
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi, tidak hanya toleransi antar sesama Muslim, tapi juga toleransi dengan agama lain. Hal ini bertujuan untuk menciptakan perdamaian dalam kehidupan manusia. Diantara wujud perdamaian adalah dengan menebar salam. Salam merupakan ungkapan doa dan pengharapan akan kedamaian dan keselamatan. Mengucapkan salam berarti mendoakan orang lain agar keselamatan senantiasa mengiringi setiap langkahnya.
Ustadz Dr. H. Zuhad Masduki dalam kajian ahad pagi Majelis Tabligh PDM Kota Semarang menjelaskan tentang perihal etika salam yang diperuntukkan bagi non muslim sesuai dengan tafsir Al-Quran dan hadits. Dalam Al-Quran maupun hadis, keduanya banyak menjelaskan tentang tata cara bergaul dengan orang lain, baik itu sesama Muslim ataupun non-Muslim. Non-muslim adalah mereka yang berada di luar agama Islam. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang memeluk agama Katolik, Hindu, Budha,Yahudi, Konghucu, Sinto dan agama-agama lainnya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat An-nisa ayat 86
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
Artinya : Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.
Penjelasan dari ayat tersebut adalah jika seseorang (siapa pun dia) memberimu penghormatan berupa ucapan salam, ucapan selamat, doa dan semacamnya, maka balaslah penghormatan itu dengan penghormatan yang lebih baik atau yang sama. Sebab, sesungguhnya Allah selalu memperhitungkan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar.
Selain itu, etika ketika bertamu dan mengucapkan salam juga tercantum dalam firman Allah Swt dalam surat An-Nur ayat 27
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا۟ وَتُسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
Dari penjelasan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kita tidak diperkenankan untuk masuk kedalam rumah orang lain kecuali setelah meminta izin kepada penghuninya untuk memperkenankan masuk setelah memberi salam. Permintaan izin dan pemberian salam itu lebih baik bagi yang bertamu ketimbang masuk begitu saja, tanpa izin dan salam. Allah menentukan demikian agar kita dapat mengambil pelajaran dan melaksanakannya.
MEMBERI SALAM KEPADA NON MUSLIM
Mengenai hadis-hadis tentang bagaimana Nabi menjawab salam non-Muslim, terdapat tiga hadis yang termasuk dalam tema ini, yaitu Nabi menjawab salam dengan ucapan “wa „alaikum”, Nabi menjawab dengan ucapan“‟alaika” atau “wa „alaika”, serta Nabi memerintahkan untuk menjawab dengan “ „alaika mā qulta”.
1. Menjawab dengan “wa „alaikum”, sebagaimana dalam hadits Muslim no 2165
وحَدَّثنِِ عَمْرو الناقدُ، وَزهَيُْْ بنُ حَربٍ – وَاللفْظُ لزهَيٍْْ – قالََ: حَدَّث نا سُفْيَانُ بنُ عيَ يْ نةَ، عَنِ الزهْر يِ، عَنْ عُرْ وَةَ، عَنْ عائِشَةَ، قالتْ: اسْتأْذنَ رهْطٌ مِنَ اليَ هُودِ عَلَى رسُولِ اللِه صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلمَ فَ قَالوا: السَّامُ عَليْكُمْ، فَ قَالتْ عائشَةُ: بلْ عَليْكُمُ السَّامُ وَاللعْنةُ، فَ قَالَ رسُولُ اللِه صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَ لمَ: يََ عائشَةُ «إنَّ اللَه يَُِبُّ الرفقَ فِ الْْمْرِ كُل هِ» قالتْ: ألََْ تسْمَعْ مَا قالوا؟ قالَ: «قدْ قُ لْتُ وَعَليْكُمْ»
Artinya : Serombongan orang-orang Yahudi minta izin kepada Rasulullah saw untuk datang. Lalu mereka berkata, “kematian untukmu.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Bahkan kematian dan laknat untukmu.” Rasulullah saw bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelemahlembutan dalam semua urusan.” ‘Aisyah berkata, “Apakah baginda tidak mendengar apa yang mereka katakan?” Nabi saw bersabda, “aku sudah mengatakan ‘Justru untukmu’ (kematian dan laknat)”
Hadis ini menggambarkan tentang kelembutan Nabi bahkan saat menghadapi musuhnya yang secara terang-terangan menghinanya dengan mengucapkan perkataan yang kasar padanya. Aisyah menerangkan, bahwa beberapa orang Yahudi masuk ke tempat Nabi lalu mengatakan “al-samu alaikum” dengan cara memberi pengertian, bahwa mereka mengucapkan “al-salamu alaika”. Melihat peristiwa tersebut, Aisyah mengucapkan “wa alaikum al-samu wa al-la nat” kepada para tamu Yahudi yang tidak sopan itu. Nabi menegur Aisyah dengan mengatakan “Perlahan-lahan hai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam semua urusan”. Maka Aisyah bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, apa engkau tidak mendengar yang mereka ucapkan?”. Rasulullah menjawab “Aku telah mengucap wa alaikum.”
2. Menjawab dengan “alaika atau wa alaika”, sebagaimana dalam Hadits Muslim no 2164
حَدَّثَ نا يََْيََ بنُ يََْيََ، وََيَْيََ بنُ أَيوبَ، وَقُتَيبَْةُ ، وَابنُ حُجْرٍ – وَاللفْظُ ليحْيََ بنِ يََْيََ قالَ: يََْيََ بنُ يََْيََ: أخْبََنََ وََقالَ الْْخَرونَ: – حَدَّثَ نا إسْْاعِيلُ وَهُوَ ابنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللِه بنِ دِينارٍ، أنهُ سَِْعَ ابنَ عمَرَ، ي قُولُ: قالَ رسُولُ اللِه صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلمَ: «إنَّ ا لْيَ هُو دَ إذا سَلمُوا عَليْكُمْ ي قُولُ أحَدُهُمُ السَّامُ عَليْكُمْ فَ قُلْ عَلَيْكَ »
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, Yahya bin Ayyub, Qutaibah dan Ibnu Hujr lafazh ini miliknya Yahya bin Yahya. berkata Yahya bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami. Dan yang lainya berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu ‘Umar berkata; Rasulullah SAW. bersabda: “Orang orang Yahudi, bila mereka memberi salam kepadamu, maka salah seorang di antara mereka ada yang mengucapkan: Al-sāmu alaikum (semoga kematian bagi kalian). Maka jawablah: Alaika!” Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami „Abdur Rahman dari Sufyan dari „Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi SAW. dengan redaksi yang serupa. Hanya saja dia berkata; Maka ucapkanlah oleh kalian “wa alaika”
Para ulama berbeda pendapat tentang menyebutkan atau tidak menyebutkan huruf wawu dalam menjawab ucapan salam non-Muslim, karena perbedaan pandangan mereka mengenai riwayat yang lebih kuat diantara kedua riwayatnya.
Sebagai penutup, ustadz Zuhad menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, tidak hanya sekedar toleransi terhadap sesama muslim saja. Setiap Muslim dituntut agar memperlakukan semua manusia dengan kebajikan dan keadilan, walaupun mereka tidak mengakui agama Islam, selama mereka tidak menghalangi penyebarannya, tidak memerangi para penyerunya dan tidak menindas para pemeluknya. Setiap muslim dihimbau agar senantiasa menanamkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari agar terwujud kehidupan yang damai dan tentram. selain itu juga untuk mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan mencintai perdamaian.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara