Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kekuatan Kasih Sayang: Cara Mendidik Anak Secara Islam lewat Surah Al Fatihah

25 Juni 2026, 20:14 WIB 4 menit baca
Ustaz Ananto Tri Prasetia menyampaikan materi tentang cara mendidik anak secara Islam dalam pengajian umum Pimpinan Cabang 'Aisyiyah Ngaliyan Semarang.
Ustaz Ananto Tri Prasetia, S.Pd. saat memaparkan materi kurikulum pendidikan karakter berbasis Surah Al-Fatihah di hadapan warga 'Aisyiyah Ngaliyan, Semarang.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org Bagaimana cara mendidik anak secara islam agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia di era modern ini? Pertanyaan ini menjadi bahasan utama dalam pengajian umum di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates. Pada kesempatan itu, Ustaz Ananto Tri Prasetia mengajak para jamaah merefleksikan kembali pola asuh anak di rumah masing-masing.

Ia meminta orang tua memeriksa apakah pengasuhan sudah berlandaskan rasa cinta atau justru masih didominasi amarah. Padahal, lewat pemahaman mendalam terhadap keutamaan surah al fatihah, Islam telah menyediakan panduan pengasuhan yang ideal.

Sementara itu, para jamaah duduk bersama menyimak materi di dalam Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang pada Rabu (24/06/26). Agenda ini merupakan program dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Ngaliyan.

Saat memberikan materi, Ustaz Ananto Tri Prasetia, S.Pd. duduk di hadapan para jamaah dan mengupas tuntas tentang kurikulum pendidikan anak islam yang sering kali terlupakan. Oleh karena itu, kegiatan ini diikuti oleh warga ‘Aisyiyah se-Kecamatan Ngaliyan dengan penuh antusias.

Al-Fatihah Sebagai Fondasi Utama Karakter

Selama ini, banyak orang tua terjebak dalam pola asuh yang keras saat menghadapi kenakalan buah hati. Padahal, Ustaz Ananto menegaskan bahwa Surah Al-Fatihah tidak hanya berfungsi sebagai bacaan wajib dalam salat.

“Surah Al-Fatihah tidak hanya berfungsi sebagai bacaan yang wajib dibaca dalam salat, tetapi juga merupakan ummul kitab yang memuat prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam,” ujar Ustaz Ananto di hadapan jamaah.

Oleh karena itu, ummul kitab adalah induk Al-Qur’an yang harus terus umat Islam kaji, pahami, dan amalkan dalam kehidupan. Umat Muslim perlu menjadikannya sebagai kurikulum utama dalam membentuk karakter generasi saleh.

Selanjutnya, ia menjelaskan makna ayat “Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm” yang mengajarkan prinsip dasar aktivitas. Setiap perbuatan harus bermula dengan menyebut nama Allah dan landasan niat yang benar.

Setelah itu, ayat “Alḥamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn” menanamkan tauhid dan rasa syukur yang mendalam. Ayat tersebut sekaligus mengajarkan bahwa Allah adalah Rabb yang mendidik seluruh makhluk-Nya secara bertahap dan penuh kasih.

“Ayat Ar-Raḥmānir-Raḥīm mengajarkan pentingnya membangun pendidikan di atas pondasi cinta, kelembutan, dan kasih sayang agar lahir generasi yang memiliki empati dan akhlak mulia,” tuturnya.

Berikutnya, terkandung pendidikan tentang kesadaran akan hari pembalasan pada ayat “Māliki Yawmid-Dīn”. Pemahaman ini akan membentuk pribadi anak yang jujur, disiplin, serta bertanggung jawab.

Sementara itu, ayat “Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn” menanamkan nilai penghambaan yang total dan ketergantungan hanya kepada Allah semata. Melalui pemahaman tafsir surah al fatihah ini, orang tua sebenarnya sedang menerapkan tips menguatkan mental anak.

“Ayat Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn menanamkan nilai penghambaan dan ketergantungan hanya kepada Allah, sehingga melahirkan generasi yang menjadikan ibadah sebagai orientasi hidup dan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan,” tambahnya.

Sentilan Adab Kecil dalam Kehidupan Sehari-hari

Selanjutnya, doa “Ihdinaṣ-Ṣirāṭal Mustaqīm” mengajarkan pentingnya memohon petunjuk agar bisa tetap istiqamah di atas jalan yang benar. Adapun ayat “Ṣirāṭallażīna An‘amta ‘Alaihim Ghairil Maghḍūbi ‘Alaihim wa Laḍ-Ḍāllīn” mengajarkan agar umat Islam meneladani jalan para nabi dan menjauhi jalan orang-orang yang menyimpang.

Namun, nilai-nilai mulia tersebut sering kali runtuh akibat abainya kita pada hal-hal kecil di rumah. Ustaz Ananto mengingatkan bahwa nilai Al-Fatihah tidak boleh berhenti pada tataran hafalan semata, melainkan harus tecermin dalam perilaku harian.

“Sangat disayangkan masih ditemui sebagian kaum muslimin, bahkan yang aktif dalam kegiatan dakwah dan keislaman, namun masih mengabaikan adab-adab sederhana yang diajarkan Rasulullah ﷺ,” tegasnya.

Sebagai contoh nyata, ia menyebutkan kebiasaan membuka botol air minum lalu meminumnya dengan tangan kiri. Contoh lainnya adalah membuka makanan ringan saat pengajian kemudian menyantapnya dengan tangan kiri pula. Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan kecil semacam ini menunjukkan bahwa ruh Al-Fatihah belum sepenuhnya meresap dalam diri.

Tolok Ukur Keberhasilan Pendidikan Islam

Oleh sebab itu, orientasi pengasuhan anak harus orang tua ubah secara menyeluruh. Pengajian aisyiyah semarang ini menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai ibadah ke dalam perilaku riil, bukan sekadar teori.

Ia juga menyampaikan poin kritis mengenai indikator keberhasilan proses pendidikan agama pada anak.

“Keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan, luasnya pengetahuan, atau aktifnya seseorang dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi sejauh mana ajaran Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Fatihah, mampu melahirkan pribadi yang bertauhid lurus, berakhlak mulia, dan memiliki adab yang baik hingga pada perkara-perkara yang tampak sederhana,” jelasnya.

Langkah kecil inilah yang menjadi cara membentuk karakter anak yang sejati di tengah beratnya tantangan generasi muda saat ini. Melalui agenda ini, PCA Ngaliyan berharap masyarakat bisa menghidupkan Al-Fatihah sebagai pedoman pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas.

Pada akhirnya, Surah Al-Fatihah bukanlah sekadar tujuh ayat yang dibaca minimal 17 kali sehari dalam shalat tanpa makna. Ia adalah cermin besar untuk mengevaluasi adab harian kita dalam mendidik generasi penerus.

Kontributor: Ananto
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: