MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GAYAMSARI – Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gayamsari secara rutin mengadakan kajian yang diperuntukkan bagi staf AUM, pengajar dan masyarakat sekitar pada hari Ahad pada pekan ke-1,3,dan 4/5 setiap bulannya. Bertempat di masjid At-Taqwa Al-Mukaramah Jl. Medoho Seruni no 24, Sambirejo. Untuk tanggal 30 Januari 2022, kajian tersebut diisi oleh narasumber ustadz Drs. H. Ali Muhson, M.Ag. M.Pd.I, MH. MM. Beliau menjabat sebagai wakil ketua PWM Jawa Tengah bidang Pembina Majelis Tabligh dan MPM. Untuk kajian ini akan menyampaikan tema “Beribadah dan Berjuang dengan Jiddiyah (Sungguh-sungguh)”.

Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan keragu-raguan terhadap agama-Nya. Namun orang-orang yang benar beriman mereka menyembah Allah dengan ketetapan dan mata hati. Jika orang-orang yang ragu itu memperoleh kebajikan dunia berupa kesehatan ataupun kekayaan mereka tetap teguh dalam agamanya. Namun jika ia ditimpa oleh suatu bencana baik dari keluarga maupun hartanya maka serta merta mereka kembali kepada kekufuran. Rugilah ia di dunia sebab ia tidak mendapatkan kebaikan dunia dan juga rugilah ia di akhirat sebab dia akan diazab. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata, tidak ada kerugian melebihi itu.
Sebagaimana firman Allah didalam surat Al-Hajj ayat 11 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ِۨاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ِۨانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ
Terjemah Arti : Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.
Serta diriwayatkan dalam hadits Imam Bukhari :
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ { وَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ } قَالَ كَانَ الرَّجُلُ يَقْدَمُ الْمَدِينَةَ فَإِنْ وَلَدَتْ امْرَأَتُهُ غُلَامًا وَنُتِجَتْ خَيْلُهُ قَالَ هَذَا دِينٌ صَالِحٌ وَإِنْ لَمْ تَلِدْ امْرَأَتُهُ وَلَمْ تُنْتَجْ خَيْلُهُ قَالَ هَذَا دِينُ سُوءٍ
Terjemahan : Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Harits Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair Telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Hashin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas ra. dia berkata; berkenaan dengan firman Allah: Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. (Al Hajj: 11), bahwa dulu ada seseorang yang datang ke Madinah, apabila istrinya melahirkan seorang bayi dan kudanya beranak maka dia mengatakan; ini agama yang baik. Dan jika istrinya tidak melahirkan demikian juga kudanya, maka dia mengatakan ini adalah agama yang buruk [Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas].
Tafsir Ayat
Tafsir Al-Muyassar, Kementerian Agama Saudi Arabia: Dan diantara manusia ada orang yang masuk ke dalam Islam dengan dorongan yang lemah dan keraguan, sehingga dia menyembah Allah dengan ragu-ragu, layaknya orang yang tengah berdiri di atas tepi gunung atau tembok, dia tidak mantap dalam berdirinya, dan dia mengaitkan keimanannya erat dengan kehidupan dunianya. Apabila dia dalam keadaan sehat dan hidup dengan nyaman, maka dia akan meneruskan ibadahnya. Dan apabila terjadi padanya satu cobaan dengan kejadian yang tidak mengenakkan dan kesulitan, dia mengaitkan kesialannya itu kepada agamanya, lalu dia meninggallkan agamanya sebagaimana orang yang berbalik ke belakang setelah istiqamah. Disebabkan hal itulah, dia merugi di dunia, karena kekafirannya tidak mengubah apa yang ditakdirkan bagi dirinya untuk kehidupan dunianya, dan dia merugi di akhirat karena masuk ke dalam neraka. Dan itu adalah kerugian yang nyata.
Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di: Maksudnya, ada sebagian manusia yang lemah keimanannya. Keimanannya belum memasuki relung hatinya, dan pancaran cahayanya belum melapisinya, akan tetapi keimanan masuk kepadanya, baik lantaran rasa takut maupun (biasanya) keadaan imannya tidak teguh saat berhadapan dengan bermacam cobaan. “Maka jika mem;peroleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu.” Maksudnya jika (curahan) rizki kontinyu baginya dengan melimpah, tidak terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan (bencana) padanya, maka dia begitu puas dengan kebaikan tersebut, bukan (tenang) karena keimanannya. Orang semacam ini, mungkin saja Allah membebaskannya (dari ujian), tidak menebar fitnah baginya yang berpotensi membelokannya dari agamanya. “dan jika dia ditimpa oleh suatu bencana,” berupa peristiwa yang tidak baik, atau lenyapnya sesuatu yang dicintai, (maka) “berbaliklah dia ke belakang,” maksudnya dia murtad (keluar) dari agamanya. “Rugilah ia di dunia dan akhirat.” Tentang kerugian di dunia, maka dia meraih apa yang dia idam-idamkan melalui murtadnya sebagai modal dan sebagai barang barter dari angan-angan yang diduganya bisa didapatkan. Usahanya gagal. Tidak ada yang berhasil ia rengkuh melainkan bagian yang telah ditetapkan baginya. Mengenai kerugian akhirat, maka sangat jelas. Ia terhalangi dari surge yang luasnya seluas langit dan bumi. Dan dia dipastikan masuk neraka. “Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata,” yaitu yang jelas dan nyata.
Mujahid, Qatadah dan selain keduanya berkata: ‘alaa harfin (berada di tepi) yaitu di atas keraguan.” Sedangkan selain mereka berkata: “Yaitu berada di atas tepi, di antaranya ialah, yaitu tepi gunung.” Yakni, dia masuk ke dalam agama di tepinya, jika ia mendapatkan apa yang disenanginya maka dia tetap berada di dalamnya, dan jika tidak (disenanginya) dia pun berlalu.
Al-Bukhari berkata dari Ibnu `Abbas tentang ayat: wa minan naasi may ya’budullaaHa ‘alaa harfin (Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi), Yaitu, seorang laki-laki yang menuju Madinah. Jika isterinya melahirkan seorang anak laki-laki dan kudanya pun berkembangbiak, maka dia berkata: “Ini agama yang baik.” Jika isterinya tidak melahirkan serta kudanya tidak berkembang biak, maka dia berkata: “Ini agama yang buruk.” Mujahid berkata tentang firman-Nya: inqalaba ‘alaa wajhihi (berbaliklah ia ke belakang) yaitu kembali kepada kekafiran.
Firman-Nya: khasirad-dun-yaa wal aakhirah (rugilah dia di dunia dan di akhirat) yaitu, dia tidak meraih apa pun di dunia, sedangkan di akhirat saat dia berada dalam kekufuran kepada Allah Yang Mahaagung, maka dia berada di dalam puncak kecelakaan dan kehinaan. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: dzaalika Huwal khusraanul mubiin (Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata) yaitu sebuah kerugian yang besar dan perdagangan yang merugi.


Sebagaimana firman Allah didalam surat Ali Imran ayat 146 :
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قَاتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
Terjemah Arti : Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.
Tafsir Ayat:
Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili: Dan berapa banyaknya nabi yang berperang dengan musuh Allah, serta para ulama, ahli ibadah, dari pengikutnya yang bertakwa karena kesungguhan mereka dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana dan luka yang menimpa mereka untuk meninggikan kalimat Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Bahkan mereka tetap teguh dan sabar, Allah meneguhkan orang-orang yang sabar dalam berjihad dan lainnya. Perbedaan antara tiga lafadz: Wahn adalah di dalam hati, dha’f berada pada badan. Istikanah adalah menyerah kepada musuh.
Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di: Ini merupakan hiburan bagi kaum Mukminin dan sebuah anjuran untuk mengikuti jejak mereka dan melakukan seperti perbuatan mereka, dan bahwasanya perkara ini adalah perkara yang telah ada sejak dahulu, di mana sunnatullah terus berjalan seperti itu. Allah berfirman, “Dan berapa banyaknya nabi, ” maksudnya, betapa banyak Nabi, “yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa, ” yaitu, kelompok yang banyak dari pengikut-pengikutnya yang telah dididik oleh para nabi dengan keimanan dan amalan shalih, lalu mereka terbunuh, menderita luka, dan sebagainya. “Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” Maksudnya, hati mereka tidak menjadi lemah dan tubuh mereka tidak lesu dan tidak pula mereka menyerah, artinya mereka tidak tunduk di hadapan musuh mereka, akan tetapi mereka bersaabar, tegar, dan mengobarkan semangat bagi jiwa mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman “Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.”
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ
Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang taat. Perkataan كَأَيِّنْ menurut Qutaibah berma’na كم (kam) yang bererti berapa atau betepa banyak (Zad al-Masir, I h.426) Sedangkan kalimat رِبِّيُّونَ ada yang mengartikan bentuk jama dari رَبِّيٌّ yang berarti penyembah Allah atau orang yang taat beribadah, tapi menurut Ibn Abbas berma’na عُلَمَاء كَثِيْر ulama yang banyak. Ibn Zaid berpendapat bahwa رِبِّيُّونَ bermakna para pengikut sedangkan ربَّنيون berarti pembela, beda lagi dengan رَبِّيون berarti pemelihara (Tafsir al-Thabari, VII h.267). Dengan demikian makna pangkal ayat ini berapa banyak nabi yang berperang bersama para pengikutnya, pembelanya, serta hamba Allah yang taat dan berilmu.
Pendapat Ibnu Ishaq di dalam kitab As-Sirah menunjukkan pengertian bahwa sesungguhnya dia mengatakan bahwa berapa banyaknya nabi yang terbunuh, padahal dia ditemani oleh sejumlah orang yang banyak, tetapi ternyata para pengikutnya tidak lesu dan tidak lemah dalam meneruskan perjuangan nabi mereka sesudah nabi mereka tiada. Mereka tidak takut menghadapi musuh mereka dan tidak menyerah kepada musuh karena kekalahan yang mereka derita dalam jihad demi membela Allah dan agama mereka. Sikap seperti inilah yang dinamakan sifat sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran:146).
فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُو
Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Walau mereka menghadapi tantangan yang berat, tidaklah menjadi lemah, lesu aupun menyerah. Secara historis ayat ini memberikan peringatan pada kaum muslimin yang dilanda kekhawatiran akibat berita wafatnya Rasul SAW di tengah kecamuk perang Uhud. Dengan demikian seakan bertanya, mengapa kalian merasa lemah, lesu, patah semangat gara-gara isu yang belum tentu benar. Bukankan para nabi dan pengikutnya di masa silam juga menghadapi berbagai tantangan? Jangan dikira membela yang benar itu selalu lancar.
Menurut Qatadah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas, yakni mereka tidak lemah semangat karena terbunuhnya nabi mereka, dan tidak (pula) mereka menyerah. Yaitu mereka sama sekali tidak pernah mundur dari kewajiban membantu nabi-nabi mereka dan agama mereka, yakni dengan berperang meneruskan perjuangan nabi Allah hingga bersua dengan Allah, sampai titik darah penghabisan.
Menurut al-Zuhri, ayat ini berkaitan dengan peristiwa perang Uhud. Ketika Rasul SAW terjatuh dari kudanya dan terluka, ada yang menghembuskan isu bahwa Rasul wafat pada saat itu. Issu tersebut menimbulkan kegundahan dan kekawatiran bagi sebagian kaum muslimin yang sedang berjihad. Ayat ini sebagai teguran mengapa mereka merasa lemah, kawatir, atau gundah bukankah dulu juga banyak nabi dan rasul yang berperang bersama pengikutnya tak gentar tatkala terkena mushibat? (Al-Jami li Ahkam al-Qur`an, IV h.228)
Secara tersirat ayat ini membertikan bimbingan bahwa dalam memperjuangkan al-islam mesti terhindar dari sifat (1) وَهَنُوا merasa hina, atau turun semangat disebabkan oleh kekhawatiran; (2) ضَعُفُوا lemah semangat tidak berani menghadapi mausuh atau tantangan, disebabkan anggapan bahwa musuh lebih kuat atau lebih tinggi darina; (3) اسْتَكَانُو menyerah pada nasib, atau putus asa, hingga berhenti tidak mau bergerak.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
Allah menyukai orang-orang yang sabar. Mengapa kalian terkena penyakit wahn, dla’if, dan istikanah, padahal Allah mencintai orang yang shabar. Pengunci ayat ini juga merupakan jaminan, bahwa orang shabar dalam perjuangan akan meraih kemenangan. Shabar yang paling penting berdasar ayat ini adalah (1) bebas dari wahn maka mesti memiliki keberanian, penuh semangat tidak dilanda kekawatiran; (2) bebas dari dla’if, maka mesti kuat, gagah dan penuh kewaspadaan; (3) bebas dari istikanah, maka mesti terus bergerak untuk maju, pantang menyerah pada nasib, tidak putus asa. Dalam ayat lain dikemukakan bahwa orang shabar walau jumlahnya sedikit dapat mengalahkan lawan yang tidak shabar walau jumlahnya lebih banyak.
Inilah jaminan dari Allah untuk para mujahid yang sabar, teguh pendirian, semangat berjuang, pantang menyerah pada yang salah. Kebahagian yang diberikan pada mereka, adalah kesuksesan di dunia,dan pahala di akhirat serta meraih surga keni’matan paripurna.

Dukung pengembangan dakwah di Gayamsari melalui :
Kantor Layanan LazisMu
PCM Gayamsari
Zakat
Bank Syariah Indonesia
1021146214
Infaq
Bank Syariah Indonesia
1040367663
Konfirmasi :
CS KL Lazismu Gayamsari 0812 1544 6504
Zubad Ismail 0822 2076 7183
Penulis : Ali Muhson
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara