(Bersambung)

Baca juga:

Qunut Nazilah: Hukum dan Pelaksanaannya (Bagian 2 dari 2)

Panduan Praktis Fiqih Kunut Subuh: Cara Makmum Berbeda Mazhab Mengikuti Imam (Bagian 1)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: