Jangan Sepelekan Chat WA! Kebiasaan Sepele Ini yang Bikin Masuk Neraka
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Kehadiran lisan dan jempol di era digital kerap menjadi pemicu keretakan hubungan antarmanusia tanpa disadari. Banyak orang begitu hati-hati menjaga makanan yang masuk ke mulut, tetapi sangat ceroboh menjaga setiap ucapan yang keluar.
Padahal, deretan ucapan sepele justru memiliki daya rusak dahsyat yang sanggup menghancurkan tumpukan pahala ibadah. Peringatan keras tersebut mengema dalam Khutbah Jumat di Masjid Asy-Syifa Klinik Pratama UNIMUS Semarang pada Jumat (24/7/2026).
Khatib Jumat edisi tersebut, Drs. H. Nurbini, M.Si., mengupas tuntas bahaya dosa lisan yang sering kali diremehkan oleh umat muslim. Mimbar ibadah pekanan ini memberikan teguran bijak atas maraknya kebiasaan ghibah, celaan fisik, hingga penyebaran hoaks.
Oleh karena itu, Dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo tersebut mengingatkan jamaah bahwa seluruh tutur kata tidak pernah luput dari pencatatan malaikat. Setiap ucapan di alam nyata maupun pesan di media sosial kelak mendapat pertanggungjawaban mutlak di hadapan Allah SWT.
Empat Perusak Pahala
Sementara itu, penceramah ini merinci empat jenis kemaksiatan mulut yang paling sering menjebak masyarakat modern. Bentuk dosa tersebut meliputi kebiasaan menggunjing (ghibah), adu domba (namimah), kebohongan, serta celaan fisik kepada sesama.
Selanjutnya, Wakil Ketua PDM Kota Semarang ini menyentil perilaku netizen yang sangat mudah mengetik komentar kasar dan membully di ruang publik digital. Perbuatan tersebut secara langsung meruntuhkan persaudaraan serta menyeret pelakunya ke dalam siksa neraka.
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, yang ia anggap sepele, namun Allah mengangkat derajatnya karenanya. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, yang ia anggap sepele, namun karena kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka Jahannam,” tegas Nurbini mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim di hadapan jamaah.
Kaidah Emas Keselamatan
Di sisi lain, mimbar Jumat ini menawarkan solusi praktis untuk membentengi diri dari cengkeraman maksiat ucapan. Tuntunan agama mengarahkan umat untuk senantiasa menyibukkan lisan dengan dzikir, tilawah Al-Qur’an, serta menjauhi majelis ghibah.
Maka dari itu, khatib ini mendorong masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip saring sebelum bicara maupun mengetik pesan. Langkah memikirkan dampak ucapan menjadi pembeda utama antara orang yang berakal dan orang yang gegabah.
Guna menutup pesan khutbahnya, akademisi Semarang tersebut mengutip pesan agung Rasulullah SAW agar setiap muslim memilih berkata baik atau diam. Keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat bermula dari kemampuannya mengendalikan lisan.
“Lisan orang berakal berada di belakang hatinya (berpikir dahulu sebelum berbicara), sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lisannya,” pungkas Drs. H. Nurbini, M.Si. mengakhiri nasihat Jumatnya.