Bahagia Itu Bukan Dicari, Tapi Disadari
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org- Apa yang sebenarnya membuat kita bahagia? Pertanyaan ini mungkin sering muncul dalam benak kita. Bagi sebagian orang, jawabannya adalah uang, jabatan, atau pengakuan dari orang lain.
Namun, menurut Dr. Aang Kunaepi, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Kota Semarang, kebahagiaan sejati justru tidak bisa dicari dari luar. Ia bersemayam di dalam diri, menanti untuk disadari.
Dalam sebuah Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan di Gedung Dakwah PRM Pedurungan Lor pada Ahad (21/9), Dr. Aang Kunaepi mengajak jamaah untuk kembali merenungi hakikat diri manusia dalam Islam. Dengan tema “Kenali Dirimu, Niscaya Akan Bahagia,” ia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah sekadar harta, jabatan, atau pengakuan dari orang lain, tetapi berawal dari hati yang bersih dan jiwa yang mengenal fitrahnya.
“Orang yang mengenal dirinya, sejatinya akan mengenal Tuhannya. Dari situlah lahir ketenangan dan kebahagiaan sejati,” ujar Dr. Aang, menekankan pentingnya introspeksi.
Lebih lanjut, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo itu menjelaskan, bahwa hati adalah pusat kendali manusia. Jika hati baik, maka seluruh kehidupan akan baik pula. Sebaliknya, bila hati rusak, maka seluruh amal dan perilaku juga akan ikut rusak. Oleh karena itu, kunci kebahagiaan sejati adalah membersihkan hati dari penyakit-penyakit seperti iri, sombong, dan riya.
Cara Mengenal Diri
Dalam ceramahnya, Dr. Aang juga menyoroti alasan mengapa banyak orang merasa kehilangan jati diri dan hampa. Beberapa penyebab utamanya adalah terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa akhirat, terlena oleh hawa nafsu, lalai mengingat Allah (ghaflah), serta jarang melakukan perenungan (tafakkur).
“Ketika hati jauh dari Allah, manusia akan kehilangan kompas hidupnya. Inilah yang membuat banyak orang merasa hampa, meskipun punya segalanya,” jelasnya.
Namun, ketika masalah itu muncul, bukan bukan berarti tidak ada jalan keluar. Dr. Aang menawarkan cara-cara sederhana agar manusia bisa lebih dekat dengan dirinya sendiri. Di antaranya dengan zikir yang membersihkan hati, tafakkur yang membuka wawasan, mengenali potensi untuk kebaikan, serta jujur pada kelemahan diri sendiri. Dengan cara itu, setiap orang bisa tumbuh menjadi pribadi yang tenang dan lebih bermanfaat bagi sesama.
“Bahagia itu bukan berarti hidup tanpa masalah. Bahagia adalah ketika hati tetap tenang, karena merasa selalu bersama Allah dalam setiap keadaan,” tegas Dr. Aang.
Kajian ini juga menekankan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan berawal dari dalam diri. Saat seseorang mengenal potensi sekaligus kelemahannya, lalu menggunakannya untuk berbuat baik, ia akan menemukan hidup yang lebih bermakna. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Dengan berbagi dan berbuat baik, kebahagiaan sejati justru akan semakin terasa. Kajian ini menjadi pengingat bersama bahwa perjalanan menemukan kebahagiaan sejati tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia ada di dalam diri, di hati yang terus dijaga, di jiwa yang selalu dekat dengan Allah.