Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang yang diwakili oleh Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus secara rutin mengadakan kajian yang diperuntukkan bagi masyarakat umum pada hari ahad setiap pekannya. Bertempat di masjid At-Taqwa kompleks RS Roemani Semarang. Untuk tanggal 16 Januari 2022, kajian tersebut diisi oleh narasumber ustadz Dr. H. Zuhad Masduki M.Ag. Beliau menjabat sebagai wakil sekretaris Yayasan Wakaf Pondok Pesantren Pabelan, yang akan menyampaikan tema “Informasi Menurut Al-Quran dan Tanggungjawab Penyebarannya”.

Ustadz Dr. H. Zuhad Masduki M.Ag. ketika menjadi narasumber kajian ahad pagi MTDK PDM Kota Semarang

Untuk mencari term informasi dalam al-Quran secara lafzhi tidak akan pernah ditemukan, tetapi tidak berarti kajian tentang informasi terhada Al-Quran menjadi tindakan mengada-ada atau suatu hal yang mustahil. Sebab al-Qur`an
merupakan salah satu bentuk informasi religius yang merupakan wahyu dari Allah yang disampaikan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW. melalui perantaraan Jibril as. untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Seperti diungkap sifat al-Qur‟an, sebagimana yang digambarkan Nabi SAW, bahwa kandungan al-Qur`an terdiri atas berita orang-orang sebelum kamu, dan berita apa-apa yang akan terjadi nanti, hukum tentang apa-apa yang terjadi diantara kamu sekalian. Ini merupakan rincian ketentuan dan bukan permainan, yang jelas bahwa ada “berita” dan ada kisah-kisah di dalamnya, selain menjelaskan ketentuan hukum kemasyarakatan.

Untuk menelusuri term-term informasi dalam al-Qur`an dapat dilihat melalui ungkapan-ungkapan, antara lain :

1. Kandungan Informasi

a. Benar dan tepat sasaran

Kata benar dan tepat sasaran atau dalam bahasa arab disebut qaulan sadidan bisa diartikan jujur serta adil tidak ada rekayasa atau penyimpangan informasi. Gambaran kebenaran dapat kita lihat dalam al-Qur`an surat An-Nisa‟ ayat 9.

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Terjemah Arti : Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.

Dalam ayat di atas menunjukkan konteks pembicaraan yang berhubungan dengan materi, kekhawatiran dan keturunan. Jika ditinjau secara psikologis permasalahan ini merupakan kebutuhan manusia, kebutuhan akan rasa aman, harta dan keturunan yang semuanya sangat potensial untuk membuat orang berlaku tidak adil atau menyimpang.

Kata sadidan dalam ayat di atas menurut pakar bahasa Ibnu Faris menunjuk kepada makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ia juga berarti istiqamah atau konsisten. Kata ini juga digunakan untuk menunjuk kepada sasaran. Seseorang yang menyampaikan sesuatu atau ucapan yang benar dan mengena tepat pada sasarannya dilukiskan dengan kata ini. Dengan demikian kata sadidan dalam ayat di atas tidak berarti sekedar benar tetapi juga harus tepat sasaran.

b. Baik Sesuai Kebiasaan

Ayat al-Qur`an yang berisi perintah dan anjuran, selalu berisi cara penyampaian (qaulan ma‟rufan) perkataan yang lemah lembut dan baik. Perkataan atau tata tutur baik pada umumnya sesuai dengan tradisi, budaya dan bahasa setempat, buka perkataan yang aneh-aneh dan sulit dimengerti. Ini terlihat dalam anjuran tentang pembagian harta kepada kerabat dan anak yatim yang diakhiri dengan kalimat qaulan ma‟rufan seperti dalam surat An-Nisa‟ ayat 8 :

وَاِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ اُولُوا الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنُ فَارْزُقُوْهُمْ مِّنْهُ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا

Terjemah Arti : Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

Ma‟ruf secara harfiah berarti sesuatu yang baik menurut syara‟ dan rasio. Ma‟ruf berarti baik menurut „uruf (adat istiadat), karena adat atau kebiasaan biasanya mengandung kebaikan. Karena adanya kandungan kebaikan itulah ia dikerjakan berulang-ulang sehingga menjadi adat kebiasaan.

c. Cukup dan Berkesan

Perkataan yang jelas, dapat dicerna dapat dipahami serta membekas dalam hati pendengarnya sebab perkataan itu diucapkan tepat waktu, tepat tempatnya dan tepat sasarannya. Dalam al-Qur`an terdapat ungkapan qaulan balighan yang berarti perkataan yang berbekas. Seperti firman Allah dalam QS.An-Nisa‟ 63 :

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُ اللّٰهُ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَّهُمْ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَوْلًا ۢ بَلِيْغًا

Terjemah Arti : Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.

Pada ayat sebelumnya Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW. agar memperhatikan sikap dan tingkah laku orang-orang yang telah mangaku dirinya beriman kepada al-Qur`an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. dan kepada kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelumnya. Orang-orang yang mengaku beriman ini telah berbuat sesuatu yang berlawanan dengan pengakuan keimanan yang mereka ucapkan.

Ayat ini menyatakan dengan tegas bahwa mereka itu adalah orang-orangorang yang telah diketahui apa yang tersimpan di dalam hati mereka, yaitu sifat dengki dan keinginan untuk melakukan tipu muslihat yang merugikan kaum muslimin. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Rasulullah SAW. dan Kaummuslimin agar jangan mempercayai mereka dan jangan terperdaya oleh tipu muslihat mereka. Di samping itu hendaklah mereka diberi peringatan dan pelajaran dengan kata-kata yang dapat mengembalikan mereka kepada kesadaran dan keinsafan sehingga mereka bebas dari sifat kemunafikan dan benar-benar menjadi orang yang beriman.

d. Ucapan Mulia

Kata ucapan mulia atau dalam bahasa arab biasa disebut qaulan kariman adalah ucapan yang baik, yakni yang benar, mudah dipahami sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, serta sesuai pula dengan kaidah kebahasaan. Kata karîman biasa diterjemahkan mulia. Kata ini terdiri dari huruf-huruf kâf, râ, dan mîm yang menurut pakar bahasa mengandung makna yang mulia dan terbaik sesuai objeknya. Bila dikatakan rizkun kârîm maka yang dimaksud adalah rezki yang halal dalam perolehan dan pemanfaatannya serta memuaskan dalam kualitas dan kuantitasnya. Bila kata kârîm dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, maka ia bermakna pema‟afan.

Sesuai firman Allah didalam surat Al-Isra ayat 23 :

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Terjemah Arti : Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Ayat di atas menuntut agar apa yang disampaikan kepada kedua orang tua bukan saja yang benar dan tepat, bukan saja yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam suatu masyarakat, tetapi ia harus yang terbaik dan yang paling mulia, dan kalaupun seandainya orang tua melakukan sesuatu kesalahan terhadap anak, maka kesalahan itu dianggap tidak ada dalam arti dimaafkan, karena tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya.

Perkataan mulia ini biasanya datang dari orang yang berhati mulia,ditujukan kepada orang-orang yang bermartabat untuk memuliakan kedudukan mereka di dalam keluarga dan masyarakat seperti orang tua, orang yang dituakan, atau kerabat dekat yang dikasihi.

e. Ucapan Lemah Lembut

Kelembutan adalah sikap syahdu yang selalu diminati oleh setiap orang. Kelembutan dalam berdakwah merupakan modal utama bagi muballigh atau muballighah. Melekatkan diri dengan sikap tersebut adalah sebuah keharusan. Sehingga, pendengar dapat merasa damai dan mudah mencerna apa yang disampaikan. Kelembutan dalam berdakwah ini sebagaimana telah disampaikan dalam firman Allah Q.S. Thaha [20] ayat 44:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰ

Terjemah Arti : Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.

Ayat ini (Q.S. Thaha [20]: 44) bertendensi pada kisah perjalanan Nabi Musa as yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk memberikan pengajaran yang baik kepada Fir’aun. Langkah tersebut adalah bagian dari ikhtiar yang harus dilakukan oleh Nabi Musa as untuk mengajak Fir’aun ke jalan yang benar. Maka, turunlah ayat ini sebagai metode yang dapat digunakan Nabi Musa as dalam menyampaikan dakwahnya.

Ayat ini (Q.S. Thaha [20]: 44) menjelaskan tentang pentingnya memilih metode yang tepat dalam menyampaikan dakwah Islam, yakni dengan retorika atau perkataan yang lembut. Kelembutan dalam berdakwah yang melekat pada setiap ungkapan akan melahirkan kebaikan bagi pendengar, karena pada dasarnya setiap manusia senang terhadap kebaikan.

f. Kemudahan dan Kelapangan

Kemudahan merupakan salah satu prinsip penting dalam Islam. Ia merupakan anugerah Allah SWT, diberikan agar manusia tetap bersemangat dan tekun dalam menjalankan ajaran agama, terutama dalam situasi sulit. Serperti firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 28 :

وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاۤءَ رَحْمَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا

Terjemah Arti : Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.

Ayat ini mencontohkan didikan yang baik kepada setiap insan, yakni janganlah kamu berpaling dari mereka dengan cara yang meremehkan mereka dalam hal kekayaan dan kekuatan sehingga kamu menjauh dari mereka, melainkan kamu boleh saja berpaling dari mereka tatkala kesulitan menghadapimu, atau rintangan yang merintangi antara kamu dengannya, dan ketika itu kamu mengharap dari Allah dibukakannya bagimu pintu kemudahan agar dapat bertemu mereka kembali.

