Asal-usul Sejarah Halalbihalal: Tradisi Unik Muhammadiyah Sejak 1924
YOGYAKARTA, muhammadiyahsemarangkota.org – Muhammadiyah ternyata telah memulai tradisi Halalbihalal sejak tahun 1924 dengan istilah yang unik. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar gerakan pemurnian agama. Lebih dari itu, organisasi ini merupakan pelopor adaptasi budaya yang cerdas di Indonesia.
Jejak Literasi dalam Suara Muhammadiyah
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, mengungkap temuan menarik dari majalah Suara Muhammadiyah edisi lawas. Ia menjelaskan bahwa istilah “Alal bi Alal” sudah muncul di media tersebut sejak 1924. Istilah ini hadir jauh sebelum kata “Halalbihalal” populer secara nasional pada tahun 1926.
Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut dalam agenda Silaturahmi Syawal di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (26/3/2026). Selain itu, ia menyoroti kepiawaian Muhammadiyah dalam memadukan pendekatan agama dengan konteks sosial masyarakat. Langkah ini mencerminkan karakter Islam Modernis yang mampu menghadirkan solusi konkret bagi kebutuhan zaman.
Inovasi Kultural dan Semangat Tajdid
Meskipun tata bahasanya sering memicu perdebatan, Muhammadiyah tetap memandang tradisi ini sebagai jembatan silaturahmi yang efektif. Gerakan Tajdid (pembaharuan) Muhammadiyah tidak selalu berarti membuang tradisi lama. Sebaliknya, gerakan ini memberi ruh baru yang relevan dan tetap sesuai dengan syariat Islam.
“Saya membaca ulasan Alal bi Alal di Suara Muhammadiyah tahun 1924. Baru pada tahun 1926 istilah Halalbihalal muncul,” ungkap Prof. Abdul Mu’ti sebagaimana dikutip dari TVMU.TV.
Kemudian, ia menambahkan bahwa Muhammadiyah sering mengambil langkah kultural yang kreatif atau out of the box. Organisasi ini kerap memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat dengan cara-cara yang unik.
Transformasi Digital melalui Aplikasi MASA
Tidak hanya merawat warisan sejarah, Muhammadiyah kini terus melangkah maju mengikuti tuntutan zaman. Salah satu lompatan besarnya adalah penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sejak tahun 2025. Sistem ini bertujuan untuk mengakhiri kebingungan umat terkait perbedaan waktu ibadah di tingkat global.
Saat ini, seluruh panduan ibadah tersebut telah terintegrasi dalam Aplikasi MASA. Melalui platform digital ini, warga bisa mendapatkan kepastian jadwal salat dengan mudah. Selain itu, pengguna dapat menyalurkan zakat secara instan. Integrasi teknologi ini membuktikan bahwa semangat pembaruan tetap menyala kuat di tubuh organisasi.
Menjadi Warga yang Lebih Terbuka
Pelajaran penting dari sejarah ini adalah keberanian untuk tampil beda demi kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, Prof. Abdul Mu’ti mendorong setiap anggota agar lebih berani menyuarakan pandangan kemajuan. Dengan cara ini, nilai-nilai positif organisasi dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi bangsa.
Pada akhirnya, agama yang hidup adalah agama yang mampu menjawab tantangan realitas. Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa menjaga tradisi dan merangkul teknologi bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Baca juga :
Kupat dan Lepet: Simbol Estetika dalam Asal-usul Halalbihalal di Jawa