Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Fenomena Warung Tiban Makkah, Surga Kuliner Nusantara bagi Jemaah Haji Indonesia

16 Mei 2026, 20:50 WIB • 3 menit baca
Antrean petugas dan jemaah haji Indonesia 2026 saat membeli sarapan dan makanan di warung tiban trotoar Makkah.
Berbaur bersama jemaah: Seorang Petugas Haji Indonesia 2026 tampak ikut mengantre membeli kebutuhan makanan harian di sebuah warung tiban (pasar kaget) yang digelar pedagang lokal di kawasan trotoar pemondokan Makkah. (Foto: Moh. Masrur)

MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Pelaksanaan ibadah haji senantiasa menghadirkan cerita-cerita unik dari Tanah Suci. Salah satunya adalah maraknya warung tiban Makkah di sekitar area pemondokan. Pasar kaget dadakan ini menjadi oase tersendiri bagi jemaah haji Indonesia. Mereka kerap merindukan cita rasa asli masakan kampung halaman.

Warung tiban tidak sekadar menjadi tempat berburu kuliner Nusantara di Makkah. Tempat ini juga menjelma menjadi titik kumpul sosial yang hangat. Jemaah antar-kloter hingga jemaah dari berbagai negara Islam sering bertemu di sini.

Berikut adalah catatan ringan dari Moh. Masrur, tokoh Muhammadiyah Jawa Tengah. Ia juga menjabat Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Tergabung dalam rombongan jemaah haji Muhammadiyah kloter 28 SOC Semarang, beliau membagikan pengalaman langsungnya. Berikut tulisannya:


Warung Tiban di Musim Haji

Ada peribahasa “ada gula ada semut”. Ini adalah ungkapan yang pas utk menggambarkan maraknya “warung tiban” saat musim haji di Makkah. Istilah lainnya adalah “pasar kaget” atau warung yang muncul secara tiba-tiba.

Warga lokal memiliki kecerdasan enterpreneurship yg baik. Mereka melihat fenomena banyaknya jamaah haji Indonesia di sekitaran Masjidil Haram. Jamaah pasti rindu dan butuh belanja beragam kebutuhan ala Indonesia.

Di sisi lain, jamaah haji sendiri juga sangat terbantu. Mereka bisa belanja beragam keperluan sehari-hari di tanah suci dengan dekat. Ini sekaligus mengobati kebosanan sajiaan menu makanan hotel yg hanya begitu-gitu saja. Istilah bahasa Jawa-nya “tumbu entuk tutup”, alias klop.

Bagi jemaah haji kloter 28-SOC asal Semarang kebetulan mendapat pemondokan di sektor 402. Tepatnya di hotel Rose Almashair Raudhah. Lokasi untuk menemukan pasar tiban tidak begitu sulit. Tinggal ke luar hotel jalan-jalan 100 meter di sekitaran halte 6 atau sektor 403.

Di situ bisa belanja beragam kulineran dan jajanan Nusantara. Keunggulan kulineran warung tiban ini ada pada rasanya. Sajian menunya sangat khas dengan lidah jamaah haji Indonesia. Menu utamanya mulai dari nasi goreng, pecel, hingga sayur lodeh. Camilannya ada bergedel, pisang goreng, dan bakwan.

Kemudahan transaksi juga menjadi daya tarik sendiri bagi jamaaah haji. Banyak warung mau menerima pembayaran dgn menggunakan mata uang Rupiah. Istilah yg mereka munculkan adalah “uang Prabowo²”.

Berburu Logistik: Suasana antusias jemaah haji asal Indonesia saat berbelanja makanan dan kebutuhan harian di sebuah warung tiban (pasar kaget) yang digelar di bawah pohon pada kawasan trotoar pemondokan Makkah. (Foto: Moh. Masrur)

Harga yang dipatok pun juga terjangkau. Untuk satu paket lauk, mereka jual kisaran SAR 5-10 (1 SAR setara Rp 4.640, Red.). Biasanya jamaah Ibu-ibu kloter 28-SOC borong jajanan di pasar tiban. Mereka belanja sehabis jamaah Subuh. “Ngiras ngirus sambil olga (olahraga, Red.) pagi,” katanya.

Ketemu Jemaah Turki

Bagi bapak-bapak, warung tiban menjadi alternatif kulineran. Tempat ini juga sering menjadi ajang berkumpul dan bersosialisasi. Jemaah haji dari berbagai daerah di tanah air berkumpul di sini. Bahkan sering berjumpa dengan jemaah dari negeri-negeri muslim lainnya.

Penulis sendiri punya pengalaman unik sembari nunggu istri belanja. Saya sempat kenalan dengan jemaah haji asal Turki. Kebetulan dia tidak bisa bahasa Arab atau Inggris. Kemudian via HP dia translate pertanyaan dari bahasa Turki. Teks bahasa Inggris-nya lalu ditunjukkan ke saya untuk dijawab.

Dia tanya, “Anda bekerja sebagai apa di Indonesia?” Saya jawab: lecturer. Terus dia tanya lagi soal pendapatan. “Berapa salary Anda setiap bulan bila dikurskan dolar?”

Saya jawab hanya kisaran $1000. Dia langsung menggelengkan kepala. Kata dia, di Turki gaji dosen per bulan kisaran $4000-5000. Saya langsung jawab: “Wow, we are largest moslem in the world but poor country, Sir…”

Kontributor: Moh. Masrur
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: