Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Sering Santai Saat Tinggalkan Ibadah? Waspada, Ini Peringatan Gejala Hati Mati!

24 Juli 2026, 21:03 WIB • 3 menit baca
Seseorang sedang menundukkan kepala dan memegang kepalanya dengan kedua tangan di atas kap kendaraan dalam suasana minim cahaya, mengilustrasikan rasa penyesalan mendalam dan kegelisahan batin sebagai gambaran evaluasi ciri hati sehat.
Visualisasi refleksi diri dan rasa penyesalan mendalam atas kekhilafan serta momentum ibadah yang terlewat, yang menjadi penanda utama mawas diri dan ciri hati sehat dalam naungan cahaya ilahi.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Tingkat kepedulian seseorang terhadap kesalahan serta ibadah yang terlewat menjadi cermin utama dari kondisi batin yang sebenarnya. Banyak orang masa kini merasa santai saja saat meninggalkan perintah agama, tetapi sangat risau ketika kehilangan urusan duniawi.

Padahal, rasa penyesalan mendalam atas dosa merupakan benteng utama keselamatan seorang muslim. Peringatan penting tersebut mengemuka dalam Khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa Bani Muslim Semarang pada Jumat (24/7/2026).

Khatib Jumat edisi tersebut, HM Budi Hidayat, M.Pd.I., menguraikan dua ciri hati sehat berdasarkan pandangan para ulama dan hadis Nabi Muhammad SAW. Mimbar ibadah pekanan ini mengajak jamaah mengoreksi kepekaan nurani di tengah godaan kesibukan duniawi.

Oleh karena itu, sosok yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah tersebut menegaskan bahwa hati yang hidup selalu merasakan sakit tatkala melanggar aturan Allah SWT. Kesedihan akibat kehilangan momentum ibadah menjadi pertanda utama terpancarnya cahaya ilahi dalam jiwa seseorang.

Aksi Ekstrem Umar bin Khattab

Sementara itu, penceramah ini menuturkan kisah teladan luar biasa dari Sahabat Nabi, Sayyidina Umar bin Khattab RA. Pimpinan kaum muslimin tersebut mendapati jamaah shalat Ashar telah usai saat dirinya baru kembali dari kebun kurma.

Sontak saja, rasa penyesalan luar biasa langsung melingkupi jiwa Sang Khalifah kedua tersebut. Dai ini menceritakan bagaimana Umar bin Khattab tanpa ragu menyedekahkan seluruh kebun kurma miliknya untuk kaum miskin sebagai bentuk kaffarat atau tebusan atas rasa bersalahnya.

“Syeikh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi menjelaskan bahwa tanda hidup dan terangnya hati karena cahaya Ilahi adalah kesedihanmu atas kesempatan ibadah yang terlewat dan penyesalanmu atas kesalahan yang engkau lakukan. Rasulullah SAW juga bersabda, barang siapa yang merasa senang oleh kebaikannya dan merasa sedih karena keburukannya, maka ia adalah orang yang beriman,” tegas Budi Hidayat mengutip deretan dalil di hadapan para jamaah.

Beda Sikap Orang Beriman dan Pelaku Maksiat

Di sisi lain, Pengasuh Mimbar Jumat Masjid At-Taqwa Bani Muslim ini membeberkan perbedaan mencolok antara orang beriman dan penikmat dosa. Seorang mukmin sejati memandang sekecil apa pun dosa bagaikan gunung besar yang siap meremukkan dirinya.

Maka dari itu, pelaku maksiat justru menganggap dosa sekadar lalat kecil yang hinggap di ujung hidung lalu mudah diusir begitu saja. Sikap meremehkan kesalahan inilah yang menandakan kondisi batin sedang sakit parah bahkan mati.

Guna menutup rangkaian nasihatnya, penceramah Semarang tersebut mengajak jamaah untuk segera bertaubat setiap kali melakukan kekhilafan. Kesungguhan memohon ampun menjadi jalan satu-satunya untuk memulihkan kesucian hati.

“Seorang mukmin ketika melihat dosa-dosanya adalah seperti ketika ia duduk di lereng sebuah gunung dan sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang selalu berbuat dosa menganggap remeh kesalahannya. Ingatlah, hati yang hidup adalah hati yang merasa sakit atas kemaksiatan,” pungkas HM Budi Hidayat, M.Pd.I. mengakhiri pesan khutbahnya.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: