Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Detik-detik Wafatnya Rasulullah: “Jagalah Salat… Jagalah Salat!”

15 November 2025, 18:43 WIB 2 menit baca
Detik-detik Wafatnya Rasulullah: “Jagalah Salat… Jagalah Salat!”

SEMARANG, muhamamdiyahsemarangkota.org – Tidak banyak pemimpin yang di detik-detik menjelang wafat, masih memikirkan umatnya lebih daripada dirinya sendiri. Namun itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam khutbah Jumat yang dibawakan oleh Ustad Yayan (Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang) di Masjid Taqwa Al-Mukarromah PCM Gayamsari, (14/11/2025), jamaah diajak kembali menengok satu wasiat yang disampaikan Nabi pada saat-saat paling kritis dalam hidupnya wasiat tentang salat. Wasiat yang pendek, sederhana, tetapi mengguncang siapa pun yang mau merenunginya.

Tatapan Perpisahan yang Tidak Pernah Dilupakan

Khutbah dimulai dengan kisah yang jarang direnungkan, pagi hari Senin ketika Rasulullah membuka tirai kamarnya, menatap para sahabat yang sedang salat berjamaah, dan tersenyum-senyum terakhir sebelum beliau wafat.

Senyum lemah itu bukan sekadar salam perpisahan. Itu adalah kebahagiaan seorang nabi yang melihat umatnya teguh mendirikan salat, ibadah yang menjadi penyejuk hatinya sepanjang hidup.

Bagi para sahabat, momen itu seperti petir. Mereka hampir bubar dari saf karena haru melihat Rasulullah muncul di balik tirai dengan wajah pucat, tetapi tetap tersenyum. “Lanjutkan salat kalian,” begitu isyarat beliau, kata Ustad Yayan mengisahkan.

Kalimat tanpa suara itu menjadi pesan abadi dimana ibadah tidak boleh berhenti, bahkan ketika hati sedang patah.

Wasiat Singkat Mengandung Cinta Terbesar Rasulullah

Di antara banyak nasihat Rasulullah sepanjang hidupnya, wasiat yang paling sering beliau ulang menjelang wafat hanya dua: “Jagalah salat… jagalah salat.” Dan “Perhatikan hak-hak hamba sahaya kalian.”

Ustad Yayan menjelaskan bahwa pengulangan itu bukan kebetulan. Rasulullah meregang nyawa namun lisannya tidak berhenti mengulang pesan tentang salat seakan ingin memastikan bahwa generasi setelah beliau tidak tergelincir dari pilar utama agama ini.

Ironisnya, fakta mengatakan banyak umat Islam yang merayakan Isra’ Mi’raj setiap tahun, namun salat lima waktu masih ditinggalkan. Seakan kita lebih sibuk merayakan sejarah daripada menjalankan perintah yang sama-sama diperjuangkan Rasulullah pada malam itu. Padahal, jika wasiat terakhir seseorang saja kita hormati, apalagi ini wasiat pamungkas dari manusia paling mulia dalam sejarah.

Jika Rasulullah di akhir hayatnya masih memikirkan kita, bagaimana mungkin kita mengabaikan salat yang beliau jaga hingga tarikan napas terakhir? tanya Ustad Yayan secara retoris.

Salat bukan hanya ritual. Salat adalah warisan cinta. Warisan yang dulu membuat Rasulullah tersenyum di pagi terakhir hidupnya dan yang semestinya membuat kita menunduk malu sekaligus semangat untuk memperbaiki diri, pungkasnya.

Bagikan: