Allah Tak Membutuhkan Ibadah Kita!
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Pernahkah terbesit rasa bangga atau merasa sudah ‘berjasa’ kepada Tuhan karena rajin beribadah dan beramal saleh?
Ustad Amiril Edi Pranomo, SHI., M.H., dalam khutbah Jumatnya (3/10/25) di Masjid Muharram, Kota Semarang, memberikan pengingat menohok: sejatinya Allah tak membutuhkan ibadah kita. Justru kitalah yang sangat membutuhkan rahmat dan kesempatan beramal dari-Nya.
Dalam ceramahnya, Ustad Amiril menekankan bahwa segala amal baik yang kita kerjakan pada hakikatnya akan kembali kepada diri kita sendiri, bukan menambah kemuliaan Allah sedikit pun.
Khutbah ini menjadi teguran keras bagi siapa pun yang terjebak pada sikap seolah-olah telah memberi keuntungan pada agama atau Tuhan lewat ibadahnya.
Amal Baik Adalah Nikmat, Bukan Jasa
Ustad Amiril yang bertindak sebagai khatib sekaligus imam, memulai khutbah dengan mengingatkan jamaah untuk tidak pernah merasa seakan-akan telah berjasa kepada Allah lewat ibadah atau amal baik yang dilakukan.
Pembina rohani Islam RS Roemani itu mengutip kisah Bani Asad yang pernah datang kepada Rasulullah dengan rasa bangga karena masuk Islam dan membela beliau. Namun, Allah langsung menegur sikap itu melalui ayat Al-Hujurat: 17, yang menegaskan bahwa keimanan bukanlah jasa manusia, melainkan nikmat besar dan karunia dari Allah.
“Kalau kita berbuat baik, manfaatnya untuk kita. Kalau kita berbuat buruk, akibatnya juga kita yang menanggung,” jelasnya seraya mengingatkan jamaah dengan firman Allah dalam Al-Isra: 7. Kebaikan yang dikerjakan setiap muslim pada hakikatnya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Kekuasaan Allah Mutlak dan Tak Berkurang
Lebih jauh, Ustad Amiril juga menyampaikan bahwa amal manusia sama sekali tidak menambah atau mengurangi kekuasaan Allah. Hal ini diperkuat dengan hadis qudsi riwayat Muslim yang menegaskan bahwa meskipun seluruh manusia dan jin menjadi hamba yang paling taat, kekuasaan Allah tetap sama dan mutlak. Begitu pula sebaliknya, andai semua makhluk berbuat maksiat, kebesaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun.
Khutbah tersebut kemudian mengajak jamaah untuk merenung. Sejauh mana kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa menjaga kebenaran dan keikhlasan?
“Pertanyaannya, apakah kita mau menjadi bagian dari orang-orang yang terus berada di atas kebenaran, atau hanya menjadi penonton? Karena Allah akan tetap menyiapkan hamba-hamba pilihan yang membela kebenaran, meski tanpa kita,” tegasnya.
Ibadah Sebagai Bekal Keselamatan Diri
Pesan penutup khutbah ini sederhana namun dalam: ibadah dan amal baik bukanlah hadiah untuk Allah, melainkan bekal untuk keselamatan diri sendiri. Justru kitalah, sebagai makhluk, yang membutuhkan rahmat dan ampunan-Nya.
Ustad Amiril mengajak jamaah agar tidak merasa cukup hanya dengan rutinitas ibadah, tetapi terus berusaha masuk dalam barisan orang-orang yang menjaga agama dengan ikhlas.
Khutbah Jumat kali ini memberi pengingat penting: sebagai manusia ciptaan Allah, jangan terjebak pada rasa bangga seolah-olah telah berjasa pada agama. Sebaliknya, syukuri kesempatan beramal sebagai karunia dari Allah. Sebab, pada akhirnya, kitalah yang membutuhkan kasih sayang dan pahala-Nya, bukan sebaliknya.