Kritik atau Caci Maki? Belajar Cara Berkomentar Bijak Agar Tak Jadi Fitnah
PEDURUNGAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Apakah komentar Anda membangun atau justru menjatuhkan? Simak panduan cara berkomentar bijak dan cara memberikan kritik yang baik demi menjaga keharmonisan di era digital.
Pesan ini mengalir deras dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa Pedurungan Lor (30/01/2026). Dr. H. Umar Ma’ruf, S.H., Sp.N., M.Hum., mengajak jamaah merenungkan kembali setiap ketikan di media sosial.
Ketua Takmir ini memandang bahwa adab menjaga lisan kini mulai luntur karena derasnya arus informasi. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri agar lebih berhati-hati sebelum menekan tombol kirim.
Pentingnya Introspeksi Diri
Dr. H. Umar Ma’ruf menekankan bahwa fondasi utama dalam menilai orang lain adalah melihat diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa tidak ada satu pun manusia yang benar-benar sempurna di dunia ini.
“Islam mengajarkan kita untuk senantiasa bercermin pada diri sendiri sebelum menilai orang lain,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Hukum dan HAM PDM Kota Semarang ini.
Langkah tersebut bertujuan agar ucapan kita tidak melukai dan tidak menzalimi pihak lain. Kesadaran akan kekurangan diri akan memandu seseorang untuk mempraktikkan cara berkomentar bijak.
Melawan Bahaya Jempol Netizen
Lebih jauh, ia menyoroti fenomena bahaya jempol netizen yang seringkali bertindak tanpa berpikir panjang. Informasi yang sepintas lewat di linimasa sering memicu reaksi emosional yang berlebihan.
Komentar yang terburu-buru sering kali lahir tanpa pemahaman masalah yang utuh. Padahal, satu komentar buruk bisa merusak persaudaraan dan menciptakan perpecahan yang luas.
Sebagai solusinya, akademisi UNISSULA ini menekankan pentingnya tabayun atau melakukan verifikasi terhadap setiap kabar. Kita wajib mencari sumber yang valid sebelum memberikan penilaian kepada orang lain.
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui,” ucapnya menyitir Surat Al-Isra’ ayat 36. Ia menegaskan bahwa pendengaran dan hati nurani kita akan dimintai pertanggungjawabannya.
Menyampaikan Kritik dengan Adab
Selanjutnya, cara memberikan kritik yang baik haruslah berorientasi pada perbaikan, bukan untuk menjatuhkan mental. Kritik yang sehat memerlukan pemilihan kata yang sopan dan waktu penyampaian yang tepat.
Advokat senior ini berpendapat bahwa kritik harus membuka ruang dialog. Dengan begitu, pesan kita akan lebih mudah diterima oleh orang yang kita tuju.
“Kritik yang baik adalah kritik yang lahir dari niat tulus dan disampaikan dengan adab,” tegasnya di hadapan para jamaah.
Ia juga menambahkan bahwa pemahaman masalah yang mendalam membuat kritik kita lebih jujur. Hal ini menghindarkan kita dari sekadar pelampiasan emosi sesaat di ruang publik.
Menjaga Kedewasaan Berpikir
Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kedewasaan dalam berpendapat. Memperbaiki diri sendiri jauh lebih utama daripada sekadar sibuk menunjuk kesalahan orang lain.
Setiap kata yang keluar dari lisan maupun jempol haruslah membawa manfaat bagi sesama. Jika tidak bisa berkata baik, maka pilihan terbaik adalah diam demi menjaga kedamaian.
“Semoga kritik kita menjadi kontribusi nyata untuk kebaikan bersama,” pungkas Dr. H. Umar Ma’ruf. Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang pahala dengan terus menjaga akhlak.
Baca juga :
Etika Digital, Senjata Utama Generasi Merdeka
Etika Bermedia Sosial dalam Islam: Jihad Digital Melawan Deepfake dan Hoaks