Inilah 90 Perempuan Lintas Agama Penjaga Moderasi, Aktivis Aisyiyah Semarang Salah satunya
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Ada momen ketika ruang sederhana berubah menjadi tempat lahirnya harapan baru.
Jumat siang (5/12/2025), Aula MA Al-Asror Gunungpati dipenuhi energi yang berbeda suasana hangat, penuh kesadaran, dan tekad yang sama perempuan harus jadi garda depan penjaga kerukunan. Forum Perempuan Lintas Agama (FORPELA) bersama Fatayat NU Kota Semarang mengumpulkan 90 peserta lintas agama untuk satu tujuan yang sangat penting membangun kemampuan deteksi dini dan pencegahan konflik sosial di kota yang ragam perbedaannya begitu kaya.
Dalam perhelatan ini, perwakilan ‘Aisyiyah ikut hadir dan terlibat aktif. Ketua PDA Kota Semarang, Aminah Kurniasih, S.Pd., M.Pd., datang bersama Widyastuti Renaningsih serta jajaran PDA lainnya, menunjukkan bahwa perempuan Muhammadiyah juga berdiri kuat dalam barisan penjaga perdamaian.
Perempuan Jadi Penjaga Moderasi
Pelatihan yang berjalan sejak pukul 12.30 WIB tersebut dibuka dengan khidmat, lalu dilanjutkan menyanyikan Indonesia Raya penanda bahwa kebersamaan adalah fondasi dari kerja besar ini.
Ketua Fatayat NU Kota Semarang, Istigfaroh Mamnuhin, M.Pd., dan Ketua FORPELA Kota Semarang, Prof. Dr. Hj. Arikhah, M.Ag., menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai pelopor ruang damai.
Nada serupa juga disampaikan Ketua FKUB Kota Semarang, Drs. KH. N. Mustam Aji, MM, yang mengingatkan bahwa harmoni tidak datang dengan sendirinya, tetapi perlu dijaga bersama.
“Perempuan harus berani berada di depan, karena konflik seringkali bisa dicegah sejak dini melalui kepekaan dan cara kita membaca tanda-tandanya,” ujar salah satu pemateri.
Dari Perbedaan Menuju Persatuan
Pelatihan ini menegaskan bahwa perdamaian Indonesia tidak dibangun dari slogan, tetapi dari tindakan konkret
melindungi hak minoritas, memastikan keamanan beribadah, dan memperluas ruang dialog antarumat beragama.