Merangkul Damai Lewat Dakwah Komunitas Marjinal, Ketika Mantan Preman dan Geng Motor Pilih Bawa ‘Najam’ ketimbang ‘Sajam’
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Deru mesin motor yang memecah keheningan malam biasanya memicu rasa waswas di benak warga kota. Namun, di bawah asuhan para penggerak dakwah LDK Muhammadiyah, tangan-tangan yang biasa menggenggam senjata tajam itu kini perlahan melunak. Mereka mulai mengetuk pintu-pintu kemiskinan, bukan untuk memeras, melainkan mengantar sebungkus nasi hangat sebagai wujud nyata gerakan dakwah komunitas marjinal yang inklusif.
Suasana khusyuk seketika mencair saat nama-nama komunitas yang tak biasa disebut di atas panggung. Aula Lantai 5 MG Setos yang berlokasi di Jl. Inspeksi, Kembangsari, Kec. Semarang Tengah, siang itu mendadak riuh oleh tawa dan tepuk tangan ratusan perwakilan ormas. Di balik tawa tersebut, tersimpan sebuah manifesto sunyi tentang metode dakwah komunitas marjinal yang sedang digerakkan di Jawa Tengah.
Sinergi Ormas dan Kepolisian untuk Kondusivitas Digital
Tepat pada hari Kamis(21/05/26), aula tersebut menjadi saksi bisu pertemuan penting bertajuk “Penguatan Kapasitas Komunitas untuk Menciptakan Situasi Kondusif di Era Digitalisasi”. Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah sengaja memilih jalan sunyi ini. Mereka berkolaborasi dengan kepolisian untuk masuk ke ruang-ruang gelap yang selama ini dihindari oleh mimbar-mimbar agama arus utama. Penjajakan spiritual ini menyasar kelompok yang sering kali dipandang sebelah mata, mulai dari petinju, geng motor, hingga komunitas waria.
Militansi gerakan ini terpancar jelas dari antusiasme peserta yang hadir secara mandiri. Kedatangan mereka bahkan melampaui kapasitas ruangan yang disediakan hingga panitia sempat kekurangan kursi dan konsumsi. Ketua LDK PWM Jateng sekaligus Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB), AM. Jumai, menegaskan bahwa kehadiran ratusan perwakilan ini didasari oleh ketulusan komitmen bersama demi mengisi ruang sosial yang tidak terjangkau oleh pemerintah.
“Maka hari ini kita hadirkan betapa ormas ini menjadi subjek utama dalam menciptakan situasi kondusif Kamtibmas, sehingga informasi-informasi yang berseliweran itu harus memiliki literasi yang kuat sehingga tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” tegas AM. Jumai dalam sambutannya di hadapan ratusan pasang mata.
Langkah berani ini sejatinya bermula dari sebuah kegelisahan sosiologis yang mendalam. Banyak kelompok marjinal yang rindu beribadah, namun terbentur oleh dinding penolakan sosial. Perasaan gamang inilah yang kemudian coba dijembatani melalui pendekatan yang lebih inklusif dan merangkul.
“Komunitas waria ini susah disentuh. Karena di masjid saja dia sungkan mau jamaah. Di saf laki-laki bingung, jamaah di perempuan juga bingung karena waria,” ujar Hasan Asy’ari Ulama’i selaku Wakil Ketua PWM Jawa Tengah saat merefleksikan awal mula gerakan tersebut di hadapan jajaran Polda Jateng dan Wali Kota Semarang.
Oleh karena itu, melalui tangan dingin para penggerak dakwah LDK Muhammadiyah, sekat-sekat kecemasan itu perlahan runtuh. Mereka tidak datang dengan penghakiman, melainkan membawa ruang aman bagi siapa saja yang ingin bersujud. Pendekatan dakwah pun dibuat sehalus mungkin, atau dalam istilah lokal disebut lebih smart dan landai.
Merangkul yang Terpinggirkan dari Ring Tinju hingga Jalanan
Strategi dakwah ini tidak berhenti pada satu kelompok saja. Sayap-sayap merangkul kian melebar hingga menyentuh para petinju jalanan dan komunitas motor. Alih-alih menjauhi potensi konflik, para mubaligh justru mendekat untuk mengubah energi destruktif menjadi gerakan sosial yang produktif.
Gagasan ini pun mendapat dukungan penuh dari sederet tokoh nasional dan akademisi yang turut hadir, seperti Rektor Unimus Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd., Pembina LDK H. Agus Munawar Sodiq, S.H., serta Dir Siber Polda Jawa Tengah.
Eksperimen sosial ini bahkan memunculkan seloroh segar di tengah acara formal kepolisian yang berlangsung di kawasan Semarang Tengah tersebut. Harapannya, anak-anak muda jalanan dan geng motor kelak tidak lagi membawa senjata tajam (sajam). Mereka justru didorong untuk membawa paket makanan atau nasi ayam (najam) sebagai santunan sosial bagi warga miskin kota.
“Harapannya bisa bersosialisasi dengan masyarakat sekitar melalui dakwah yang lebih smart, lebih landai, dan membangun silaturahim yang baik,” tutur Hasan sembari tersenyum.
Langkah merangkul ini kian krusial di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap mengikis identitas budaya generasi muda. Media sosial kini menjadi medan tempur baru, di mana informasi palsu dan narasi kebencian diproduksi secara massal oleh segelintir kelompok terorganisasi. Tantangan moral inilah yang mendapat sorotan tajam dari pihak kepolisian.
Wakapolda Jateng, Brigjen Pol. Dr. Latif Usman, S.I.K., M.Hum., dalam pidatonya mengingatkan bahwa dalam statistik kependudukan, hanya ada sekitar 30 persen generasi tua yang saat ini mampu menjadi teladan hidup bagi anak muda. Oleh sebab itu, ia menitipkan beban moral ini kepada ormas-ormas yang hadir.
“Maka dari 30 persen tersebut yang saat ini tergabung dalam komunitas atau ormas ini perlu memberi contoh dan tauladan, norma sosial, dan kebenaran kepada generasi muda yang nantinya akan melanjutkan kehidupan berbangsa dan negara,” ujar Brigjen Pol. Latif Usman menegaskan peran vital keteladanan di era modern.
Membentengi Ruang Digital dari Serangan Hoaks
Sinergi antara aparat kepolisian dan organisasi masyarakat kemudian menemukan urgensinya di titik ini. Komunitas marjinal yang telah tercerahkan kini ikut dilibatkan sebagai agen perdamaian di dunia maya. Mereka mendapat pembekalan literasi digital yang kuat untuk memutus rantai penyebaran disinformasi.
Pertemuan di MG Setos ini sekaligus menjadi momentum deklarasi bersama untuk memerangi radikalisme di ruang siber. Fenomena pengucilan sosial kini berpindah ke layar gawai, di mana menjatuhkan martabat seseorang menjadi sangat mudah. Oleh karena itu, dakwah digital harus hadir sebagai penyeimbang yang menenangkan.
“Sekarang orang tidak lagi ngomong tidak suka dengan orang itu di hadapan, tetapi melalui media cukup gampang. Hanya dengan menggambarkan sisi negatif dari orang itu sudah cukup besar dampaknya,” pungkas Hasan menekankan pentingnya edukasi tentang cara menghadapi hoaks di medsos.
Melalui komitmen bersama ini, jaring-jaring kebaikan sengaja dirajut lebih lebar. Sinergi tanpa sekat ini diharapkan mampu menjaga stabilitas keamanan di Jawa Tengah. Gerakan ini membuktikan bahwa merangkul kelompok kecil dan marjinal justru menjadi kunci utama dalam merawat kedamaian yang besar.
Pada akhirnya, kedamaian sejati tidak lahir dari penegakan hukum yang kaku, melainkan dari hati yang bersedia merangkul tanpa menghakimi. Saat merangkul komunitas waria, petinju, hingga geng motor, gerakan dakwah LDK Muhammadiyah ini sedang mengirim pesan kuat ke ruang siber.
Bahwa jalan terbaik untuk meredam kebencian adalah dengan memperbanyak ruang penerimaan. Di tengah bisingnya layar gawai, teladan nyata dari dakwah komunitas marjinal inilah yang menjadi kompas penunjuk jalan, sekaligus cara paling anggun dalam menunjukkan cara menghadapi hoaks di medsos.