Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Adab Lebih Tinggi dari Ilmu: Mengukir Kedamaian Lewat Salam

27 Februari 2026, 00:36 WIB • 2 menit baca
Ilustrasi seorang guru menjelaskan materi di depan kelas kepada para siswa yang mengenakan peci, menggambarkan prinsip adab lebih tinggi dari ilmu.
Ustadz menekankan pentingnya adab sebagai fondasi utama sebelum menuntut ilmu dalam suasana kelas yang khidmat.

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Di tengah riuhnya ibadah, Ustadz Khairul mengingatkan bahwa adab lebih tinggi dari ilmu saat mengisi kultum di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Kamis (26/2/2026). Pesan mendalam ini menjadi ruh utama dalam tausiyah yang ia sampaikan di hadapan para jamaah yang hadir.

Ia menekankan bahwa menebarkan salam bukan sekadar tradisi lisan. Sebaliknya, amalan ini merupakan manifestasi nyata dari kerendahan hati seorang hamba. Ustadz Khairul menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual seseorang tidak akan bercahaya tanpa balutan akhlak mulia. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menata kembali niat mereka.

“Jika ibadah seseorang sudah tertib namun tutur katanya masih menyakiti, maka itu menjadi pertanyaan besar. Kita harus sadar bahwa adab lebih tinggi dari ilmu,” tutur Ustadz Khairul dengan nada tenang namun berwibawa.

Menjaga Etika di Bulan Suci

Selanjutnya, ia menyoroti konteks etika Muslim di bulan puasa. Pada momentum ini, menjaga lisan dan sikap menjadi ujian spiritual yang sesungguhnya. Menahan lapar mungkin terasa mudah bagi banyak orang. Namun, menjaga etika Muslim di bulan puasa dengan tetap bersikap ramah kepada sesama adalah tantangan besar yang mendewasakan jiwa.

Dengan tulus mengucapkan salam, seorang Muslim sebenarnya sedang mendoakan keselamatan saudaranya. Selain itu, kebiasaan ini secara otomatis merajut tali ukhuwah Islamiyah yang lebih kuat di lingkungan masyarakat.

Ukhuwah Melalui Kedamaian

Ustadz Khairul juga mengutip pesan indah dari HR. Muslim tentang kunci cinta sesama Mukmin. Ia menegaskan bahwa rasa saling mencintai akan memperkuat ukhuwah Islamiyah, terutama di tengah era yang semakin individualis. Ia memperingatkan bahwa tanpa adab yang baik, ilmu yang luas hanya akan melahirkan kesombongan.

Sebagai penutup, ia mengajak jamaah menjadikan prinsip adab lebih tinggi dari ilmu sebagai pedoman hidup sehari-hari. Sebuah refleksi penting muncul bagi kita semua: sudahkah salam kita hari ini tulus mendoakan? Pada akhirnya, kedamaian Islam hanya hadir jika kita mampu memuliakan manusia lainnya melalui adab yang sempurna.

Baca juga :

Tarawih Perdana Masjid At Taqwa PDM Semarang: Menjemput Pahala di Awal Puasa Ramadan 2026

Tanggung Jawab dalam Islam: Ciri Manusia Beradab

Kontributor: Halim Junior
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: