Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mandiri secara Ekonomi, Muhammadiyah Semarang Inisiasi Pembangunan Pabrik Air Minum

25 April 2026, 19:34 WIB • 3 menit baca
Foto suasana sosialisasi di dalam sebuah aula dengan dinding berwarna hijau muda. Di depan ruangan, seorang pria mengenakan kemeja merah marun sedang berdiri memberikan presentasi di samping layar proyektor yang menampilkan teks "TARGET USAHA". Di sebelah kanannya, terdapat empat orang pria duduk di balik meja panjang yang ditutupi kain biru tua, dengan bendera Merah Putih berdiri tegak di belakang mereka. Peserta rapat terlihat duduk di bangku kayu di bagian depan, menyimak paparan materi.
PILAR EKONOMI: Koordinator Tim, AM. Jumai, S.E., M.M. (berdiri), saat memaparkan skema bisnis dan investasi kolektif untuk pendirian pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) milik PDM Kota Semarang di Aula Gedung PDM, Sabtu (25/4/2026). Program ini mengusung konsep "Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita" guna memutus ketergantungan donasi dan memperkuat kemandirian dakwah di tingkat akar rumput

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang resmi menginisiasi pendirian unit bisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) melalui Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM). Agenda sosialisasi ini dilaksanakan pada Sabtu (25/4/2026) bertempat di aula lantai 5 gedung PDM Kota Semarang.

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Pimpinan Pleno PDM Kota Semarang serta perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kota Semarang. Langkah ini diambil sebagai respon atas tingginya ketergantungan kegiatan dakwah di tingkat akar rumput terhadap donasi jamaah.

Koordinator Tim, AM. Jumai, S.E., M.M., menegaskan bahwa Muhammadiyah berkomitmen untuk beralih dari konsumen menjadi produsen. Proyek ini melibatkan skema kepemilikan saham sebesar 60% bagi organisasi dan 40% bagi warga persyarikatan sebagai wujud investasi kolektif.

“Kebutuhan air di Muhammadiyah Semarang sangat tinggi. Kita ingin pilar keempat, yaitu ekonomi dan industrialisasi, benar-benar dikembangkan agar jamaah punya produk dan brand sendiri,” ujar AM. Jumai.

Pembuatan pabrik air minum Muhammadiyah Semarang ini pertama kali diinisiasi oleh H. Mustain, Ketua PRM Bringin. Dengan tekad yang bulat, ia mulai merajut jejaring, mencari alat produksi, hingga menelusuri sumber mata air terbaik di Gunungpati. PDM lalu merespon inisiatif ini dan dan memutuskan pembuatan BUMM (Badan Usaha Milik Muhammadiyah) untuk operasionalnya.

Dalam pelaksanaannya, Mustain didampingi Supadi (PRM Kalipancur) dalam hal sarana prasarana dan distribusi serta Hardi (PCM Ngaliyan) di bidang perizinan sekaligus kelembagaan. Sementara Mustain sendiri bertanggung jawab dalam hal produksi air minum yang merupakan spesifikasi khusus keahliannya.

Putus Ketergantungan Produk Luar

Mustain menjelaskan bahwa selama ini lembaga maupun jamaah belum memiliki produk yang dikelola bersama. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada produk luar sangat tinggi, padahal potensi produksi mandiri sangat memungkinkan.

“Harapannya, melalui konsep ‘Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita’, usaha ini menghasilkan pendapatan bagi PCM, PRM, dan AUM sebagai sumber pembiayaan dakwah,” ungkap Mustain yang juga merupakan Ketua PRM Bringin itu.

Selain itu, tingginya antusiasme jamaah terhadap produk berlabel “Muhammadiyah” menjadi modal utama. Produk ini diproyeksikan tidak hanya berhenti di Semarang, tetapi akan diangkat ke tingkat Jawa Tengah sebagai model pengembangan ekonomi jamaah yang mandiri.

Dukungan Penuh PDM Kota Semarang

Ketua PDM Kota Semarang, Dr. Fachrur Rozi, M.Ag., menyatakan dukungan penuh terhadap realisasi pabrik air minum tersebut. Menurutnya, penetrasi ke sektor kebutuhan harian merupakan langkah logis untuk menciptakan jaringan ekonomi umat yang kuat.

“PDM mendukung upaya ini karena air merupakan kebutuhan harian warga. Mudah-mudahan ikhtiar untuk memiliki usaha sendiri segera tercapai demi kemandirian dakwah,” tutur Fachrur Rozi.

Dukungan kolektif dari seluruh pimpinan cabang menjadi sinyal kuat bahwa proyek ini segera dieksekusi. Alhasil, kemandirian ekonomi ini diharapkan mampu memutus rantai ketergantungan dana donasi dan memperkuat daya saing persyarikatan.

Baca Juga :

Mata Air Kegelisahan H. Mustain, Mewujudkan Hadirnya Air Minum Muhammadiyah Semarang

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: