Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bukan Soal Banyaknya Harta, Tapi Seberapa Ridho Hati Menerima Rezeki

7 November 2025, 15:17 WIB 3 menit baca
Bukan Soal Banyaknya Harta, Tapi Seberapa Ridho Hati Menerima Rezeki

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Langit cerah menaungi Masjid Affa Ulya, tempat jamaah menunaikan Salat Jumat pada 7 November 2025. Suasana teduh berubah semakin khusyuk ketika Ust. Amiril Edi Pranomo, S.H.I., M.H., yang juga dikenal sebagai Bina Rohani RS Roemani Semarang, naik ke mimbar menyampaikan khutbah bertema “Konsep Rezeki dari Allah SWT kepada Kita.”

Lewat tutur yang lembut namun sarat makna, beliau mengajak jamaah untuk merenungi hakikat rezeki bahwa setiap manusia sudah memiliki jatahnya masing-masing, dan tidak ada satu pun yang tertukar. “Rezeki tak pernah salah alamat,” ujarnya mengawali khutbah. Sebab, setiap tetes nikmat dan setiap bentuk ujian adalah bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia.

Rezeki Sudah Ditulis Sejak dalam Rahim

Dalam khutbahnya, Ustaz Amiril menjelaskan bahwa konsep rezeki dalam Islam bukan hanya perkara materi, melainkan bagian dari qadha dan qadar yang telah Allah tentukan. Berdasarkan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, malaikat telah mencatat rezeki, amal, ajal, dan kebahagiaan seseorang sejak janin berusia empat bulan dalam kandungan.

“Jadi bahkan sebelum kita bisa meminta, Allah sudah menuliskannya. Rezeki tidak selalu berupa uang, tapi juga kesehatan, ketenangan, dan kesempatan berbuat baik,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tugas manusia bukan mengatur rezeki, melainkan menjemputnya dengan cara yang baik dan penuh keikhlasan. “Allah memberi sesuai kadar dan hikmah yang kita butuhkan, bukan sekadar yang kita inginkan,” lanjutnya. Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk terus bersyukur dan berbaik sangka kepada Allah, sebab sikap ridha terhadap ketentuan-Nya adalah kunci ketenangan hati.

Ustaz Amiril juga menyinggung bahwa rezeki bisa hadir dalam dua bentuk: kelapangan dan kesempitan. Keduanya adalah ujian dari Allah SWT. “Kadang Allah lapangkan rezeki untuk melihat seberapa besar syukur kita. Tapi ketika disempitkan, itu bukan karena Allah lupa, melainkan cara-Nya mengajarkan sabar,” katanya.

Mengutip Surah Ath-Thalaq ayat 2-3, beliau menekankan bahwa “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Menurutnya, ayat ini menjadi bukti bahwa takwa adalah kunci utama keberkahan rezeki, baik dari langit maupun bumi.

Dalam konteks kehidupan modern, khutbah ini juga mengingatkan jamaah agar tidak tergoda mencari penghasilan dengan cara yang haram atau tergesa-gesa dalam mengejar dunia. Sebab, bekerja dengan niat yang baik dan cara yang halal justru mendatangkan kemuliaan. “Bekerja adalah ibadah, sementara meminta-minta tanpa sebab adalah kehinaan,” tegasnya.

Menutup khutbahnya, Ust. Amiril mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Semua kesenangan dan kesedihan bersifat fana, sedangkan amal saleh adalah satu-satunya bekal yang akan dibawa ke akhirat. “Yang kita makan akan habis, yang kita pakai akan rusak, tapi amal baik akan kekal bersama kita,” ujarnya menutup dengan lirih.

Kontributor: TIM MPI PDM SEMARANG
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: