Saat berbicara mengenai pusat pendidikan Islam, pikiran kita sering tertuju ke jazirah Arab. Kita mungkin langsung terbayang kota Bagdad, Kufah, dan Basrah di Irak. Atau teringat Damaskus, Madinah, Makkah, hingga Kairo. Orang sering lupa tentang kota-kota Iran pada masa lalu. Padahal, wilayah ini adalah pusat keilmuan Islam klasik. Tempat ini juga menjadi tanah kelahiran banyak ulama Sunni di Iran.
Mari kita lihat Khurasan sebagai wilayah Persia klasik. Kawasan ini dahulu mencakup Merv (kini Turkmenistan) hingga Balkh dan Ghazna (Afghanistan). Wilayahnya juga membentang hingga Bukhara dan Samarkand (Uzbekistan).
Sumbangsih sejarah peradaban Persia terhadap Islam sungguh luar biasa. Semua pusat keilmuan itu menunjukkan satu hal penting. Mereka memiliki peradaban kuat untuk menopang tradisi intelektual, sistem politik, dan manufaktur.
Jejak Ulama Klasik di Kota-kota Tua Iran
Beberapa kota tua dahulu menjadi pusat pendidikan bagi para ulama Sunni di Iran. Khurasan, yang mencakup wilayah Nisabur, Tus, dan Esfarayin, banyak melahirkan tokoh penting. Nisabur memunculkan teolog Asy’ari seperti Imam Haramain Al-Juwaini. Dari sana juga lahir para ahli hadis besar. Mereka antara lain Imam Muslim, Al-Hakim, Abu Bakar al-Baihaqi, dan Ibnu Khuzaimah.
Tokoh sufi Abdul Karim al-Qusyairi dan sastrawan Fariduddin al-Attar juga tumbuh di Nisabur. Sementara itu, sosok legendaris Abu Hamid al-Ghazali berasal dari Tus. Adapun Abu Ishaq al-Isfarayini berasal dari wilayah Esfarayin.
Di sekitar Teheran, terdapat kota bersejarah bernama Rayy (Rhages). Daerah ini melahirkan banyak tokoh Islam Sunni bergelar ar-Razi. Fakhruddin ar-Razi dikenal sebagai ahli ushul fiqh dan mufassir. Abu Hatim ar-Razi tersohor sebagai pakar hadis. Qutbuddin ar-Razi merupakan ilmuwan yang ahli dalam ilmu mantiq. Terakhir, Abu Bakar ar-Razi diakui dunia sebagai filosof dan saintis hebat.
Isfahan merupakan kota terbesar ketiga di Iran saat ini. Tempat ini telah melahirkan banyak ulama besar Sunni. Muhammad Ibnu Mandah muncul sebagai ulama Hanbali yang disegani. Abu Muslim al-Asfahani dikenal luas sebagai penulis kitab tafsir.
Tokoh Asy’ariyyah terkemuka, Muhammad bin Hasan bin Furak, juga berasal dari sini. Begitu pula Abu Nuaim al-Asfahani sang penulis biografi sufi. Selain itu, ada ahli bahasa hebat bernama ar-Raghib al-Asfahani.
Jejak Cendekiawan di Utara dan Pelosok Iran
Kawasan utara Iran, yakni Qazvin, melahirkan cendekiawan dengan gelar al-Qazwini. Salah satunya adalah ilmuwan terkemuka bernama Zakariya al-Qazwini. Ada pula Najmuddin Abdul Ghaffar yang pakar mantiq dan ahli fikih Syafi’i. Tokoh lainnya adalah Jalaluddin al-Qazwini, pakar balaghah sekaligus hakim mazhab Syafi’i.
Shiraz atau Fairuzabad di Provinsi Fars tak kalah penting. Wilayah ini melahirkan pakar fikih Syafi’i, Abu Ishaq asy-Syirazi. Ia bahkan pernah menjabat kepala Madrasah Nizamiyyah di Bagdad. Sastrawan terkenal Hafidz asy-Syirazi juga lahir di sini.
Demikian pula tokoh sufi kontroversial, al-Hallaj. Majduddin al-Fairuzabadi, penyusun Kamus al-Muhith, juga berasal dari Fars. Ia adalah murid Ibnu Qayyim dan guru bagi Ibnu Hajar al-Asqalani.
Daerah-daerah kecil di Iran rupanya turut mencetak ulama besar. Jurjan (Gorgan) merupakan tempat lahir ahli bahasa Abdul Qahir al-Jurjani. Tabriz memunculkan Syamsuddin at-Tabrizi yang menjadi guru Jalaluddin Rumi. Bustham dikenal karena melahirkan tokoh sufi legendaris Abu Yazid al-Busthami. Sementara dari Abhar, muncul sosok Atsiruddin al-Abhari sang pakar mantiq.
Jejak keilmuan ini berlanjut ke kawasan Gilan (Jilan). Tempat ini melahirkan Abdul Qadir al-Jilani, tokoh sufi mazhab Hanbali terkemuka. Adapun wilayah Siraf menyumbangkan pakar bahasa bermazhab Syafi’i bernama Abu Said as-Sirafi.
Tidak tertinggal, kawasan Asadabad di Hamadan turut berkontribusi. Daerah ini melahirkan Qadhi Abdul Jabbar, tokoh Muktazilah bermazhab Syafi’i sekaligus guru Abul Hasan al-Asy’ari.
Akulturasi Hellenisme dan Kuatnya Peradaban Persia
Munculnya ratusan ilmuwan dan ulama Sunni asal Iran bukanlah suatu kebetulan. Mereka menguasai berbagai disiplin dari ilmu hadis, mantiq, hingga filsafat dan sains. Fakta ini membuktikan bahwa ekosistem wilayah tersebut sangatlah kompleks. Mereka berpijak pada fondasi sejarah peradaban Persia yang amat panjang. Kebudayaan mereka diperkaya oleh pengaruh Hellenisme dan akhirnya diislamkan oleh bangsa Arab.
Sejarah mencatat pergerakan Aleksander Yang Agung dari Makedonia. Setiap kali menaklukkan suatu wilayah, ia selalu menyebarkan budaya Yunani. Percampuran ini kemudian melahirkan peradaban Hellenisme. Akibat pengaruh ini, banyak daerah memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat. Contohnya adalah Iskandariyah di Mesir dan Antiokhia di Suriah. Pengaruh serupa juga tampak di Anatolia serta Samarkand-Bukhara.
Namun, hal unik terjadi di wilayah Persia. Budaya lokal justru berbalik memengaruhi kebudayaan Yunani. Aleksander bahkan mengadopsi gaya pakaian tradisional Persia. Ia juga menikahkan para prajuritnya dengan perempuan setempat.
Warisan budaya Persia terus bertahan dan diadaptasi oleh Kekhalifahan Abbasiyah. Pengaruhnya terasa kuat dalam tata pemerintahan dan etika sosial. Daulah Turki Seljuk di Anatolia pun sangat diwarnai oleh tradisi Persia ini.
Fakta-fakta ini menegaskan besarnya kekuatan peradaban Persia. Jejaknya bahkan terasa kental dalam studi keislaman klasik. Ada tiga pendekatan utama dalam kajian Islam pada masa lalu. Pendekatan bayani sangat dipengaruhi oleh kultur bahasa Arab. Pendekatan burhani lahir dari rasionalisme filsafat Yunani. Sementara itu, pendekatan irfani dan tasawuf terbukti dipengaruhi oleh nuansa kebudayaan Persia.
Kekuatan spiritual menjadi ciri khas bangsa ini. Akar sejarah dari para ulama Sunni di Iran telah membangun daya tahan yang luar biasa. Warisan peradaban ini membuat eksistensi bangsa Persia terus teruji. Kekuatan ini terlihat nyata dalam dinamika geopolitik modern.
Jejak kultur Hellenisme memudahkan mereka dalam mengembangkan sains dan teknologi. Pada saat yang sama, ajaran Islam menjadi ruh penggerak perlawanan mereka.