Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Harta: Jembatan Surga atau Belenggu Akhirat? Rahasia Keberkahan di Balik Syukur

26 April 2026, 13:40 WIB 3 menit baca
Foto seorang pria muda (Ustadz Amiril Edi Pranomo) mengenakan jas almamater berwarna biru cerah khas Muhammadiyah dengan kemeja putih dan peci hitam. Beliau duduk bersila secara lesehan di atas karpet masjid berwarna hijau, menghadap ke sebuah meja kayu kecil berwarna putih yang di atasnya terdapat sebuah laptop. Di sampingnya terlihat sebuah mimbar masjid yang terbuat dari kayu berwarna cokelat tua dengan ukiran kaligrafi Arab melingkar yang indah. Suasana ruangan tampak tenang dengan dinding keramik putih dan pilar berwarna hijau toska.
SARANA IBADAH: Ustadz Amiril Edi Pranomo saat menyampaikan tausiyah mengenai hakikat syukur dan pengelolaan harta di hadapan ratusan jemaah PCM Pedurungan, Ahad pagi (26/4/2026). Beliau menekankan pentingnya memadukan syukur qauliyah (lisan) dan fi’liyah (perbuatan) agar materi yang dimiliki menjadi jembatan menuju surga, bukan belenggu di akhirat.

Harta: Jembatan Surga atau Belenggu Akhirat? Intip Rahasia Keberkahan di Balik Syukur

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang merasa sangat aman saat memiliki harta melimpah, padahal justru di sanalah letak ujian yang sesungguhnya dimulai. Harta berpotensi mengangkat derajat seseorang, namun tanpa kendali ia bisa berubah menjadi belenggu yang sangat memberatkan di akhirat nanti. Pesan mendalam ini menggugah ratusan jemaah yang memadati Masjid Nurul Qomariyah, Pedurungan, pada Ahad pagi (26/4/2026).

Ustadz Amiril Edi Pranomo mengingatkan jemaah bahwa materi merupakan amanah titipan yang menuntut tanggung jawab besar di hadapan Sang Pencipta. Ia menekankan bahwa kesalahan dalam menyikapi kekayaan seringkali membuat manusia lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya. Dalam kajian rutin tersebut, ia mengajak setiap individu untuk merenungi kembali cara mereka mengelola setiap rupiah yang dimiliki.

Langkah utama agar harta tidak menjadi beban adalah dengan memahami hakikat syukur secara utuh dan mendalam. Menurutnya, syukur yang benar tidak hanya berhenti pada lisan, tetapi harus mengalir dalam tindakan nyata sehari-hari. Ia percaya bahwa pemahaman yang salah tentang syukur seringkali menjadi pintu masuk bagi sifat kikir dan sombong.

Memadukan Lisan dan Perbuatan dalam Bersyukur

Ustadz Amiril membagi konsep syukur menjadi dua pilar utama, yaitu syukur qauliyah dan syukur fi’liyah. Syukur qauliyah menuntut lisan untuk terus mengakui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT melalui ucapan hamdalah. Sementara itu, syukur fi’liyah mengharuskan seseorang menggunakan hartanya untuk hal-hal yang mendatangkan rida Allah.

Realisasi syukur dalam perbuatan tercermin jelas saat seseorang gemar bersedekah, menunaikan zakat, dan menolong sesama yang membutuhkan. Ustadz Amiril merujuk pada janji Allah bahwa rasa syukur yang tulus akan mendatangkan tambahan nikmat yang berlipat ganda. Sebaliknya, sikap mengingkari nikmat hanya akan membawa manusia pada jurang azab yang sangat pedih.

“Harta bisa mengangkat derajat seseorang, tetapi juga bisa menjerumuskannya jika kita tidak waspada,” ujar Ustadz Amiril di hadapan ratusan jemaah.

Menghindari Jebakan Penumpuk Kekayaan

Dunia seringkali menjebak manusia melalui bayang-bayang semu bahwa kekayaan mampu menjamin keselamatan hidup selamanya. Ustadz Amiril memperingatkan jemaah mengenai bahaya sifat gemar menumpuk harta tanpa tujuan ibadah yang jelas. Ia menyitir pesan suci bahwa orang-orang yang melalaikan Allah demi materi hanya akan mendapatkan kecelakaan di akhirat.

Kajian ini menjadi upaya nyata PCM Pedurungan untuk terus membina umat agar memiliki cara pandang yang benar terhadap dunia. Harapannya, jemaah pulang dengan tekad baru untuk menjadikan harta sebagai sarana pengabdian, bukan tujuan utama hidup. Melalui ilmu yang mereka peroleh, harta kini berubah fungsi menjadi jalan lapang menuju keberkahan abadi.

“Jangan sampai harta yang kita miliki justru melalaikan kita dari Allah. Gunakan harta sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup,” tegas Ustadz Amiril menutup tausiyahnya.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: