Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Awas Jadi Orang Bangkrut di Akhirat: Rajin Sholat Tapi Masuk Neraka, Kok Bisa?

9 Januari 2026, 22:54 WIB 2 menit baca
Suasana jamaah yang padat memenuhi Masjid At-Taqwa PDM Semarang, menyimak khutbah Jumat dari khatib di mimbar mengenai bahaya lisan dan perilaku yang dapat menghapus pahala ibadah.
Waspada kebangkrutan di akhirat: Ustadz H. Rijal Wakhid Rizkillah, Lc. menyampaikan Khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Semarang, Jumat (9/1/2026). Beliau menekankan bahwa kesalehan ritual seperti sholat dan puasa harus dibarengi dengan kesalehan sosial agar pahala tidak ludes akibat lisan dan perilaku buruk terhadap sesama.

SEMARANG SELATAN, muhamadiyahsemarangkota.org — Membawa pahala sholat dan puasa menggunung ternyata bukan jaminan masuk surga.

Fakta mengejutkan ini terungkap dalam Khutbah Jumat terbaru di Masjid At Taqwa PDM Semarang, Jumat (9/1/2026).

​Jamaah mendapat peringatan keras tentang fenomena orang bangkrut di akhirat. Mereka adalah golongan yang pahalanya ludes seketika akibat lisan dan perilaku buruk kepada sesama.

​Khatib Ustadz H. Rijal Wakhid Rizkillah, Lc., menyampaikan pesan penting tersebut dengan tegas. Ia menyoroti satu hal krusial bagi setiap Muslim bahwa kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial hanyalah kesia-siaan belaka.

​”Jangan sampai kita terjebak dalam rasa aman karena merasa sudah rajin sholat, namun di sisi lain lisan kita masih tajam menyakiti tetangga atau rekan kerja. Itulah awal mula kebangkrutan hakiki,” ujar Ustadz Rijal di hadapan jamaah.

Keseimbangan Hubungan

​Lebih lanjut, Ustadz Rijal menjelaskan konsep keseimbangan dalam Islam. Hubungan vertikal dengan Allah (Hablum Minallah) harus sejalan dengan Hablum Minannas. Artinya, kita wajib menjaga hubungan baik dengan sesama manusia sebagai bentuk akhlak mulia.

​Ustadz Rijal lantas mengupas tuntas Hadis Muflis riwayat Muslim No. 2581. Hadis ini menjadi landasan utama definisi kebangkrutan hakiki seorang mukmin di hari pembalasan nanti.

​”Ibadah yang kita lakukan seharusnya menjadi perisai perilaku. Jika sholat tidak mampu mencegah kita dari perbuatan keji kepada sesama, maka kita harus mengevaluasi kembali kualitas iman kita,” tegasnya.

​Bahaya Lisan dan Perilaku

​”Rasulullah bersabda, sesungguhnya orang bangkrut di akhirat dari umatku adalah orang yang datang membawa pahala sholat, puasa, dan zakat,” terang Ustadz Rijal mengutip sabda Nabi.

​Sayangnya, orang tersebut memiliki catatan kelam. Ia pernah mencaci maki saudaranya, menuduh, memfitnah, hingga memakan harta orang lain secara zalim.

Akibatnya, pahala ibadahnya habis untuk “membayar” tuntutan orang-orang yang dizaliminya tersebut.
​Kondisi bisa menjadi lebih buruk jika pahalanya habis sebelum semua tuntutan terpenuhi, sehingga dosa orang yang dizalimi justru ditimpakan kepadanya.

​Evaluasi Diri di Era Digital

​Peringatan dari mimbar Masjid At Taqwa PDM Semarang ini sangat relevan, terutama di era modern. Kita sering melihat caci maki dan fitnah tersebar mudah melalui media sosial yang memicu dosa jariyah.

​”Di zaman sekarang, kebangkrutan itu bisa terjadi hanya lewat ujung jari. Satu komentar fitnah di media sosial bisa menguras pahala sholat yang kita bangun bertahun-tahun,” tambah Ustadz Rijal.

​Oleh karena itu, khutbah ditutup dengan ajakan evaluasi diri. Jamaah diminta untuk menyelaraskan ibadah wajib dengan kejujuran dan kerendahan hati.

Mari kita perbaiki kualitas ibadah dan bangun akhlak baik di masyarakat agar tidak termasuk golongan orang bangkrut di akhirat yang merugi selamanya.

Kontributor: Media Masjid At Taqwa PDM Semarang
Editor: Adib Abyan
Bagikan: