Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ini Definisi Orang Cerdas dalam Wasiat Nabi Muhammad SAW

27 November 2025, 21:22 WIB • 3 menit baca
Ini Definisi Orang Cerdas dalam Wasiat Nabi Muhammad SAW

SEMARANG TENGAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Masyarakat sering kali mengukur kecerdasan seseorang hanya berdasarkan deretan gelar akademik atau tumpukan harta. Namun, wasiat Nabi Muhammad SAW mendobrak standar tersebut dan menyadarkan kita bahwa kecerdasan sejati justru berkaitan erat dengan seberapa jauh seseorang memandang masa depan, yakni kehidupan abadi setelah kematian.

Hal ini menjadi benang merah yang mengemuka dalam kajian rutin yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sekayu di rumah bapak Sri Widodo Sekayu Semarang Tengah, pada Jumat (21/11/25). 

Pesan tersebut menjadi pengingat keras bagi jamaah yang hadir untuk menata ulang orientasi hidup mereka.

Menghitung Diri Sebagai Tanda Kecerdasan Paripurna

Riwayat sejarah mencatat momen paling emosional saat Nabi Muhammad SAW berada di ujung usianya. Ketika sakit beliau semakin berat, Rasulullah menyingkap tirai kamar dan mengintip para sahabat yang tengah khusyuk mendirikan shalat Subuh berjamaah. Pemandangan ini menyejukkan hati beliau, sekaligus menegaskan bahwa shalat merupakan warisan agung yang tak boleh umatnya tawar.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa kematian menjadi satu-satunya kepastian masa depan, namun waktu kedatangannya tetap menjadi misteri. Ketidaktahuan ini justru menjadi rahmat agar manusia tidak mendadak alim hanya saat mendekati ajal. Di sinilah letak kecerdasan sesungguhnya. 

Pemateri mengutip sabda Nabi yang menyebut bahwa orang cerdas adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsu dan aktif beramal untuk kehidupan setelah mati.

“Orang cerdas senantiasa ‘menghitung diri’ atau bermuhasabah. Mereka merancang strategi jangka panjang, menjaga husnuzan kepada Allah SWT, dan memastikan kening rutin bersujud sebagai bekal perjalanan terjauhnya,” tegas sang pendakwah di hadapan para jamaah.

Membangun Karakter Anak Lewat Disiplin Shalat

Tak hanya menyoal diri sendiri, pembahasan dalam kajian ini juga menyoroti wasiat Nabi Muhammad SAW terkait pola asuh orang tua dalam mencetak generasi tangguh. 

Nabi memberikan panduan teknis yang logis: orang tua wajib mengajarkan anak shalat sejak usia 7 tahun, dan menerapkan disiplin tegas berupa pukulan yang mendidik jika anak meninggalkannya saat menginjak usia 10 tahun.

Pendidikan sejak dini ini sangat krusial karena shalat berfungsi sebagai fondasi karakter. Ketika seorang anak terbiasa berkomunikasi dengan Penciptanya, ia secara otomatis akan membangun “rem pakem” dalam dirinya. Hal ini menjadikannya pribadi yang berintegritas dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat dalam menjalani kehidupan.

Mengambil Peran Aktif Mencegah Kemungkaran

Wasiat Nabi juga menuntut umat Islam untuk tidak pasif terhadap kondisi lingkungan. Hidup bukan hanya tentang kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. 

Nabi memerintahkan umatnya untuk mengambil tindakan nyata saat melihat kemungkaran melalui tiga tingkatan aksi: mengubahnya dengan kekuasaan (tangan), menegur dengan lisan, atau setidaknya membenci perbuatan tersebut dalam hati sebagai selemah-lemahnya iman.

“Jangan sampai kita diam saat melihat keburukan, karena diamnya orang baik memberi peluang bagi kejahatan untuk merajalela,” tambah sang mubaligh menutup sesi tersebut.

Pada akhirnya, kajian ini mengajak kita menjadi visioner sejati. Mengingat kematian bukanlah untuk menebar ketakutan, melainkan memacu kita untuk merancang kebahagiaan yang tidak hanya berlaku hari ini, tetapi kekal selamanya.

Baca juga : Masihkah Relevan “Diam Tanda Setuju” dalam Pernikahan?

Kontributor: Tim Media PRM Sekayu
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: