Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Akidah Sejati Ubah Pekerjaan Berat Jadi Bahagia

15 Desember 2025, 05:00 WIB 3 menit baca
Akidah Sejati Ubah Pekerjaan Berat Jadi Bahagia

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org— Siapa yang tidak pernah merasa stress saat capaian orang lain di media sosial selalu terlihat lebih memukau? Atau, siapa yang tidak merasa kesadaran imannya kerap dicuri oleh notifikasi digital yang tiada henti? Tantangan terbesar umat Muslim hari ini bukan lagi soal kekurangan materi, melainkan godaan konsistensi iman di tengah kelimpahan distraksi dan hiruk pikuk perbandingan.

Menanggapi tantangan keseharian tersebut, Ustad Dr. Sofa Muthohar, M.Ag., menegaskan bahwa fondasi keyakinan akidah sejati harus menjadi cara pandang hidup yang efektif, bukan beban yang melambatkan. Penegasan ini menjadi sorotan utama dalam Kajian Umum Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin.

Acara yang mengangkat tema sentral “Akidah sebagai Landasan Kebangkitan Ummat” ini berlangsung hangat dan dihadiri puluhan jamaah di Joglo Sasana Manunggal Rasa, Balai RT 05 / RW VIII, Jalan Bukit Dingin I, Komplek Bukit Permata Puri, Ngaliyan, Semarang.

Dr. Sofa Muthohar, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, mengupas tuntas bahwa akidah sejati adalah fondasi, sumber, dan bibit yang menggerakkan seluruh sifat manusia, sekaligus penentu apakah seseorang menjalani hidup dengan gembira atau penuh gerutu.

Akidah: Kompas Melawan Stres Medsos dan Riya

Inti dari ceramah ini berfokus pada manajemen sikap batin. Menurutnya, akidah yang kuat adalah kompas yang memastikan semua pekerjaan, sekecil apapun, bernilai ibadah dan berujung pada kebahagiaan, bukan keluh kesah.

“Pekerjaan berat seberat apapun itu akan menjadi ringan jika dikerjakan dengan bahagia,” tutur dia. Ustad Sofa lantas membandingkannya dengan pola pikir yang salah, “Begitupun pekerjaan yang ringan, itu akan menjadi duri jika dikerjakan dengan menggerutu.”

Pola pikir yang fokus pada syukur dan menganggap setiap tugas sebagai investasi di jalan Allah menjadi kunci kebahagiaan di tengah hiruk pikuk perbandingan sosial.

Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo itu mengingatkan, agar umat berhati-hati dalam memandang kesuksesan orang lain, terutama karena obsesi perbandingan dapat memicu stres medsos yang akut.

“Bandingkan [kesuksesan] sekilas untuk memotivasi, oke. Tapi kalau lama-lama, jadi stres. Syukuri apa yang kita punya semaksimal mungkin di jalan Allah,” tegasnya.

Data: Gen Z Paling Rentan Depresi dan Kecanduan Gawai

Pernyataan Dr. Sofa Muthohar mengenai godaan digital dan stres medsos sejalan dengan data kesehatan mental nasional. Laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15-24 tahun (Gen Z) memiliki prevalensi depresi tertinggi di Indonesia, mencapai 2%.

Hal ini diperparah dengan tingkat ketergantungan digital. Survei Alvara Research Center (2022) mengidentifikasi Gen Z sebagai kelompok dengan jumlah “pecandu internet” terbanyak, yaitu mereka yang menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam sehari di internet. Paparan berlebihan ini, khususnya pada media sosial, sering dikaitkan dengan perasaan rendah diri, kecemasan sosial, dan tekanan untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Menanggapi fakta ini, Dr. Sofa juga menyoroti bahaya internal yang mengikis istiqamah (konsistensi iman) secara perlahan, terutama di tengah derasnya arus informasi. Ia menyebutnya sebagai ancaman nyata terhadap kesadaran spiritual umat.

“WA [WhatsApp] itu pencuri kesadaran luar biasa itu. Itu kalau mau disebut, pengutil luar biasa itu. Pencopet kesadaran kita,” ujarnya gamblang.

Dia menggarisbawahi bahwa pencurian kesadaran ini terjadi ketika niat amal ibadah bergeser dan hilang di tengah jalan, digantikan oleh godaan media sosial, pujian, atau riya (pamer).

Dr. Sofa mengajak peserta kajian untuk selalu menjaga kemurnian tauhid dan melakukan semua amal ibadah dengan penuh kesadaran bahwa itu adalah cara mencintai Allah Swt.

Kajian yang menekankan bahwa akidah sejati meluruskan arah hidup bukan memperlambat langkah ini ditutup dengan harapan agar umat fokus menyempurnakan amal dan terus berinvestasi pada akidah yang kuat. Sebab iman yang kuat adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan jauh lebih berharga daripada kegembiraan sesaat.

Baca juga:

Menjaga Aqidah, Fondasi Amal Ibadah yang Diterima Allah

Kontributor: Tim Media PRM Bringin
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: