Hadapi Era 5.0, Guru Muhammadiyah Didorong ‘Lari’ Kejar Ketertinggalan Teknologi dari Siswa
SEMARANG SELATAN,muhammadiyahsemarangkota.org – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan era Society 5.0 membawa tantangan ganda bagi dunia pendidikan. Siswa kini mampu berlari lebih cepat dalam penguasaan teknologi dibandingkan gurunya, namun mesin tetap tak mampu menggantikan kehadiran pendidik dalam menyentuh aspek emosional dan spiritual.
Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kota Semarang mengangkat isu krusial ini dalam seminar pendidikan bertajuk “Transformasi Pendidikan Abad 21” di Gedung GKB 3 Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Rabu (26/11/2025). Melalui acara yang bertepatan dengan momentum Hari Guru Nasional ini, FGM menekankan pentingnya Deep Learning (pembelajaran mendalam) untuk mewujudkan guru yang mencerahkan.
Acara seminar Hari Guru Nasional ini diikuti oleh ratusan guru Muhammadiyah yang tergabung dalam FGM Kota Semarang. Turut memberikan sambutan Wakil Ketua PDM Kota Semarang Dr. Bunyamin yang sekaligus membuka kegiatan.
Ketua Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal (PNF) PDM Kota Semarang, Sutarto, menegaskan bahwa secanggih apapun teknologi di era 5.0, algoritma tidak akan bisa mensubstitusi peran guru sebagai pendidik karakter.
“Teknologi itu adalah alat, guru tidak bisa digantikan dengan alat. Karena alat itu tidak punya rasa, sedangkan pendidikan itu harus menyentuh hati,” ujar Sutarto di sela-sela acara.
Antisipasi Jebakan Teknologi
Sutarto menyoroti fenomena kecepatan adaptasi siswa terhadap teknologi baru yang seringkali melampaui tenaga pengajar. Ia mencontohkan kemampuan AI saat ini yang mampu memvisualisasikan hal-hal mustahil, seperti rekayasa visual tokoh sejarah, yang tanpa pendampingan guru, berpotensi mendistorsi pemahaman anak.
“Kemarin saya melihat seorang pemuda dengan AI bisa melewati lorong-lorong sehingga seolah-olah hidup bersama Nabi Musa. Itu kan kita masih jauh, tapi anak-anak bisa itu. Kalau kita tidak waspada, itu bisa menjebak anak-anak kita karena semua bisa disulap,” jelasnya.
Oleh karena itu, FGM mendorong guru agar tidak “gagap” teknologi. Melalui seminar ini, FGM memotivasi para pendidik untuk menguasai kompetensi teknis agar mampu membimbing siswa yang berlari lebih cepat, sekaligus menanamkan akhlak agar siswa tidak menyalahgunakan teknologi.
Strategi Tiga Pilar
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Ketua FGM Kota Semarang, Suryotomo, menjelaskan bahwa pihaknya memfokuskan transformasi guru Muhammadiyah pada penguasaan materi yang aplikatif. Panitia menghadirkan tiga narasumber kunci: Ibu Eni yang mengulas aplikasi monitoring, Bapak Munsharif mengenai Coding dan AI, serta Pengawas Kota Semarang, Sri Sarmini, yang membedah pendekatan Deep Learning.
“Harapan kami guru menjadi lebih baik lagi dalam bahan mengajar, lebih profesional. Sehingga anak-anak menjadi lebih hebat karena diajar oleh para guru Muhammadiyah yang hebat menuju abad ke-21 ini,” kata Suryotomo.
Ia berharap output kegiatan ini mampu mencetak guru yang mengajar lebih bermutu menggunakan aplikasi digital maupun pendekatan pembelajaran mendalam, yang berujung pada peningkatan kualitas siswa di sekolah masing-masing.
Diseminasi Ilmu Antar Jenjang
Sebagai upaya konkret agar materi seminar tidak berhenti sebagai wacana, FGM Kota Semarang telah merancang langkah strategis. Sutarto menyebutkan, pihaknya akan menggelar tindak lanjut berupa workshop atau klub belajar untuk mendiseminasikan ilmu teknis kepada guru-guru yang belum mengikuti pelatihan.
“FGM punya tugas memacu (guru) yang kemarin sudah diklat di Solo untuk secara teknis mendesiminasikan kepada guru-guru yang ada di kota Semarang. Nanti bisa silang antar jenjang,” pungkas Sutarto.
Baca juga : Surat Cinta Guru Muhammadiyah: “Di Bawah Matahari yang Terbit, Kami Menitip Harap”