Inovasi Dakwah Tanpa Sekat: Saat Supra Lawas Satukan Warga
PEDURUNGAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Inovasi dakwah kini hadir dalam bentuk yang lebih segar dan tidak kaku. Di Semarang, sekelompok jemaah memelopori dakwah kultural milenial melalui komunitas motor bernama Mata Suci. Gerakan inklusif ini bermula dari pelataran Masjid At-Taqwa Pedurungan untuk merangkul warga sekitar. Sebagai hasilnya, pendekatan santai ini sukses mewujudkan iklim toleransi beragama di tengah masyarakat majemuk.
Menyegarkan Jasmani Melalui Dakwah Kultural Milenial
Puncak kegiatan terbaru komunitas ini berlangsung pada Ahad, 28 Juni 2026. Saat itu, puluhan jemaah laki-laki berkumpul sejak pagi di halaman Stasiun Alastua, Semarang. Mereka datang bersama-sama untuk melaksanakan senam kebugaran secara serentak.
Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Pedurungan, Dr. H. Umar Ma’ruf, S.H., Sp.N., M.Hum., membenarkan hal tersebut. “Kami ingin menghindari kejenuhan dari rutinitas pengajian forum yang biasa-biasa saja,” ujar Umar secara langsung. Oleh karena itu, ia berharap para jemaah bisa mentafakuri alam sekaligus belajar nilai kehidupan.
Usai senam Mahatma, rombongan langsung meneruskan perjalanan wisata. Mereka menumpang moda transportasi kereta api menuju kawasan Ngrombo. Tujuannya, mereka ingin menikmati sajian kuliner lokal berupa pecel gambringan bersama-sama. Kegiatan lintas kota ini perlahan menjadi alternatif hiburan yang sangat positif bagi jemaah. Akibatnya, antusiasme peserta selalu melonjak pesat.
Tentu saja, komunitas ini tidak sekadar mengejar kesenangan jasmani belaka. Sebaliknya, mereka terus berupaya menanamkan nilai-nilai spiritual ke dalam rute perjalanan. Selain itu, panitia sengaja merancang struktur organisasi komunitas agar selalu tampil fleksibel. Mereka murni hanya menunjuk ketua, sekretaris, dan bendahara. Langkah taktis ini memastikan pergerakan komunitas selalu lincah.
Perjalanan Merajut Toleransi Beragama
Daya tarik utama komunitas Mata Suci justru bersumber dari sifatnya yang sangat inklusif. Bahkan, warga di luar organisasi keagamaan bebas bergabung dalam setiap agenda perjalanan. “Keterlibatan pihak luar justru menjadi bukti nyata keberhasilan syiar Islam,” tambah Umar merespons antusiasme warga sekitar. Lebih lanjut, ia bertekad merangkul masyarakat luas.
Pendekatan kultural ini terbukti ampuh meruntuhkan batasan eksklusivitas kelompok keagamaan. Dengan demikian, semangat toleransi beragama tumbuh semakin erat melalui interaksi santai selama berkendara. Selanjutnya, komunitas ini rutin mengunggah dokumentasi kegiatan ke berbagai platform media sosial. Strategi digital ini bertujuan kuat memikat minat masyarakat luas.
Visi Sosial Inovasi Dakwah di Masa Depan
Rencana agenda komunitas motor lawas ini terus berkembang dengan sangat pesat. Saat ini, mereka tengah membidik destinasi baru seperti Kali Kesek dan Bandungan. Rencananya, lokasi pegunungan tersebut akan menjadi tujuan touring berikutnya. Namun, misi utama komunitas ini perlahan akan bergeser ke arah kepedulian sosial.
“Ke depannya, konvoi motor Supra ini tidak hanya berfokus pada kesenangan batin semata,” tegas Umar memaparkan visi komunitas. Sebaliknya, panitia siap mengarahkan kegiatan untuk agenda sosial kemanusiaan. Sebagai contoh, mereka berencana menyalurkan bantuan langsung kepada kaum duafa di berbagai pelosok daerah.
Melalui serangkaian agenda tersebut, inovasi dakwah ini memancarkan efektivitasnya secara langsung di lapangan. Kini, pesan-pesan kebaikan mengalir lancar ke masyarakat luas tanpa membutuhkan mimbar megah. Pada akhirnya, para jemaah berhasil menjahit ikatan persaudaraan dengan cara yang sangat asyik. Mereka terus melaju menyusuri jalanan sembari menebar manfaat nyata.