Prof. Abdul Mu’ti hadiri Halalbihalal FOKAL IMM Jateng: Kader Jangan Jago Kandang!
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Suasana Halalbihalal FOKAL IMM Jateng mendadak riuh saat Prof. Abdul Mu’ti mengajak para alumni dan kader untuk berani menembus batas dan tidak hanya bermain di zona nyaman.
Di hadapan ratusan pasang mata yang memadati Aula GKB 2 Universitas Muhammadiyah Semarang pada Sabtu (04/04/26), sosok yang kini menjabat sebagai Mendikdasmen RI ini menekankan pentingnya mentalitas petarung di kancah nasional.
Menembus Sekat dan Peran Publik
Menurutnya, kematangan seorang kader lahir dari perjalanan panjang, bukan hasil instan. Prof. Abdul Mu’ti menceritakan kembali memorinya saat merintis karier dari level komisariat hingga mencapai pucuk pimpinan di tingkat pusat. Pengalaman itulah yang membentuk karakter inklusifnya sehingga ia sering diundang mengisi kajian di berbagai lintas partai politik.
“Jadi kader Muhammadiyah itu jangan jago kandang. Kita harus bisa berkiprah di mana pun. Netralitas organisasi adalah modal besar untuk masuk ke semua lini,” tegas pria yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah tersebut.
Lebih lanjut, ia menyoroti peran Kader Muhammadiyah Politik. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya tampak dari jabatan yang mentereng. Sebaliknya, kualitas seorang pemimpin terlihat dari kemampuannya memberikan pelayanan yang adil kepada sesama tanpa memandang latar belakang saat menjadi pemangku kebijakan.
Transformasi Digital dan Tantangan Zaman
Namun, tantangan masa depan bukan hanya soal posisi politik. Ketua DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, membawa perspektif tajam mengenai fenomena disrupsi ideologi. Ia mengamati bahwa derasnya arus informasi menuntut organisasi untuk segera meninggalkan cara-cara konvensional yang mulai usang.
Oleh karena itu, Digitalisasi Perkaderan Muhammadiyah menjadi agenda mendesak yang harus segera diwujudkan. Nia menjelaskan bahwa transformasi ini bukan sekadar mengganti kertas dengan dokumen digital, melainkan membangun sistem yang inklusif dan mudah diakses oleh seluruh kader di berbagai daerah.
“Kita perlu menghadirkan metode yang segar dan relevan. Melalui Digitalisasi Perkaderan Muhammadiyah, kita memastikan kader memiliki daya saing tinggi untuk berkompetisi dengan organisasi lainnya,” ungkap Nia dengan penuh optimisme.
Warisan Ketangguhan dan Aksi Nyata
Sebagai penutup, acara Halalbihalal FOKAL IMM Jateng ini menyelipkan pesan historis mengenai ketangguhan badan hukum Muhammadiyah. Dahulu, para pimpinan berjuang keras agar organisasi ini diakui secara hukum nasional meskipun berakar dari aturan era kolonial.
Semangat juang tersebut menjadi cerminan bagi para alumni dan kader masa kini. Prof. Abdul Mu’ti berpesan agar para kader berhenti terlalu banyak berkampanye dengan kata-kata. “Tunjukkan saja melalui aksi nyata. Ketika kita bermanfaat bagi masyarakat luas, maka marwah organisasi akan terangkat dengan sendirinya,” pungkasnya.
Baca Juga :
Megah dan Digital! Peresmian TK ABA 31 Ngaliyan Jadi Barometer Pendidikan Usia Dini Semarang