Esensi Puasa Ramadan: Mengapa Manajemen Jiwa Lebih Penting dari Menahan Lapar?
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengupas Esensi Puasa Ramadan, Prof. Suparman Syukur menjelaskan alasan Manajemen Jiwa menjadi fondasi utama dalam membangun piramida spiritual manusia.
Sosok yang menjabat sebagai Guru Besar di UIN Walisongo Semarang sekaligus pengasuh Pondok Darus Syukur tersebut menyampaikan pesan ini saat tausiyah di Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, Senin (09/03/26). Ia menekankan bahwa umat Islam harus menjadikan bulan suci sebagai momentum pembersihan batin, bukan sekadar ritual fisik semata.
Sering kali, banyak orang terjebak dalam siklus “tutup lubang gali lubang”. Mereka menghapus dosa selama Ramadan, namun segera mengulangi kesalahan serupa setelah Idulfitri berlalu. Padahal, ibadah puasa memiliki kekuatan besar untuk mengubah jalan hidup seseorang. Syaratnya, hamba tersebut harus mampu menyentuh aspek batiniah secara mendalam. Oleh karena itu, iman, Islam, dan takwa wajib menyatu agar puasa tidak menjadi penggugur kewajiban yang hampa.
Implementasi Al-Mulaamasah An-Nafsiyyah
Dalam kajian tersebut, Guru Besar di UIN Walisongo Semarang ini memperkenalkan konsep Al-Mulaamasah An-Nafsiyyah atau seni manajemen batin. Ia merujuk pada pemikiran inspiratif dalam Kitab Al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah karya Mahmud Syaltut. Melalui referensi tersebut, ia menjelaskan bahwa inti sejati puasa terletak pada kemampuan menahan diri secara batiniah.
“Puasa paling utama bukan sekadar menahan lapar dan haus. Intinya adalah bagaimana seseorang mengatur jiwanya,” ungkapnya. Ia juga memperingatkan bahwa tanpa Manajemen Jiwa yang baik, puasa berisiko berubah menjadi “diet massal” yang melelahkan fisik. Maka dari itu, program Detox Hati Ramadan sangat penting untuk menjaga kemurnian ibadah setiap individu.
Pilar Utama dalam Islam Berkemajuan
Guna mewujudkan visi Islam Berkemajuan, umat perlu menyelaraskan empat unsur penting dalam diri secara harmonis. Pertama, unsur Roh atau spirit berfungsi sebagai bahan bakar agar ibadah tidak terasa kosong. Selanjutnya, kekuatan Nafas atau jiwa berperan penting untuk mengendalikan keinginan negatif di tengah kesibukan. Di sisi lain, Qolb atau hati harus selalu terjaga agar tetap dekat dengan Allah SWT. Terakhir, Akal bertugas memandu ibadah dengan kecerdasan agar setiap orang memahami makna di balik perintah agama.
Keempat pilar tersebut merupakan Cara Mengelola Nafsu saat Puasa yang paling efektif menurut Prof. Suparman Syukur. Namun, ia menegaskan bahwa pengelolaan jiwa tidak lantas membuat seseorang menjadi pasif.
Sebaliknya, seorang pendidik atau pemimpin tetap harus menunjukkan ketegasan batin dalam aktivitas profesionalnya. Kemarahan yang terukur dan mendidik justru menjadi bentuk tanggung jawab yang selaras dengan nilai rohani.
Membangun Piramida Spiritual
Sebagai penutup, ia mengajak jamaah untuk mengubah cara pandang terhadap Ramadan tahun ini secara total. Ia berharap umat mampu membangun kualitas puasa layaknya sebuah piramida yang terus meningkat setiap tahun. Melalui keberhasilan mengelola nafsu dengan sinergi akal dan hati, perjalanan menuju kejernihan jiwa akan lebih mudah tercapai. Semoga setiap detik lapar dan haus yang kita lalui menjadi anak tangga yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baca juga :
Bakti pada Orang Tua, Cara Terbaik Mengetuk Pintu Surga di Bulan Suci
Amalan Jariyah Tak Terputus: Mencetak Anak Saleh Menjadi Tabungan Abadi