Bikin Elus Dada! Inilah Sederet Drama Pembangkangan Bani Israil yang Menyesatkan
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Pernahkah Anda merasa sudah memberikan bantuan terbaik namun justru mendapatkan perlawanan dari orang yang dibantu? Pahitnya pengalaman inilah yang mewarnai perjalanan dakwah Nabi Musa AS ribuan tahun silam. Suasana pengajian Ahad Pagi di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang pada Ahad (18/01/2026) mendadak penuh perenungan saat Dr Zuhad Masduki, M.Ag membedah secara mendalam kisah pembangkangan Bani Israil.
Akademisi ini menjelaskan bahwa perilaku kaum tersebut bukan sekadar ketidakpatuhan biasa, melainkan bentuk keangkuhan yang berulang kali menyakiti hati sang utusan. Oleh karena itu, kajian ini hadir bukan hanya sebagai pengingat sejarah, tetapi sebagai peringatan agar kita tidak meniru sifat keras kepala yang bisa menjauhkan diri dari petunjuk Tuhan.
Drama Makanan Hingga Permintaan Tuhan yang Aneh
Selanjutnya, Dr Zuhad Masduki menceritakan betapa Bani Israil tidak pernah puas dengan nikmat yang sudah ada di depan mata.
Meskipun Tuhan telah menurunkan makanan surgawi berupa mann dan salwa, mereka justru meminta makanan rendah seperti bawang dan kacang adas hanya karena rasa bosan.
Bahkan, sosok pembicara ini menyoroti bagaimana keangkuhan menutupi rasa syukur mereka terhadap mukjizat yang nyata.
Kisah semakin miris saat kaum ini justru meminta Nabi Musa AS membuatkan sebuah patung berhala untuk disembah setelah mereka melihat kaum lain melakukannya.
Padahal, mereka baru saja menyaksikan laut terbelah demi menyelamatkan nyawa mereka dari kejaran Firaun. “Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui,” ucap Nabi Musa AS dengan nada mencela kala itu.
Maka dari itu, ketidaktahuan dan kebodohan sering kali menjadi akar dari setiap pembangkangan.
Tawar-menawar Sapi Betina yang Berujung Sial
Selain itu, ada peristiwa legendaris mengenai perintah menyembelih sapi betina yang menggambarkan betapa berbelit-belitnya logika Bani Israil.
Saat terjadi pembunuhan misterius, Tuhan memerintahkan mereka menyembelih sapi sebagai kunci pengungkapan kasus tersebut.
Namun, mereka justru menganggap perintah itu sebagai ejekan dan memberikan banyak pertanyaan teknis yang mempersulit diri sendiri.
Pertanyaan mengenai warna, umur, hingga hakikat sapi itu membuat mereka hampir gagal melaksanakan perintah.
Kemudian, pakar kajian Islam ini menekankan bahwa sikap terlalu banyak bertanya dan keras kepala hanya akan membawa kesulitan bagi pelakunya. Dampaknya, Tuhan menetapkan syarat yang semakin sulit karena ulah mereka sendiri.
Terasing 40 Tahun Akibat Ketakutan yang Tak Berdasar
Akhirnya, puncak dari pembangkangan Bani Israil terjadi saat mereka menolak perintah masuk ke Tanah Suci (Palestina) karena takut kepada musuh yang perkasa.
Mereka bahkan dengan berani berkata kepada Nabi Musa AS, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini”. Ucapan lancang ini menunjukkan hilangnya rasa hormat kepada utusan Allah.
Ternyata, setiap tindakan ada konsekuensinya. Tuhan pun mengharamkan negeri itu bagi mereka selama empat puluh tahun, hingga mereka harus berputar-putar dalam kebingungan di padang pasir.
Penulis sejarah ini menutup kajian dengan refleksi bahwa ketaatan tanpa syarat kepada perintah kebaikan adalah kunci keselamatan. Jangan sampai keangkuhan membuat kita tersesat tanpa arah seperti kaum masa lalu tersebut.