Ini juga salah satu (cerminan) sifat kelembutan Allah terhadap para hambaNya. Dia memerintahkan mereka supaya menunggu-nunggu rahmat dan rizki dariNya. Karena menunggu itu termasuk ibadah. Begitu pula janji mereka untuk memberi sedekah tatkala diberi kelonggaran juga merupakan ibadah yang (bisa dikerjakan) saat itu. Hal ini disebabkan (karena wujud) keinginan untuk berbuat baik adalah satu kebaikan. Oleh karenanya, sebaiknya seseorang itu segera melakukan (kebaikan) yang mampu dia kerjakan, serta berniat untuk melakukan kebaikan yang belum mampu dia jalankan agar dia memperoleh pahala dengannya, dan semoga dengan pengharapannya tersebut, Allah berkenan memudahkannya dalam mengerjakan kebaikan tersebut,

Masjid At-Taqwa RS Roemani, tempat berlangsungnya kajian ahad pagi MTDK PDM Kota Semarang

2. Penerima Informasi

a. Memilah dan Memilih

Pada dasarnya setiap manusia dilarang sembarangan berbicara dan berbuat sesuatu tanpa didasari ilmu dan kebenaran informasi. Tidak semua yang terdengar di telinga, terlintas di benak fikiran, dan semua yang sampai kepada kita harus kita terima. karena dalam retorika berbicara, termasuk etikanya adalah tidaklah semua yang diketahui itu harus disampaikan (sekalipun benar), dan setiap perkataan itu mempunyai maqam (tempat) masing-masing. Apalagi sesuatu yang tidak jelas kebenaranya.

Munculnya fenomena di tengah masyarakat, yakni maraknya orang-orang yang gercep men-share berita viral sekaligus memberi komentar di media sosial, yang mana tidak jarang komentar-komentar tersebut adalah komentar yang bukan bersumber dari ahlinya, sebetulnya hal itu hanya akan memperkeruh suasana saja.

Allah swt. telah berfirman di dalam QS. al-Israa’: [36]

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Terjemah Arti : dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa terkait makna La Taqfu pada ayat di atas, sebagian ulama ahli ta’wil memaknainya: ‘janganlan berbicara sesuatu yang tidak kamu ketahui’. Sebagian lainnya mengartikan, ‘janganlah menuduh seseorang atas sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya.

Dan penduduk Kufah berpendapat bahwa asal kata القفو adalah القيافة،  yang mempunyai makna ‘mengikuti jejak’. Namun dari beberapa pendapat di atas, makna yang paling utama adalah yang pertama, karena makna tersebut yang sering dipakai oleh bangsa Arab. (Tafsir at-Thabari,  jilid 17 hlm. 448 )

Dalam menjelaskan ayat di atas al-Maraghi memberi komentar tentang pentingnya ayat tersebut  untuk dijadikan prinsip hidup:

وذلك دستور شامل لكثير من شؤون الحياة، ومن ثم قال المفسرون فيه أقوالا كثيرة

Terjemah Arti : “Dan demikian adalah pedoman yang mencakup banyak aspek dalam kehidupan, maka dari itu para mufassir banyak memberikan pendapat-pendapatnya pada ayat ini”. (Tafsir al-Maraghi, jilid 15. Hlm. 45)

Para jamaah yang khusyu mendengarkan tausiah dari ustadz Dr. H. Zuhad Masduki M.Ag.

3. Informan

a. Mempersiapkan Diri dan Mental

Sebagaimana firman Allah didalam surat Ali-Imron ayat 159 :

فَبِمَا رَحۡمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ ۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Terjemah Arti : Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Tafsir nya :

(Maka berkat) ma merupakan tambahan (rahmat dari Allah kamu menjadi lemah lembut) hai Muhammad (kepada mereka) sehingga kamu hadapi pelanggaran mereka terhadap perintahmu itu dengan sikap lunak (dan sekiranya kamu bersikap keras) artinya akhlakmu jelek tidak terpuji (dan berhati kasar) hingga kamu mengambil tindakan keras terhadap mereka (tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu, maka maafkanlah mereka) atas kesalahan yang mereka perbuat (dan mintakanlah ampunan bagi mereka) atas kesalahan-kesalahan itu hingga Kuampuni (serta berundinglah dengan mereka) artinya mintalah pendapat atau buah pikiran mereka (mengenai urusan itu) yakni urusan peperangan dan lain-lain demi mengambil hati mereka, dan agar umat meniru sunah dan jejak langkahmu, maka Rasulullah saw. banyak bermusyawarah dengan mereka. (Kemudian apabila kamu telah berketetapan hati) untuk melaksanakan apa yang kamu kehendaki setelah bermusyawarah itu (maka bertawakallah kepada Allah) artinya percayalah kepada-Nya. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal) kepada-Nya.

b. Larangan Banyak Sumpah

Sebagaimana firman Allah didalam surat Al-Baqarah ayat 224 :

وَلَا تَجْعَلُوا اللّٰهَ عُرْضَةً لِّاَيْمَانِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْا وَتَتَّقُوْا وَتُصْلِحُوْا بَيْنَ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Terjemah Arti : Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Ayat ini memperingatkan manusia agar berhati-hati mem-pergunakan nama Allah dalam bersumpah. Jangan berani bersumpah dengan menyebut nama Allah untuk hal-hal yang tidak baik dan yang dilarang oleh agama, sebab nama Allah sangat mulia dan harus diagungkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa sebab turunnya ayat 224 ini, ialah ketika Abu Bakar bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa ia tidak akan membantu lagi seorang kerabatnya (an-Nur/24 :22) yang bernama Mistah yang turut menyiarkan kabar bohong menjelek-jelekkan nama Aisyah istri Rasulullah saw. Riwayat yang mencemarkan nama baik Aisyah oleh orang-orang munafik disebut hadisul-ifki (kabar bohong).

Dalam ayat ini dilarang bersumpah untuk tidak berbuat baik atau tidak bertakwa atau tidak mengadakan islah di antara manusia. Kalau sumpah seperti itu sudah diucapkan, wajib dilanggar (dibatalkan), sebab sumpah tersebut tidak pada tempatnya, tetapi sesudah sumpah itu dilanggar, harus ditebus dengan membayar kafarat, yaitu memerdekakan seorang budak atau memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian kepada mereka atau kalau tak sanggup, berpuasa selama 3 hari.

Allah selalu mendengar dan mengetahui apa yang diucapkan dan dikerjakan oleh setiap orang. Bersumpah yang hanya ucapan lidah saja tanpa sungguh-sungguh tidaklah akan dihukum Allah. Tapi sumpah yang keluar dari hati dan diucapkan oleh lidah akan dinilai sebagai sumpah.

c. Larangan memastikan yang belum jelas

Sebagaimana firman Allah didalam surat Al-Najm ayat 28 :

وَمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۚ

Terjemah Arti : Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.

Ayat ini menjelaskan bahwa perkataan yang demikian itu adalah suatu tanda bahwa mereka tidak mendapat petujuk Tuhan berupa pengetahuan yang membawa mereka ke jalan benar yang menyebabkan mereka mengatakan seperti itu. Mereka hanya terpengaruh oleh prasangka yang menjauhkan mereka dari kebenaran. Sesungguhnya suatu pengetahuan yang benar haruslah berdasarkan keyakinan, bukan hanya perkiraan atau persangkaan. Adapun orang musyrik itu hanyalah mengikuti persangkaan dalam menamakan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan, bukan dengan analisa ilmiah. Dalam hadis sahih dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ) “Jauhilah prasangka buruk, sesungguhnya prasangka buruk adalah perkataan yang paling dusta.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

d. Kecaman terhadap yang bohong dan keliru

Sebagaimana firman Allah didalam surat Ali-Imran ayat 66 :

هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ واَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Terjemah Arti : Begitulah kamu! Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Memang sewajarnya orang-orang berbantahan tentang urusan Nabi Isa dan sewajarnya pula bila perbantahan mereka itu berdasarkan hal-hal yang mereka ketahui. Tetapi ternyata di antara yang berbantahan itu ada yang terlibat pada persoalan yang berlebih-lebihan, hingga mengakui bahwa Nabi Isa itu tuhan, bahkan di antaranya ada yang sebaliknya, menuduhnya sebagai pembual dan pendusta. Demikian itu terjadi karena masing-masing pihak tidak mengetahui yang sebenarnya, sehingga masing-masing pihak tak dapat menghindarkan diri dari kesalahan.

Seterusnya Allah mencela orang Yahudi dan orang Nasrani yang berbantahan tentang agama Nabi Ibrahim, karena perbuatan itu tidak didasarkan pada alasan yang benar dan ilmu pengetahuan. Maka bukanlah lebih baik dan masuk akal apabila mereka itu mengikuti saja wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang memang betul-betul datang dari Allah yang mempunyai pengetahuan yang luas tak terbatas. Karena itu Allah menegaskan kepada mereka bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang nyata maupun yang tidak nyata, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

Hal ini menunjukkan adanya pengertian bahwa mengenai hal-hal yang bersifat gaib, seharusnyalah orang tidak memperdebatkan dan tidak membenarkannya kecuali yang telah diterangkan oleh wahyu. Dengan perkataan lain pengetahuan manusia dibatasi oleh ruang lingkup, waktu dan tempat, sedangkan pengetahuan Allah swt tidak terkait dengan ketentuan-ketentuan tersebut.

Penulis : Zuhad Masduki
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara