Cara Mengontrol Emosi dan Nafsu agar Hidup Tak Hancur
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Ratusan pasang mata tertunduk lesu di dalam kesejukan ruang utama Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, Kota Semarang. Mereka mendadak terdiam saat khatib mengupas tuntas sebuah rahasia besar melalui khotbah Jumat yang mencerahkan tersebut. Nasihat mendalam ini membeberkan cara mengontrol emosi dan nafsu yang sering kali membuat manusia modern merusak hidupnya sendiri tanpa sadar.
Menolak Kalah dari Ego dan Nafsu Bawaan
Suasana khusyuk begitu terasa di dalam ruang utama masjid pada Jumat siang, (12/06/26), saat Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag. naik ke atas mimbar untuk menyampaikan ceramahnya. Di hadapan ratusan jemaah yang menyimak dengan takzim, Ia mengupas bagaimana sifat-sifat lemah manusia sering kali menjadi bumerang dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia memang mudah putus asa saat ditimpa kesusahan, namun mereka seketika berubah kikir dan abai saat mendapat kesenangan. Begitulah cetak biru psikologis kita yang kerap membuat kita terjebak dalam ambisi yang keliru. Sifat bawaan ini bahkan tertulis jelas dalam rekaman audio dokumentasi ibadah hari ini.
“Islam sangat memuliakan manusia. Namun, setiap kebaikan dan keburukan itu adalah pilihan kita sendiri. Jika kita mampu merawat potensi kebaikan, kita bisa lebih tinggi dari malaikat. Sebaliknya, jika kita biarkan diri kita dikuasai ego, kita bisa jatuh lebih rendah dari binatang,” tutur Prof. Ahwan Fanani di hadapan jemaah.
Menemukan Makna Mengenali Diri Sendiri
Oleh karena itu, untuk menghentikan siklus destruktif tersebut, Ia menawarkan sebuah kebijaksanaan klasik yang selalu relevan. Nasihat kuno itu berbunyi man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu. Artinya, barangsiapa yang mengenali dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya.
Menurut penjelasan Ia, proses jujur untuk memetakan kekuatan merupakan fondasi utama untuk berbenah. Selain itu, kita juga harus mengontrol titik lemah yang ada di dalam dada. Langkah berani inilah yang membedakan orang bijak dengan orang yang kalah oleh egonya.
Menemukan Tali Kekang Hawa Nafsu dalam Hidup
Lalu, bagaimana cara konkret agar kita tidak melulu kalah oleh dorongan negatif dan bisa mengendalikan ambisi hidup yang meluap-luap? Untuk menjawab kegelisahan itu, Prof. Ahwan Fanani memberikan sebuah perumpamaan yang sangat visual dan menggugah pikiran para jemaah.
Ia mengibaratkannya dengan tali kekang hawa nafsu pada kereta kuda yang gagah. Tanpa adanya tali kekang yang kuat, kuda-kuda liar tersebut pasti akan berlari tanpa arah. Dampak buruknya, hewan-hewan itu akan menjerumuskan sang kusir ke dalam jurang yang mematikan.
Sebaliknya, tali kekang ideal dalam hidup manusia adalah hikmah, petunjuk agama, akal sehat, dan hati nurani. Ketika ketiganya berfungsi dengan baik di bawah bimbingan wahyu, seluruh energi kita akan tersalurkan ke arah yang positif. Dengan demikian, emosi dan ambisi tidak akan lagi merusak masa depan kita.
Bergerak Maju: Menjadi Versi Terbaik
Seiring berakhirnya ibadah ibadah Jumat siang itu, jemaah melangkah keluar meninggalkan selasar masjid dengan membawa refleksi mendalam di dada. Hidup pada akhirnya adalah rangkaian pilihan yang harus kita pertanggungjawabkan setiap harinya.
Melalui momentum ini, kita diajak untuk kembali berbenah dan mempraktikkan cara mengontrol emosi dan nafsu di kehidupan nyata. Menjinakkan tali kekang hawa nafsu dan mengendalikan ambisi hidup yang merusak adalah kunci utama meraih derajat kemuliaan sejati. Perubahan besar selalu dimulai dari keberanian kita untuk jujur melihat ke dalam cermin diri sendiri sekarang juga.