Kisah Mengharukan Petani Semarang: Bukti Nyata Cara Menabung untuk Kurban Tak Perlu Menunggu Sisa Harta
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Aroma tanah basah dan aroma khas pakan ternak sudah menjadi bagian dari embusan napas Suharno setiap fajar menyingsing. Menghidupi 7 orang anak serta 4 orang cucu dari sektor pertanian tidak membuatnya gentar untuk menerapkan cara menabung untuk kurban secara konsisten. Langkah nyata ini menjadi bukti otentik bagaimana keikhlasan ibadah kurban dapat melampaui segala keterbatasan ekonomi keluarga penggarap.
Langkah kaki Suharno di dunia pertanian sendiri dimulai pada tahun 2021. Memasuki masa pensiun tidak membuat pria tersebut memilih untuk berdiam diri di rumah. Alih-alih berpangku tangan, Ia memantapkan hati menjadi petani penggarap dengan menyewa lahan tanah bengkok desa. Di atas tanah sewaan itulah, seluruh denyut nadi perjuangannya dipertaruhkan demi menyambung hidup keluarga besar.
Pagi itu, di pelataran Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates pada Kamis (28/05/26), Ia membuktikan bahwa kurban bukanlah tentang seberapa besar sisa harta. Melalui cara menabung untuk kurban yang konsisten, perjuangan kepala keluarga asal Ngadirgo ini mengajarkan sebuah keteladanan nyata dalam semangat untuk berkurban.
Perjuangan di Atas Tanah Sewa Bengkok Desa
Dengan tangan dinginnya, lahan tersebut disulap menjadi area yang sangat produktif. Ia menanaminya dengan bermacam-macam tanaman pangan, sekaligus memanfaatkan sebagian areanya untuk menanam rumput pakan ternak. Tak hanya itu, di sudut lahan yang lain, Ia mendirikan kandang untuk memelihara kambing dan ayam. Dari fajar hingga petang, Ia bersama anaknya tekun merawat ekosistem kecil tersebut.
Hasil panen tanaman, ayam, hingga kambing-kambing itulah yang kemudian diputar kembali olehnya. Pendapatan tersebut menjadi bahan bakar utama penggerak ekonomi keluarga, terutama untuk membiayai pendidikan anak dan cucunya. Biaya sekolah tentu bukan perkara ringan bagi keluarga dengan 7 anak dan 4 cucu ini. Namun, lewat peluh di tanah sewaan itu, Ia berhasil mengantarkan mereka mengenyam bangku pendidikan.
Rumus “Skala UMR” dari Balik Kandang
Di tengah padatnya kebutuhan keluarga, Suharno tetap memiliki cara pandang yang terukur untuk urusan ibadah. Ia menciptakan sebuah formula unik yang menyerupai sistem upah kerja kantoran. Formula cerdas ini Ia terapkan agar target ibadahnya setiap tahun tidak pernah meleset.
Target tahunannya adalah memelihara minimal 12 ekor kambing di dalam kandang. Dalam kalkulasinya, merawat satu ekor kambing setara dengan satu bulan masa kerja keras. Ketika Iduladha tiba, kambing-kambing tersebut memiliki nilai jual berkisar antara Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per ekor.
Pola manajemen mandiri ini terbukti berhasil mengatasi keterbatasan finansial keluarga. Hasil dari tanah garapan dan ternaknya tidak hanya mampu menopang kebutuhan sekolah generasi penerusnya. Lebih dari itu, proses tersebut selalu menyisakan satu ekor kambing terbaik untuk diantarkan ke masjid sebagai hewan kurban. Hal ini merefleksikan kedalaman rasa syukur dan keikhlasan ibadah kurban yang Ia pegang teguh.
Menularkan Semangat kepada Generasi Muda
Kini, buah dari kedisiplinan tersebut mulai menular ke generasi berikutnya. Putra bungsunya yang baru saja lulus bangku SMA memilih untuk tidak ikut arus mencari kerja ke pusat kota. Melihat kegigihan sang ayah menghidupkan lahan sewaan, anak itu justru tertarik. Akhirnya, Ia memutuskan untuk ikut terjun mengelola usaha peternakan di rumah.
Perjalanan ini menjadi bagian dari kisah mengharukan petani Semarang dalam mempertahankan kemandirian ekonomi. Bagi Suharno, hal ini adalah sebuah capaian luar biasa dalam peranannya terkait perjuangan kepala keluarga. Melalui langkah kecilnya, Ia ingin mengirimkan pesan kuat kepada para pemuda dan warga di sekitar Ngadirgo.
Pada akhirnya, keindahan kisah mengharukan petani Semarang ini meninggalkan sebuah refleksi mendalam bahwa keterbatasan finansial akan selalu kalah oleh ketulusan niat.