Baca Qur’an Dulu, Jangan Drakor Mulu
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di tengah dunia yang semakin riuh dan penuh tekanan, pertanyaan tentang “bagaimana manusia bisa tetap bahagia?” menjadi pembuka paling mengena dalam pengajian Milad Muhammadiyah ke-113 yang digelar PCM Ngaliyan di Pendopo Kecamatan Ngaliyan, Ahad (23/11/2025). Alih-alih berbicara seremoni milad, kajian ini langsung menukik pada inti kebahagiaan yang tidak datang dari gelarnya manusia, tapi dari seberapa dekat ia dengan Tuhan.
Dr. Aang Kunaefi, M.Ag. dosen UIN Walisongo sekaligus Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang memandu jamaah untuk kembali melihat jati diri manusia. Ia menyampaikan bahwa kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence/SQ) adalah kompas hidup yang selama ini sering diabaikan, padahal menjadi kunci dari ketentraman dan kemajuan.
Jalan Pulang dari Kekosongan Batin
Di hadapan jamaah yang memenuhi pendopo, Dr. Aang menjelaskan bahwa manusia kerap tersesat bukan karena kurang pintar, tetapi karena kehilangan arah rohani.
“SQ itu yang memberikan arah hidup dalam bermimpi dan mencapai cita-cita,” tegasnya sambil menekankan bahwa manusia adalah makhluk paling mulia karena diberi akal dan peran sebagai khalifah.
Ia juga mengingatkan bahwa kegelisahan modern sering muncul karena manusia terlalu mengagungkan logika namun melupakan simbol ketauhidan.
Dari cinta dunia berlebih, lalai dzikir, hingga mengejar materi tanpa menumbuhkan sisi spiritual, semua itu perlahan merampas kebahagiaan.
Dalam penjelasannya, Dr. Aang mengutip empat elemen kebahagiaan menurut Imam Al-Ghazali mengenal diri, mengenal Allah, memahami dunia sebagai ujian, serta yakin pada kehidupan akhirat.
Melalui empat kesadaran itulah seseorang bisa meraih hidup yang mulia, selaras, dan menenangkan.
Pesan Menyenggol Realita
Dengan gaya penyampaian yang santai dan mudah mencairkan suasana, Dr. Aang menyisipkan nasihat-nasihat pendek yang langsung mengena ke hati jamaah.
“Baca Qur’an dulu, jangan drakor mulu. Drakoran kuat, baca Qur’an mata kumat,” selorohnya, disambut tawa namun sekaligus tamparan halus bagi banyak pendengar.
Ia juga mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar nyaman di dunia, tetapi juga pertanggungjawaban kelak.
“Tidak akan bergeser dua tapak kaki seseorang pada hari kiamat sampai ditanya tentang umur, masa muda, harta, dan ilmunya,” ungkapnya mengutip hadis riwayat Tirmidzi.
Pengajian yang menjadi pengingat bahwa misi besar Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan bukan sekadar pada amal usaha fisik, tetapi juga pada pembangunan kecerdasan spiritual umat sebuah fondasi yang terus relevan di usia Muhammadiyah yang memasuki lebih dari satu abad.