Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tanggung Jawab dalam Islam: Ciri Manusia Beradab

28 September 2025, 11:55 WIB • 3 menit baca
Tanggung Jawab dalam Islam: Ciri Manusia Beradab

SEMARANG BARAT, Muhmmadiyahsemarangkota.org- Di balik dinding Aula SMP Muhammadiyah 4, puluhan jemaah duduk bersila, siap menimbang sebuah beban hidup yang sejati: Tanggung Jawab.

Ini bukan sekadar urusan kantor atau tagihan bulanan, melainkan pertanyaan hakiki yang diangkat Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Semarang Ustad H.Nurbini dalam Pengajian Ahad Pagi PCM Semarang Barat, Ahad (28/9/25)).

Dalam ceramahnya yang bertajuk “Tanggung Jawab dan Etos Kerja Dalam Islam”, Ustad Nurbini menegaskan bahwa tanggung jawab sejati harus lahir dari “panggilan hati seseorang”. Ia bukan dipaksa oleh aturan, melainkan didorong oleh “kesadaran diri manusia terhadap semua tingkah laku”.

Para hadirin khusyuk menyimak. Sesekali meraih kotak snack di samping mereka, melengkapi kebutuhan fisik dan rohani di pagi itu.

Dosen fakultas Dakwah UIN Walisongo itu menjelaskan bahwa dalam Islam, al-mas’ūliyyah (tanggung jawab) adalah pilar utama peradaban. Ia adalah manifestasi paling murni dari iman. Tanpa rasa tanggung jawab, manusia kehilangan esensinya.

“Tanggung jawab adalah ciri manusia yang beradab atau berbudaya,” tegasnya.

Ia menambahkan, kualitas sebuah peradaban diukur dari seberapa serius warganya memikul beban dengan “sifat kepedulian dan kejujuran yg sangat tinggi”. Artinya, jika kita ingin menjadi umat yang maju, kita harus terlebih dahulu jujur kepada diri sendiri dan orang lain tentang peran kita.

Enam Lingkaran Amanah dan Kepemimpinan Universal

Pesan ini kemudian diperluas dalam kerangka enam dimensi kehidupan, menunjukkan bahwa amanah adalah konsep yang mengikat dari hal terkecil hingga terbesar. Tanggung jawab bergerak dalam lingkaran: dimulai dari dimensi vertikal kepada Allah SWT, lalu melingkupi diri sendiri (menjaga iman dan potensi), keluarga (sebagai pemimpin, pendidik, dan pelindung), masyarakat, alam semesta, hingga bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, setiap individu diangkat sebagai pemimpin di lingkupnya, sekecil apa pun perannya. “Setiap kamu adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya,” tegasnya, mengutip Hadis Muttafaq ‘alaih yang langsung menusuk ke inti persoalan kepemimpinan sehari-hari.

Tanggung Jawab Personal

Dalam bagian akhir ceramahnya, pengasuh pondok pesantren mahasiswa Lukmanul Hakim, Guning Pati ini menerangkan tentang akuntabilitas di akhirat, yang sifatnya personal dan tidak bisa diwariskan. Ia menegaskan keadilan Tuhan dalam tuntutan tanggung jawab, yang dibatasi oleh kesanggupan. Namun, tidak ada yang luput dari perhitungan, bahkan hal terkecil.

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,” ujar beliau, merujuk pada QS. Al-Mudatstsir ayat 38.

Hal yang paling personal, yaitu indra dan pikiran, pun akan dimintai pertanggungjawaban. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya,” tegasnya, mengutip QS. Al-Isra, ayat 36.

Kajian pagi itu menjadi pengingat bahwa wujud tanggung jawab adalah berupa pengabdian dan pengorbanan. Jemaah pun pulang dengan kesadaran baru, bahwa menjadi manusia beradab berarti menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dimulai dari kejujuran hati.

Kontributor: MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: